Jumat, 31 Oktober 2014 13:52
Caring by Sharing | Kompas.com

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Penyakit Stres, Apaan Sih ?

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Sabtu, 22 September 2012 | 09:15 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Pasien yang berkunjung ke saya kebanyakan memang lebih sering telah berkunjung ke banyak dokter sebelumnya. Banyak hal yang membuat mereka datang, salah satunya adalah karena kesulitan mendapatkan informasi yang benar tentang apa yang mereka alami.

Gejala psikosomatik yang didasari gangguan cemas memang sering menyebabkan keluhan fisik yang banyak dan aneh-aneh. Banyak dokter yang juga mungkin sudah lupa tentang mekanisme bagaimana keluhan-keluhan somatik akibat gangguan kecemasan dan depresi terjadi. Ujung-ujungnya dokter hanya mengatakan "Sudah bu/pak, jangan stres". Atau lain waktu pernah dikatakan oleh pasien kalau dokternya mengatakan "Ibu ini cuma stres aja, gak papa?!". Si pasien menjadi kesal karena kalau cuma stres saja kok si dokter tidak bisa menjelaskan dan mengobatinya.

Stres, penyakit yang bisa dijelaskan

Wajar kalau masih mendapati pasien yang bingung membedakan antara stres, depresi, gila, cemas, anxietas dan terminologi gangguan jiwa lain. Wajar karena dokter saja belum tentu bisa menjelaskan dengan baik arti dari kata-kata terkait itu. Kalangan teman-teman apoteker juga kadang sulit membedakan terminologi obat antidepresan dengan obat antianxietas. Semuanya disebut antidepresan. Padahal pengetahuan sudah ada dan saya sendiri pernah menulis tentang macam-macam obat jiwa di kolom Kompasiana.

Penyakit stres sebenarnya berhubungan dengan ketidakseimbangan sistem di dalam otak. Rujukan penyakit stres arahnya bisa ke mana-mana. Gangguan depresi, cemas, skizofrenia bisa dikategorikan penyakit stres. Tetapi dalam level yang lebih rendah, maka penyakit stres merujuk pada gangguan cemas dan atau depresi yang sering kali menimbulkan keluhan-keluhan fisik.

Pasien lalu bertanya bagaimana keluhan-keluhan itu bisa muncul. Penjelasan untuk hal ini, kadang memerlukan penjelasan detil tapi bisa juga dengan penjelasan yang sederhana. Tergantung siapa yang mau mendengarnya. Penjelasan sederhananya adalah bahwa stres baik fisik maupun psikis menimbulkan ketidakseimbangan di pusat otak, sehingga membuat beberapa fungsi sistem otak terkait seperti saraf otonom, saraf endokrin dan neurokimiawi otak ikut terganggu.

Hal ini yang menyebabkan keluhan-keluhan pada fisik, perasaan dan pikiran orang tersebut. Ketidakseimbangan ini sudah lama terjadi sebelum bermanifestasi sebagai gejala. Mengapa manifestasinya terjadi lama sesudah ketidakseimbangan ini terjadi? Hal ini disebabkan pada dasarnya otak seperti juga organ lain di dalam tubuh manusia mempunyai mekanisme adaptasi dan daya tahan sendiri terhadap ancaman dari luar. Seperti halnya organ hati dan ginjal yang masih bisa berfungsi walaupun hanya setengahnya yang bekerja, begitu juga otak manusia dengan sistem-sistemnya. Itulah mengapa kadang keluhan kejiwaan biasanya terjadi pelan-pelan dan tidak langsung dirasakan oleh pasien.

Pengobatan butuh waktu

Seperti dijelaskan di atas, kalau proses otak ini memerlukan waktu sampai terjadinya gejala, maka begitu juga proses penyembuhannya. Sering kali pasien yang datang ke saya merasa keluhannya sudah sangat mengganggu dan ingin segera dihilangkan dari diri pasien. Hal ini tentunya tidak bisa dilaksanakan segera.

Pengobatan butuh waktu. Obat-obatan yang dipakai juga biasanya dosisnya masih awal dan tidak langsung besar. Inilah yang menjadi kunci pengobatan bahwa pengobatan itu perlu berlangsung lama dalam waktu tertentu agar terjadi keseimbangan yang menetap di otak. Pasien sering takut dan menanyakan apakah obatnya mempunyai efek samping dan merusak organ lain.

Sebenarnya obat psikiatri memang ditujukan rata-rata untuk pengobatan yang lama, maka dari itu biasanya pasien diterangkan bahwa obatnya aman dikonsumsi dan mempunyai daya tolerabilitas tertentu. Ketakutan pasien yang sering lebih didasarkan pada rumor harusnya diminimalisir dengan keterangan yang benar akan obat yang digunakan. Semoga penjelasan ini membantu.

Salam Sehat Jiwa


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui