Jumat, 31 Oktober 2014 22:34
Caring by Sharing | Kompas.com

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Maag Tak Kunjung Sembuh, Jangan-jangan Psikosomatik!

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Minggu, 2 Desember 2012 | 16:59 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

KOMPAS.com - Pasien yang datang ke Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera lebih banyak yang mengalami gejala-gejala psikosomatik daripada pasien yang hanya mengalami gejala psikologis semata. Pasien biasanya mengeluh gejala-gejala psikosomatik yang sangat umum dialami. Beberapa gejala tersebut yang paling sering adalah gejala sakit lambung atau maag.

Di bawah ini akan coba saya bahas mengenai hal tersebut. Demi kejelasan dan agar mudah dipahami, beberapa nama obat ditulis dengan merk dagangnya agar menjadi lebih dikenal pasien.
Keluhan perut/maag/lambung adalah keluhan yang cukup sering dialami oleh pasien yang datang ke klinik psikosomatik RS OMNI. Pasien biasanya memang telah menjalani pengobatan berhubungan dengan sakit maag/lambungnya.

Beberapa kasus malah sudah berkonsultasi dengan ahli/profesor di bidang gastroenterologi dan telah melakukan berbagai macam pemeriksaan berkaitan dengan sakit lambungnya. Sayangnya, hasilnya normal atau bila pun ada biasanya merupakan peradangan sedikit yang sebenarnya tidak terlalu parah.


Pasien biasanya juga telah memakan berbagai macam obat lambung. Golongan PPI seperti Pariet, Prosogan, Nexium adalah obat yang sering diresepkan. Ini belum ditambah dengan obat golongan sukralfat seperti Impepsa (dikenal sirup pink kental yang fungsinya sebenarnya melapisi lambung yang luka). Belum lagi obat-obat golongan seperti domperidone (Vometa atau Motilium) biasanya juga sudah diberikan.


Pemeriksaan gastroskopi (biasanya pasien menjalani endoskopi, tapi ada juga yang ditambah dengan anuskopi) menghasilkan hasil yang normal. Biasanya walaupun ada, kebanyakan merupakan peradangan minimal bukan suatu ulkus (luka) yang serius.
Kondisi ini yang membuat pasien tidak nyaman karena walaupun pengobatan bisa membantu, namun biasanya hanya selama makan obat saja, ketika sudah tidak makan obat lagi pasien biasanya mengalami keluhan kembali.

Kasus lambung memang sangat sering dialami oleh pasien psikosomatik. Jaras (aksis) lambung dan otak (dikenal dengan istilah Brain Gut Axis) adalah sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada pasien psikosomatik yang mengalami keluhan lambung. Stres dan depresi di otak (tidak sesempit terminologi stres/depresi pada umumnya) akan menyebabkan ketidakseimbangan juga pada sistem pencernaan.

Hal ini diakibatkan peran sistem saraf parasimpatis dan hormon kortisol yang meningkat karena adanya stres dan ketidakseimbangan di otak bagian hipotalamus. Sehingga tidak heran jika diobati kondisi stres/depresinya maka keluhan lambungnya pun akan membaik.
Saran saya memang jika mengalami gejala lambung dan sering mengalami pengobatan tapi tidak kunjung sembuh. Apalagi jika sudah melakukan beberapa pemeriksaan tapi hasilnya normal, maka ada baiknya jika menyempatkan diri berkonsultasi ke psikiater yang memahami keluhan psikosomatik.

Salam Sehat Jiwa

 


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui