Senin, 22 Desember 2014 03:06

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Fobia Sosial yang Menghambat Karier

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Kamis, 13 September 2012 | 08:56 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi presentasi

KOMPAS.com - Sudah beberapa tahun ini Anton tidak pernah mengalami kenaikan dalam jenjang kariernya. Walaupun sudah termasuk staf lama di perusahaanya bekerja, kenaikan jabatannya tidak terlalu berarti dari sejak dia mengabdi di perusahaan. Kenaikan jabatan malah lebih sering dialami oleh staf-staf muda yang baru saja menapaki karier di perusahaan tempatnya bekerja.

Usut punya usut hal ini disebabkan karena Anton kesulitan dalam menjalankan tugas-tugas yang mengharuskannya tampil di hadapan umum. Dia seringkali menolak tugas-tugas yang mengharuskannya untuk berada pada posisi diperhatikan orang lain. Dia juga kesulitan jika memimpin rapat untuk staf-staf di bawah manajemennya. Akhirnya Anton lebih banyak bekerja di belakang meja daripada harus presentasi atau bertemu dengan banyak orang. Inilah yang menghambat kariernya untuk bisa maju.

Takut Dinilai

Apa yang dialami Anton cukup banyak terjadi di masyarakat kita. Dunia medis mengenalnya dengan istilah fobia sosial. Fobia sosial termasuk dalam payung diagnosis Gangguan Kecemasan.

Ciri khas yang dialami oleh semua gangguan kecemasan adalah timbulnya gejala-gejala saraf otonom pada pasien yang mengalami kondisi kecemasan itu. Gejala yang timbul misalnya jantung berdebar, sesak napas, keluar keringat dingin, mual, kesemutan, serta perasaan takut yang tidak jelas.

Sedangkan ciri spesifik untuk fobia sosial adalah kecemasan bahwa dirinya akan dinilai atau diperhatikan oleh sekitarnya. Ada kalanya juga ini terkait dengan status sosial di lingkungan tempat dia bekerja, misalnya kecemasan jika harus berbicara dengan pimpinan atau orang yang lebih senior daripada pasien.

Pikiran tidak rasional ini datang tanpa bisa dikendalikan, sehingga membuat orang yang mengalami fobia sosial lebih cenderung menghindari situasi-situasi yang membuatnya mengalami kecemasan seperti itu. Tidak heran biasanya pasien yang mengalami fobia sosial akan takut mennjadi pusat perhatian atau berhadapan dengan orang yang dianggapnya lebih senior.

Terkait trauma masa lalu

Hasil wawancara yang saya lakukan dengan beberapa pasien yang mengalami fobia sosial yang datang berobat menyimpulkan kebanyakan dari mereka pernah mengalami peristiwa traumatik yang memalukan di masa lampau. Salah seorang pasien mengatakan dia pernah dipermalukan di depan kelas saat masih sekolah menengah pertama.

Ada juga yang mengatakan pernah dihukum di depan kelas sehingga membuatnya ditertawakan oleh teman-temannya dan selama beberapa bulan menjadi bulan-bulanan dan bahan ledekan teman-teman sekelas.

Terlihat bahwa ada hubungan antara kondisi di masa lampau dengan apa yang terjadi pada pasien saat ini berkaitan dengan kecemasannya berada pada posisi menjadi pusat perhatian.

Bisa disembuhkan

Salah satu cara yang paling dianggap efektif dalam mengatasi kondisi fobia sosial adalah proses pembiasaan atau habituasi. Proses ini melibatkan kemampuan terapis untuk bisa memberikan dukungan kepada pasien untuk mampu melewati tahap demi tahap kecemasan fobianya terkait dengan suatu peristiwa atau kondisi tertentu.

Awalnya pasien akan diajak oleh terapisnya untuk membayangkan kondisi atau hal-hal yang berkaitan dengan fobia sosialnya. Pada pasien yang sudah parah fobianya, keadaan membayangkan kondisi saja bisa sangat begitu menakutkan sehingga membuat gejala-gejala otonom seperti jantung berdebar, sesak napas dan perasaan tidak enak di perut timbul.

Pembiasaan ini akan berlangsung terus menerus tahap demi tahap baik saat bersama terapis ataupun nantinya dengan upaya pasien sendiri. Setelah dengan proses pembayangan itu maka langkah selanjutnya bisa dengan membuat pasien berada dalam kondisi tersebut secara nyata dengan pendampingan. Pendampingan bisa dilakukan oleh teman atau kerabat yang dipercaya oleh pasien atau dengan terapisnya sendiri jika memungkinkan. Hal ini untuk menghadapkan pasien pada kondisi nyatanya. Tentunya perlu tetap waspada akan serangan kecemasan akut yang bisa timbul saat pasien dihadapkan pada kondisi tersebut.

Dalam banyak kepustakaan, obat-obatan bisa membantu pasien untuk mengurangi kecemasannya saat berhadapan dengan kondisi yang menimbulkan fobia sosialnya. Obat antidepresan golongan sertraline telah terbukti secara penelitian mampu membantu orang-orang dengan fobia sosial. Beberapa dokter juga sering meresepkan obat golongan beta bloker untuk mengurangi denyut jantung yang berlebihan saat pasien berada dalam kondisi yang membuatnya cemas.

Penanganan yang tepat sangat diperlukan dalam mengatatasi masalah fobia sosial karena dampaknya yang berkaitan dengan kualitas hidup pasien. Dengan teknik dan dukungan kedua belah pihak maka fobia sosial bisa disembuhkan dan pasien bisa beraktivitas kembali dengan baik.

Salam Sehat Jiwa!






Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui