Kamis, 3 September 2015

Health

Pascastroke Pria Rentan Depresi

Jumat, 14 September 2012 | 13:27 WIB

KOMPAS.com - Kerusakan otak yang terjadi akibat stroke menyebabkan penderita memerlukan perawatan lanjutan karena adanya cacat fisik atau mental. Mereka juga membutuhkan dukungan moril dari orang sekitarnya karena sebagian besar penderita stroke, terutama pria, lebih rentan mengalami depresi.

Pria yang pernah terkena stroke (survivor) harus membiasakan diri pada kondisi fisiknya yang baru. "Bagi sebagian individu, kehilangan kontrol dan kelemahan fisik yang dialaminya dipersepsikan sebagai hilangnya kekuatan dan kebanggaan. Kehilangan tersebut membuat mereka rentan stres dan depresi," kata Michael McCarthy dari Universitas Cincinnati College of Health Sciences School of Social Work.

Dalam penelitian yang dimuat dalam Archieves of Physical Medicine and Rehabilitation, McCarthy melibatkan 36 orang, 16 wanita dan 20 pria, yang menderita serangan stroke pertama dalam waktu 36 bulan sebelumnya.

Para peneliti menaksir gejala-gejala depresi yang dialami para responden dan juga kemampuan para survivor dalam melakukan aktivitas rutin seperti mandi atau menyiapkan makanan sendiri. Mereka juga meneliti perasaan para survivor terhadap kondisi kesehatan mereka pasca stroke.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ketidapastian akan kondisi kesehatan mereka menyebabkan rasa stres baik pada survivor pria atau wanita. Namun, gejala stres tersebut lebih kuat dialami para survivor pria.

Untuk mengurangi rasa tidak berdaya, para peneliti menyarankan agar dokter menjelaskan secara jelas dengan pendekatan yang positif mengenai kondisi kesehatan pasien, baik pada pasien sendiri atau keluarganya. Apalagi proses rehabilitasi pasca stroke kerap membutuhkan waktu yang panjang. Membesarkan hati dan dukungan yang diberikan kepada pasien stroke bisa membantu pasien.

Editor : Asep Candra
Sumber: