Kamis, 28 Mei 2015

Health

Pemasukan Uang Sewa Melonjak

Selasa, 23 Oktober 2012 | 03:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pemasukan uang sewa dari penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda, Jakarta Utara, kini, meningkat dua kali lipat pasca-pelayangan surat peringatan pekan lalu.

Pengelola melayangkan peringatan kepada para penunggak dua jam setelah Gubernur DKI Joko Widodo berkunjung ke Rusun Marunda, Kamis pekan lalu.

Asri Hidayah (29), tenaga administrasi dari Unit Pengelola Teknis Rumah Susun Marunda, Senin (22/10), menyebutkan, pendapatan uang sewa rusun mencapai Rp 10 juta, Jumat pekan lalu, sehari setelah surat peringatan dilayangkan kepada para penunggak.

Angka itu 2-4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan angka biasanya yang hanya berkisar Rp 2,5 juta-Rp 5 juta per hari.

Sebanyak 410 penghuni menunggak pembayaran 1-3 tahun sejak rusun beroperasi tahun 2007/2008. Ketidaktegasan petugas dan sikap acuh sebagian penghuni membuat tunggakan menumpuk hingga mencapai Rp 2,3 miliar.

Sebanyak 500 dari 700 penghuni Rusunawa Marunda adalah korban penggusuran dari kolong jembatan atau tol, bantaran sungai, dan korban kebakaran. Sisanya, penghuni umum yang memenuhi kriteria, antara lain berkartu penduduk DKI Jakarta, belum memiliki rumah, dan berpenghasilan kurang dari Rp 2,5 juta per bulan.

Pemerintah daerah menetapkan tarif sewa Rp 128.000- Rp 159.000 per bulan sesuai dengan lantai tiap-tiap unit untuk rusun subsidi. Sementara penghuni umum dikenai tarif Rp 304.000-Rp 371.000 per bulan.

Penghuni tak mampu

Namun, sejumlah penghuni dari kalangan tidak mampu tetap berharap ada keringanan pembayaran tunggakan. Uminah (42), penghuni Blok Hiu 505, mengatakan, dengan penghasilan Rp 400.000 per bulan, dirinya kesulitan membayar tunggakan selama 29 bulan sebesar Rp 3,85 juta.

”Suami sudah lama tak kerja karena lumpuh, sementara anak masih butuh biaya untuk sekolah. Jika bisa, saya minta keringanan,” ujarnya.

Yahya (50), penghuni Blok Hiu, berharap dibebaskan dari kewajiban membayar tunggakan. Itu disebabkan, selain tidak bekerja lagi, hampir semua hartanya habis untuk mengobati sejumlah penyakitnya, antara lain stroke, diabetes, dan luka bakar.

Kepala Unit Pengelola Teknis Rusun Wilayah Jakarta Utara Kusnindar menambahkan, pihaknya akan menertibkan penghuni sesuai dengan aturan. Penunggakan bayar sewa tidak akan dibiarkan lagi demi perbaikan pengelolaan rusun. (MKN)

Editor :