Rabu, 30 Juli 2014 01:20

KONSULTASI / KESEHATAN GIGI & MULUT - ARTIKEL

KONSULTASI KESEHATAN GIGI & MULUT

Bersama drg. Citra Kusumasari, SpKG

Menyelesaikan pendidikan Dokter Gigi di Universitas Padjadjaran Bandung, kemudian meraih gelar spesialisnya di Universitas Indonesia. Saat ini, Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi ini, berpraktik di berbagai klinik di Jakarta. Ilmu Karies, Estetik kedokteran gigi, dan perawatan syaraf gigi adalah keahliannya. Praktik di Nurfa Praktek Dokter Gigi Spesialis. Jl. Anugerah Raya No. 35 C Jaticempaka Pondok Gede - Bekasi 17411 Telp. (021) 84978739

Apa Penyebab Gigi Keropos?

Rabu, 13 Maret 2013 | 06:32 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi

TANYA :

Dok, saya mau tanya tentang gigi yang rapuh dan keropos. Saya memang ada keturunan dari ayah, gigi ayah saya rapuh. Dan sekarang saya pun begitu. Gigi saya jadi gampang bolong. Beberapa kali gigi depan saya ditambal, tambalannya juga ga tahan lama. Apakah gigi rapuh ini bisa karena faktor keturunan? Adakah solusi untuk hal ini dok? Karena saya juga tidak nyaman kalau tiap kali makan sesuatu jadi langsung ngecek gigi. Terima kasih.

(Saras, 20 tahun, 155, 44 kg, Tangerang)


JAWAB :


Hai Saras,
Gigi rapuh dan keropos selalu dikaitkan dengan keadaan gigi yang mudah berlubang (karies). Proses terjadinya karies adalah akibat adanya ketidakseimbangan proses pelepasan mineral (demineralisasi) dari gigi dengan pengembalian mineral ke dalam gigi (remineralisasi). Penyebabnya antara lain:

1.    Akumulasi dan melekatnya plak (sisa makanan) pada gigi
2.    Frekuensi konsumsi karbohidrat yang sering
3.    Sedikitnya jumlah faktor protektif alami seperti pelikel, saliva, dan plak yang bebas dari bakteri asidogenik (good plaque)
4.    Sedikitnya asupan fluor

Adanya hubungan sebab-akibat terjadinya karies, diidentifikasi sebagai faktor risiko karies. Beberapa faktor yang dianggap sebagai faktor karies adalah:

1.    Pengalaman karies
Penelitian epidemiologis telah membuktikan adanya hubungan antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa mendatang. Sensitivitas parameter ini hampir mencapai 60%.

2.    Penggunaan fluor
Pemberian fluor yang teratur baik secara sistemik (konsumsi langsung) maupun lokal (misalnya pasta gigi, gel, dan obat kumur) merupakan hal yang penting diperhatikan dalam mengurangi terjadinya karies karena dapat meningkatkan remineralisasi. Namun demikian, jumlah kandungan fluor dalam air minum dan makanan harus diperhitungkan, karena pemasukan fluor yang berlebihan dapat menyebabkan fluorosis (gigi dengan bercak putih).

3.    Kebersihan mulut
Insidensi karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara mekanis dari permukaan gigi, namun banyak pasien tidak melakukannya secara efektif. Peningkatan kebersihan mulut dapat dilakukan dengan menggunakan benang gigi, yang dikombinasi dengan pemeriksaan gigi secara teratur. Pemeriksaan gigi rutin ini dapat membantu mendeteksi dan memonitor masalah gigi yang berpotensi menjadi karies.

4.    Jumlah bakteri
Segera setelah lahir akan terbentuk ekosistem rongga mulut yang terdiri atas berbagai jenis bakteri. Kolonisasi bakteri di dalam mulut disebabkan transmisi antar manusia, yang paling banyak dari ibu atau ayah.

5.    Air liur
Selain mempunyai efek penetral asam, air liur juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa makanan di dalam mulut. Pada individu yang berkurang fungsi salivanya, maka aktivitas karies akan meningkat secara signifikan.

6.    Pola makan
Pengaruh pola makan dalam proses karies biasanya lebih bersifat lokal daripada sistemik, terutama dalam hal frekuensi mengonsumsi makanan. Setiap kali seseorang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat, maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut akan mulai memproduksi asam sehingga terjadi pelepasan mineral dari gigi yang berlangsung selama 20-30 menit setelah makan.
Setelah membaca keterangan saya di atas, sekarang anda bisa memperkirakan faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya gigi rapuh dan keropos pada mulut anda. Memang hanya sedikit persentase pengaruh dari faktor keturunan, namun penyebab lain yang dominan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, untuk mengatasi atau mencegah terjadinya gigi rapuh dan keropos anda dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1.    Kontrol plak
Melalui penyikatan gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride. Pertama kali dilakukan di pagi hari. Penyikatan gigi yang kedua dilakukan sebelum tidur di malam hari, karena pada saat tidur aliran air liur terhenti atau berkurang sehingga tidak tersedia kemampuan penetral dari air liur. Sehingga dengan tidak adanya plak, fluoride akan semakin efektif  pada struktur gigi dan berkurangnya air liur tidak akan beresiko. Sebagai pembersih tambahan, dapat menggunakan dental floss (benang gigi).

2.    Pemberian fluoride
Fluoride yang terdapat di dalam pasta gigi, terkadang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan fluoride bagi rongga mulut. Oleh karena itu, perlu asupan fluoride tambahan yang dapat diperoleh melalui gel, larutan, obat kumur, dan varnish. Anda dapat mengkonsultasikan hal ini kepada Dokter Gigi.

3.    Modifikasi pola makan
Pengaturan frekuensi makan, dapat mempengaruhi proses terjadinya karies. Makanan yang mengandung karbohidrat (misalnya keripik kentang, camilan manis) dan asam (misalnya minuman berenergi dan jus buah) memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat bersih dari mulut, sehingga selama waktu tersebut pecahan karbohidrat dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana, yang akan memberikan sumber makanan bagi  bakteri asidogenik di dalam mulut.

4.    Melakukan penambalan pada gigi yang sudah berlubang
Bahan tambal yang digunakan untuk penambalan gigi berlubang, dapat berbeda-beda untuk setiap kasus. Konsultasikan langsung kepada Dokter Gigi anda.

Demikian Saras, semoga informasinya bermanfaat.

Salam gigi sehat.

 


Editor :
Asep Candra
Tahun

Cm    Kg
Laki-laki    Perempuan


Incorrect please try again

ReLoad

Hanya pertanyaan-pertanyaan terpilih yang akan dimuat

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui