Jumat, 28 November 2014 00:06

OBAT & VITAMIN - ARTIKEL

"Pain Killer" Bisa Memperburuk Sakit Kepala

Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 19 September 2012 | 18:06 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi obat-obatan

KOMPAS.com - Ada banyak obat pereda nyeri atau pain killer yang dijual bebas di pasaran. Tetapi bijaksanalah dalam memilih dan mengonsumsi obat yang satu ini. Menurut penelitian, terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri justru dapat memperburuk sakit kepala.

Sekitar satu dari 50 orang ditengarai menderita sakit kepala kambuhan karena obat-obatan pereda nyeri. Risiko tersebut lebih besar pada mereka yang mengonsumsi obat aspirin, ibuprofen, atau parasetamol setiap hari untuk mengobati sakit kepala atau nyeri sendi.

Menurut pengamat kesehatan NICE, sering mengonsumsi obat pereda nyeri bisa membuat otak lebih sensitif pada rasa nyeri sehingga gejala sakit yang dirasakan lebih buruk.

Seringkali terjadi lingkaran setan, saat sakit kepala tak tertahankan, dosis obat yang dikonsumsi bertambah sehingga rasa nyeri yang diderita menjadi berlipat ganda.

Sebelum mengonsumsi obat, sebaiknya kenali jenis sakit kepalanya. Obat pereda nyeri jenis triptan, menghirup oksigen, atau melakukan akupuntur, dianggap sebagai alternatif terapi untuk meredakan nyeri kepala.

"Mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri selama lebih dari 10-15 hari dalam sebulan termasuk berlebihan, padahal nyeri kepala bisa dicegah," kata profesor Martin Underwood, peneliti dari Warwick Medical School.

Menurut Dr.Gillian Leng, ketua eksekutif NICE, banyak pasien yang tidak mendapatkan diagnosis penyakit secara tepat oleh dokter.

"Kuncu untuk mencegah penggunaan obat secara berlebih adalah mengetahui jenis sakit kepala dan pemicunya," kata Leng.

Pemeriksaan lanjutan terhadap bagian kepala juga tidak selalu diperlukan karena kebanyakan sakit kepala tidak disebabkan oleh tumor atau penyakit serius lainnya.






Sumber :
dailymail.co.uk
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui