Sabtu, 1 Agustus 2015

Health

KONSULTASI KESEHATAN GIGI & MULUT drg. Citra Kusumasari, SpKG
Menyelesaikan pendidikan Dokter Gigi di Universitas Padjadjaran Bandung, kemudian meraih gelar spesialisnya di Universitas Indonesia. Ilmu Karies, Estetik kedokteran gigi, dan perawatan syaraf gigi adalah keahliannya. Praktik di Nice Dental Care Ciputra Medical Center. Lotte Shopping Avenue Fl.5 Ciputra World 1

Efek Negatif Deterjen dalam Pasta Gigi

Rabu, 6 Februari 2013 | 10:55 WIB

TANYA :

Dok Citra, sebenarnya seberapa jauh kadar deterjen yang terkandung di dalam pasta gigi dapat mengganggu metabolisme dalam mulut. Seberapa pula keunggulan pasta gigi tanpa deterjen?  Mana yang lebih baik untuk kesehatan mulut dan gigi?

(Iwan Z, 53, Jakarta Selatan)



JAWAB :

Bapak Iwan yang baik, menarik sekali pertanyaannya.

Sejak dulu, berbagai penelitian mengenai pasta gigi yang mengandung deterjen telah dilakukan, salah satunya seperti yang tercantum pada Jurnal Kedokteran Gigi Norwegia pada tahun 1989. Disebutkan bahwa, Sodium Lauryl Sulfate (SLS) merupakan salah satu jenis deterjen sintetis yang paling sering digunakan untuk pasta gigi.

SLS berfungsi sebagai bahan pemberi efek berbusa pada pasta gigi, serta mampu melonggarkan perlekatan plak pada gigi sehingga lebih mudah dibersihkan. Namun, pasta gigi yang mengandung deterjen jenis SLS menyebabkan penurunan fungsi pengembalian mineral gigi oleh fluor, sehingga fluor tidak dapat mencegah gigi berlubang secara optimal.

Pada tahun 1996, sebuah Jurnal Kedokteran Gigi Eropa menyebutkan penggunaan SLS sebagai deterjen pada pasta gigi menyebabkan efek samping yang merugikan bagi jaringan lunak di dalam rongga mulut. Penelitian ini menguji 6 pasta gigi dengan jenis dan konsentrasi deterjen yang berbeda-beda, serta 1 pasta gigi yang tidak mengandung deterjen.

Kesimpulan penelitian ini adalah pasta gigi yang mengandung deterjen jenis SLS sering menyebabkan iritasi jaringan lunak mulut, dibandingkan dengan pasta gigi yang mengandung deterjen jenis cocoamidopropyl-betaine (CAPB). Sedangkan pasta gigi yang tidak mengandung deterjen, sama sekali tidak menyebabkan iritasi jaringan lunak pada rongga mulut.

Begitu pula pada Jurnal Penyakit Mulut pada tahun 2012, menyebutkan bahwa pasta gigi yang mengandung deterjen jenis SLS menyebabkan sariawan berulang, serta adanya peningkatan rasa nyeri dibandingkan dengan pasta gigi yang tidak mengandung deterjen jenis SLS.

Saat ini, rata-rata produk pasta gigi yang ada di pasaran mengandung deterjen jenis SLS. Namun kadar SLS-nya jarang disebutkan. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, kadar deterjen jenis SLS yang aman digunakan di dalam pasta gigi adalah dibawah 0,5%.

Demikian Bapak Iwan, semoga dapat membantu.

Salam gigi sehat.

Editor : Asep Candra

FORM KONSULTASI

Tahun
Cm
Kg
Incorrect please try again
ReLoad

Hanya pertanyaan-pertanyaan terpilih yang akan dimuat