Sabtu, 25 Oktober 2014 06:03
Caring by Sharing | Kompas.com

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Bidan Romana Tari


Bidan Romana Tari hadir menjadi sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan di bidang kesehatan dan pengalaman sehari-hari dalam hidup.

Orang Tua Wajib Tahu Perkembangan Anak

Penulis : Bidan Romana Tari | Minggu, 9 Desember 2012 | 19:37 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

KOMPAS.com- Mengikuti kemajuan dari tahapan demi tahapan perkembangan anak sangat penting bagi seorang ibu. Sesibuk apapun sebaiknya seorang ibu memiliki catatan khusus, yaitu tentang ketrampilan motorik  dan mental yang seharusnya sudah dimiliki seorang anak sesuai tingkat perkembangan seusianya. Setiap  anak memang unik dan tidak akan sama persis untuk  waktu pencapaian perkembangan motoriknya dan mentalnya.

Tetapi hampir sebagian besar anak-anak yang lahir tanpa komplikasi atau tanpa cedera  pada sistem syaraf pusatnya, maka anak-anak akan memiliki pola perkembangan motorik dan mental  yang kurang lebih sama. Pencapaian maksimal keberhasilan proses tumbuh kembang sanagt ditentukan oleh keaktifan orang tua melalukan rangsangan atau stimulasi pada anak, didukung dengan kondisi kesehatan dan  gisi yang baik. Sebuah keprihatinan ketika berhadapan dengan ibu-ibu saat memeriksakan anaknya untuk imunisasi di klinik kesehatan anak. Ketika seorang bidan bertanya : " Ibu anaknya sekarang sudah bisa  melakukan gerakan dan kepandaian  apa?"

Lalu si Ibu hanya menoleh kepada nenek, bude, atau pengasuh yang ikut mengantar. Ibu tersebut balik bertanya tentang perkembangan anaknya  pada orang-orang yang dia anggap sering berada bersama anaknya jika ia bekerja. Atau pada kasus lain ibu tersebut merawat sendiri anaknya, tetapi ia kurang perhatian pada perkembangan balitanya. Ibu tersebut hanya berusaha membandingkan dengan anak lain yang sebaya dengan anaknya. Memang boleh saja cara ini dijadikan salah satu alternatif, tetapi bagaimana jika anak lain yang dijadikan perbandingan justru mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus dan motorik kasarnya? 

Perkembangan anak sangat penting untuk kita pantau baik pertumbuhan secara fisik, perkembangan  mental psikologis dan kemampuan motoriknya. Ada banyak sekali panduan yang bisa digunakan. Mulai dari bayi baru lahir hingga melewati masa balita. Jika keterlambatan pemantauan ini baru disadari ketika anak sudah berusia  lebih  dari 2 tahun maka upaya untuk mengejar ketinggalan tersebut agak sulit tetapi tetap bisa dilakukan dengan  konsultasi pada  tenaga kesehatan.

Tugas melahirkan anak merupakan tugas pengasuhan yang berkesinambungan. Seperti menyulam benang  emas yang tidak boleh terputus demi masa depan anak - anak kita. Mungkin pernah diantara kita terpaksa keluar kota dalam waktu yang tidak terlalu lama, berpisah sementara dengan si buah hati karena tugas. Kemudian saat kita pulang, kita dikejutkan dengan kemampuan-kemampuan baru dari anak  yang menjadi kebanggaan. Bila karena sementara bekerja pengasuhan terpaksa dilimpahkan pada salah satu anggota  keluarga atau saudara atau pengasuh bayi, sebaiknya orangtua tetap ingat untuk memberikan semacam catatan kecil pemantauan perkembangan mental dan psikologis sang anak. Ini adalah tugas seorang ibu dan ayah sebagai orangtua. 

Ada beberapa hal yang perlu diketahui  orangtua  untuk mengamati perkembangan bayi yakni dengan :

1. Teratur membawa anak ke Posyandu atau klinik KIA. Posyandu atau klinik KIA bukan hanya bertugas untuk pemberian imunisasi saja tetapi juga pemantauan tumbuh kembang anak. Untuk anak usia 0 - 12 bulan  diperlukan 4 kali stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembangnya. Lalu untuk anak umur satu tahun dilalukan setiap 6 bulan sekali.

2. Memperhatikan petunjuk dan panduan tahapan perkembangan anak yang ada di buku KIA. Contoh :

Usia 0-1 bulan.

Pada masa ini bayi belum begitu banyak beraktifitas, namun refleks-refleks tubuhnya berfungsi baik, seperti menghisap, menggenggam,menyukai sentuhan dan pelukan, terkejut, mendengar suara ayah bunda, belajar kontak mata, menangis bila lapar, berusaha memiringkan badan dan menggerakkan kepala ke salah satu sisi ketika ditengkurapkan. Yang dibutuhkan bayi pada usia ini : bayi sering dipeluk, menimang, mengajak bicara, menyanyikan lagu-lagu dan memperdengarkan musik.

Usia 2 bulan.

Bayi sudah mulai belajar mengangkat kepala saat ditengkurapkan, menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, membalas senyuman , berceloteh spontan, membuka jari jari tangan,memperhatikan obyek bergerak dan berwarna, senang diajak berkomunikasi, menunjukkan minat dan kontak visual terhadap wajah - wajah yang sering berada di dekatnya. Pada usia ini, bayi membutuhkan tatapan kontak visual kasih sayang dari ayah bunda, ingin diajak bercerita dan mendengarkan suara suara,  bila ibu ingin melakukan kontak visual dan berkomunikasi  bisa dilakukan misalnya pada saat menyusui, memandikan, dan setiap saat bila ada kesempatan. Mengisi memori kata kata sebanyak banyaknya agar kelak si kecil lancar bicara. Bayi bisa juga dilatih untuk tengkurap dalam pengawasan orangtua.

Usia 3 bulan.

Pada usia ini bayi mulai belajar mengontrol setiap gerakn yang dilakukan. Ia sedang berusaha mengkoordinasikan seluruh tubuhnya, dan belajar merekam wajah, suara dan lingkungan sekitarnya. Bayi mulai bisa menatap wajah ayah bundanya lebih jelas. Kemampuan paling menakjubkan adalah bayi mampu membalas senyuman kita. Pada masa ini bayi mulai bisa memberi isyarat dengan  ketertarikan dengan benda-benda dengan gerakan mata, tangan, kaki. Bila bayi ditengkurapkan ia bisa mengangkat kepala. Orangtua  sebaiknya terus menerus mengisi ruang ruang kosong dalam memori si kecil dengan bercerita, berkomunikasi, menyanyikan lagu,melatih ketertarikan bayi untuk meraih benda benda berwarna yang kita perlihatkan, beri kesempatan  bayi belajar menggenggam mainan tersebut walau belum maksimal.

Usia 4- 6 Bulan.

Bayi sudah mampu berbalik sendiri dari telungkup ke telentang, mempertahankan kepala tetap tegak, meraih benda, dan menirukan suara di sekitarnya, tersenyum spontan bila ada hal yang menarik perhatiannya, meraih benda di sekitarnya, menggenggam benda, melempar,menggoyangkan mainan yang berbunyi, menangis bila ditingggalkan ibu.

Menuju usia  7 -9  bulan :

Pada usia ini  sebaiknya orang tua merangsang bayi untuk bermain ciluk ba, belajar duduk, memegang benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk, misalnya memberikan taburan kismis di depan bayi lalu bayi mampu menjumputnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, bukan dengan menggenggamnya. Menimbulkan suara bunyi bunyian  dari mainan dengan memukul atau membenturkan dua benda. Bertepuk tangan, memegang biskuit di tangannya dan mampu memasukkan dengan tepat ke mulutnya.

Memasuki usia 12 bulan.

Pada usia ini, bayi diharapkan lancar mengucap kata sederhana  4 atau 6 kata lebih, bayi juga mulai senang bercermin, mengenali  wajah orang terdekat dan bisa menyebutnya contoh  mama, papa, maem, mengungkapkan keinginan misalnyan maem,  pipis dan sebagainya. mengosongkan laci  dan mengeluarkan isinya, memasukkan tangan ke saku ayah. Meniru suara binatang dan sebagainya. Hal yang perlu diperhatikan selama pemantau masa pertumbuhan dan perkembangan ini: Bila mendapatkan anak yang terlambat dalam pencapaian kemajuan motorik dan mentalnya selama masa balita sebaiknya segera dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, jangan dibiarkan hingga terlambat. Meskipun masa pencapaian tahapan ini tidak sama setiap anak tetapi ada pola  tahapan  yang menjadi acuan dalam screening deteksi dini tumbuh kembang yang harus mampu diikuti sesuai tahapan usia anak. Lalu bila anak  sudah mulai aktif belajar  merangkak, kemudian berdiri dan merambat bantu anak untuk belajar berjalan. Secara bertahap  mengurangi  kebiasaan menggendong   maupun membiarkan terlalu lama anak berada  dalam kereta bayi . Berikan latihan  fisik sebagai tanda kasih sayang sekaligus olahraga agar bayi mampu menggerakkan  syaraf  juga otot-otot kaki dan latihan keseimbangan tubuhnya.

Salam hangat Bidan Romana Tari


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui