Jumat, 28 November 2014 16:34

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

Kasus HIV/AIDS di Pantura Tertinggi di Jawa Barat

Kamis, 8 November 2012 | 09:37 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Aksi peduli HIV/AIDS bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan penyebaran stiker, poster mengenai informasi dan penyadaran mengenai HIV/AIDS, seperti dilakukan Tim Peduli HIV/AIDS Universitas Atmajaya, Jakarta, beberapa waktu lalu.
TERKAIT:

CIREBON, KOMPAS - Wilayah pantai utara Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Barat. Mobilitas penduduk dan jalur transportasi yang padat turut berpengaruh pada pesatnya perkembangan dan tingginya risiko penularan HIV/AIDS di wilayah pantura.

Hal itu dikatakan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Kemal N Siregar di sela rapat koordinasi penanggulangan HIV/AIDS sewilayah pantura Jabar di Kota Cirebon, Selasa (6/11). Data KPA Nasional menunjukkan, dari 10.358 penderita HIV/AIDS di Jabar hingga tahun 2012, sekitar 30 persen ditemukan di wilayah pantura, yakni Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, dan Bekasi.

”Sekitar 3.000 penderita HIV/AIDS di wilayah Jabar ada di pantura. Wilayah ini rentan penularan dan penyebaran karena orang banyak melintasi kawasan ini. Kecenderungan yang sama ditemui di pantura Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Kemal.

Menurut Kemal, tahun lalu, tren penularan dan penyebaran HIV/AIDS banyak dipicu oleh penggunaan jarum suntik yang tidak aman. Kini, 80 persen kasus di Indonesia disebabkan oleh perilaku seks yang tidak aman. Diperkirakan ada 80.000-100.000 kasus HIV/AIDS di seluruh Indonesia hingga 2012.

Wilayah pantura menjadi rentan karena perilaku seks tidak aman tidak jarang dipraktikkan oleh orang yang mobilitasnya tinggi. Contohnya, sopir truk dan bus, kenek, juru antar barang, atau nelayan yang sering bepergian berhari-hari. Dalam perjalanan, ada kemungkinan mereka berhubungan seks dengan pekerja seks dengan cara yang tidak aman, misalnya tidak memakai kondom.

”Jika hal ini dibiarkan, dikhawatirkan HIV/AIDS akan menulari ibu dan anak di rumah yang tidak tahu apa-apa. Beberapa kasus menunjukkan ada istri dan anak tertular HIV/AIDS akibat perilaku seks tidak aman suami,” kata Kemal.

Di Kota Cirebon, hingga tahun 2012 ada 29 kasus penularan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga dan bayi yang dilahirkan.

Sekretaris KPA Kota Cirebon Sri Maryati menuturkan, pihaknya rutin mendekati populasi yang berisiko kena HIV/AIDS, antara lain dengan sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan berkala. Mereka ada di titik-titik rawan transaksi seksual (hotspot), semisal tempat karaoke, terminal, alun-alun, dan kawasan wisata.

Ada setidaknya 116 hotspot di Kota Cirebon. Pengguna jasa seks komersial dari kalangan menengah ke bawah lebih mudah didekati. Begitu juga pekerja seks dan waria pada umumnya. ”Bagian yang tersulit ialah mendeteksi dan mendekati pengguna jasa seks dari kalangan menengah ke atas,” kata Sri.

Wilayah Kabupaten Indramayu juga mencatat peningkatan kasus HIV/AIDS pesat dalam delapan bulan terakhir. Pada Februari 2012 tercatat 686 penderita HIV/AIDS. Jumlah itu naik menjadi 825 orang hingga akhir Oktober.

”Ini kasus serius. Jika tak ditangani, dikhawatirkan menjadi kejadian luar biasa HIV/AIDS,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Dedi Rohendi. (REK)

 







Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui