Rabu, 22 Oktober 2014 20:50
Caring by Sharing | Kompas.com

KESEHATAN

Mengatasi Serangan Asma Akut

Minggu, 28 Oktober 2012 | 05:21 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

OLEH DR SAMSURIDJAL DJAUZI

Anak laki-laki saya umur 15 tahun mendapat serangan asma. Sebenarnya sejak sehari sebelumnya dia sudah batuk-batuk. Sorenya, ia bernapas agak sesak dan saya memberikan obat asma yang biasa dia minum lebih cepat dari jadwal pemberian obat. Namun, sesaknya hanya berkurang sedikit. Malam serangan asma bertambah dan dia tampak sesak sekali. Saya tambahkan obat semprot yang harus dihirup, namun masih tidak juga berkurang sehingga saya langsung ke rumah sakit. Untunglah dia dapat pertolongan segera dan setelah dipantau selama sekitar 12 jam, dia diizinkan pulang.

Biasanya serangan asma anak saya tak pernah sehebat itu. Saya sudah berusaha untuk menjaga agar anak saya menghindari faktor pencetus serangan asma, misalnya influenza, kelelahan, dan debu rumah. Rupanya anak saya agak stres belakangan ini karena banyak ulangan dan kurang tidur. Anak saya menderita asma sejak kecil, sebenarnya sejak berumur 10 tahun sudah amat berkurang serangan asmanya sehingga dia hanya minum obat jika perlu saja. Namun, sejak setahun terakhir ini, ketika masuk SMA, serangan asma menjadi lebih sering. Apakah faktor psikis dapat memperberat serangan asma? Lalu, bagaimana perkembangan terapi asma terbaru dan mohon penjelasan dokter cara mencegah serangan asma? Terima kasih.

N di J

Jawaban

Gaya hidup modern seperti penggunaan karpet dan polusi udara mungkin jadi faktor pendukung peningkatan tersebut.

Prinsip penanganan asma yang baik memerlukan pemahaman mengenai penyakitnya dengan benar, pengenalan obat-obatnya, serta derajat penyakit dan juga tindakan yang harus dilakukan jika muncul serangan asma. Saya merasa gembira Anda telah memperhatikan dengan baik dan terus mendampingi anak Anda yang menderita asma.

Pada penderita asma terjadi dua hal yang berbeda dengan orang normal. Pertama, dinding saluran pernapasannya bersifat sensitif, artinya mudah terjadi penyempitan jika ada faktor pencetus. Kedua, pada penderita asma selaput lendir dinding saluran napasnya mengalami proses peradangan kronik yang menyebabkan selaput lendir tersebut menjadi sembap, menghasilkan cairan (mukus) dan dalam waktu lama dapat menebal. Oleh karena itu, diameter saluran napas pada penderita asma ukurannya menjadi bertambah sempit, baik karena kontraksi otot-ototnya maupun akibat radang kronik di selaput lendirnya. Untuk mencegah terjadinya penyempitan tersebut, harus dihindari faktor pencetusnya, antara lain: infeksi (biasanya virus seperti flu), udara dingin di malam hari, debu, asap polusi, tungau rumah (kutu), kelelahan, dan obat-obat tertentu. Keadaan psikis dapat memperberat serangan asma.

Serangan asma dapat terjadi mendadak dapat juga bertahap, namun karena pengobatan kurang tepat akhirnya menjadi seberat. Pengobatan asma pada umumnya terdiri atas obat yang membuat diameter saluran napas menjadi lebih lebar (bronkodilator) dan obat anti radang (steroid hirupan). Obat hirupan bekerja secara cepat, sedangkan obat yang diminum memerlukan waktu lebih lama karena harus diserap dulu oleh saluran cerna, kemudian beredar di darah barulah menuju saluran napas.

Untuk serangan akut, sering digunakan juga obat suntikan yang dapat bekerja cepat dalam hitungan menit. Batuk dan sesak atau mengi merupakan tanda serangan asma. Jika penderita minum obat secara teratur namun mengalami batuk atau sesak, maka perlu dipikirkan bahwa obat yang digunakan tidak sesuai. Dosisnya harus lebih dinaikkan atau obatnya yang diganti.

Tanda-tanda serangan

Penderita asma dan keluarga perlu memahami dengan baik mengenai tanda-tanda serangan asma berat. Di samping sesak, biasanya tidak dapat tidur telentang sehingga harus duduk. Bicara kurang jelas, hanya mampu menyebutkan beberapa kata dan terbata-bata serta otot bantuan pernapasan di sekitar leher tampak berkontraksi. Sering kali napasnya berbunyi (mengi). Pada keadaan ini, penderita harus segera dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit dan mendapat pertolongan yang tepat, jangan ditunggu terlalu lama.

Pada serangan asma yang lebih berat, penderita mungkin tidak mampu bernapas, bahkan kesadaran menurun. Di unit gawat darurat, dokter akan menilai beratnya serangan melalui tampilan klinis dan hasil laboratorium termasuk analisa gas darah. Pada keadaan berat sekali, adakalanya penderita perlu dirawat di unit perawatan intensif bahkan memerlukan bantuan alat atau mesin bantu napas. Jika sampai pada keadaan ini, keselamatan penderita dapat terancam. Oleh karena itu suatu hal yang sangat penting untuk mengenal serangan asma akut pada tingkat permulaan dan segera memberi pertolongan dengan tepat.

Jika tidak berhasil, segera bawa ke rumah sakit. Walaupun jarang, ada juga kejadian yang menyedihkan karena penderita meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit akibat terlambat mendapat pertolongan. Oleh karena itu, janganlah sampai terlambat membawa penderita asma yang mengalami serangan ke rumah sakit. Serangan asma akut biasanya dapat dicegah jika keadaan penderita asma dipantau dan minum obat secara teratur.

Pertolongan

Sekarang telah tersedia alat bantu berupa kartu untuk menilai derajat penderita asma. Apabila terjadi peningkatan skor, penderita harus berhati-hati, jika perlu dosis obat ditingkatkan dan segera berkonsultasi pada dokter jangan sampai asmanya menjadi bertambah berat.

Pertolongan pertama pada serangan asma akut dapat dimulai di rumah, misalnya dengan memberikan obat hirupan, setelah itu harus tetap dipantau jika tidak ada perbaikan pertimbangkan untuk membawa penderita ke rumah sakit. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saat ini penderita asma yang menjalani rawat inap sudah mulai berkurang jumlahnya, padahal jumlah penderitanya di masyarakat khususnya Jakarta justru meningkat. Ini berarti, sebagian besar penderita asma dapat ditolong melalui berobat jalan atau pertolongan di unit gawat darurat.

Anak Anda perlu dipantau secara ketat karena risiko serangan berulang tetap tinggi. Pakailah obat sesuai anjuran dokter dan gunakan obat tersebut secara teratur. Meski gejala sudah hilang, jangan menghentikan obat cepat-cepat.


IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui