Jumat, 25 Juli 2014 00:06

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Gangguan Jiwa Pada Penyakit Kronis

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Selasa, 19 Maret 2013 | 10:25 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Walaupun tidak dapat dihindari, penyakit bisa datang kepada kita semua tanpa kadang bisa dicegah. Terutama sekali adalah penyakit yang sifatnya kronis seperti penyakit kencing manis, jantung, rhematoid atritis atau penyakit ginjal. Saya pernah beberapa kali menulis tentang penyakit ini di kolom kesehatan yang tersedia di Kompasiana ini. Belakangan, kondisi pasien dengan penyakit kronis lebih sering ditemukan di dalam praktek sehari-hari. Pasalnya, gangguan jiwa yang paling ringan sekalipun seperti kecemasan karena penyakitnya atau kesulitan tidur sering menghinggapi pasien dengan penyakit kronik.

Sulit tidur


Kesulitan tidur adalah masalah yang cukup sering dialami pasien yang mengalami masalah penyakit kronik. Pasien dengan gangguan jantung juga rentan mengalami masalah sulit tidur. Beberapa kali saya menemukan kasus insomnia atau sulit tidur pada pasien dengan kondisi pasca prosedur jantung seperti kateterisasi/balonisasi ataupun pemasangan ring.

Sebelum prosedur pengobatan jantung memang pasien mengalami kecemasan karena kondisi jantungnya. Pasien biasanya mengatakan adanya ketegangan sebelum menjalankan prosedur apalagi jika memang pasien memiliki kecenderungan kepribadian yang pencemas. Peningkatan respon saraf otonom dan peningkatan hormon adrenalin sering kali meningkatkan kecemasan pasien yang akhirnya bisa membuatnya mengalami kesulitan tidur menjelang prosedur ataupun sesudahnya. Pada pasien seperti ini, biasanya pengobatan dengan obat anti insomnia golongan non-benzodiazepine seperti Zolpidem bisa membantu.

Pengobatan dengan anticemas memang bisa diberikan jika terdapat kecemasan yang nyata. Belakangan karena potensi ketergantungan dan reaksi putus zat maka obat anticemas golongan benzodiazepine misalnya seperti alprazolam atau clobazam biasanya tidak diberikan dalam jumlah banyak dan lama. Antidepresan SSRI seperti sertraline pada berbagai penelitian baik untuk mengatasi kondisi kecemasan pada pasien jantung.

Depresi

Depresi secara klasik digambarkan dengan wajah (mood) yang sedih, hilangnya minat dan gairah hidup serta ketidakmampuan beraktivitas seperti biasa lagi. Tiga gejala utama itu sering kali juga ditambah dengan gejala-gejala fisik yang terkadang menyerupai gejala penyakit kronik pada beberapa penyakit tertentu. Depresi pada berbagai penyakit kronik adalah suatu hal yang sangat sering terjadi. Angka kejadianya cukup tinggi di kalangan pasien yang mengalami sakit kronik. Penyakit seperti kencing manis (diabetes melitus), gagal ginjal, kanker, penyakit paru kronik adalah sebagian penyakit yang rentan mengalami depresi.

Sayangnya, depresi sering tidak terkenali dengan baik pada penyakit kronik atau dianggap sebagai bagian yang biasa dalam perjalanan penyakit pasien. Padahal depresi yang tidak tertangani dengan baik pada pasien penyakit kronik akan memperberat sakitnya dan menurunkan kualitas hidup. Pengobatan dengan obat antidepresan golongan SSRI seperti Sertraline sangat bermanfaat untuk pasien.

Selain itu, juga edukasi yang baik tentang penyakit pasien baik perjalanan maupun harapan masa depannya akan membantu pasien memahami dan menghilangkan afeksi negatif pasien terhadap kondisi penyakitnya. Pasien diharapkan dapat membantu dirinya sendiri dengan bantuan ahli di bidang kesehatan jiwa seperti psikiater yang memahami masalah medis pasien. Psikoterapi suportif yang bertujuan memperbaiki adaptasi pasien dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting dilakukan selain pengobatan dengan obat antidepresan.

Kenali dan obati segera


Masalah gangguan kejiwaan pada penyakit kronis seringkali terlupakan dalam praktik sehari-hari. Dokter cenderung untuk menganggap gejala gangguan jiwa terutama gejala depresi sebagai bagian yang wajar dalam perjalanan penyakit pasien. Padahal depresi adalah kondisi penyakit medis juga yang membutuhkan pertolongan.

Untuk insomnia, sering kali dokter atau pasien juga menganggap hal ini bersifat sementara. Sering kali pengobatan juga tidak sepenuhnya bisa membantu kalau masalah dasarnya tidak diatasi. Depresi dan kecemasan bisa menjadi latar belakang orang mengalami insomnia. Masalah lain terkait dengan gangguan jiwa pada kondisi medis umum yang kronik adalah ketakutan dalam menggunakan obat psikofarmaka pada pasien.

Obat memang bukan satu-satunya cara pengobatan pada kasus medis kronik namun dengan bekal pengetahuan farmakodinamik dan farmakokinetik obat maka dokter bisa memahami interaksi obat yang mungkin bisa terjadi pada pemakaian obat secara berbarengan. Semoga dengan pengetahuan yang baik tentang aspek kesehatan jiwa pada kondisi medis yang kronik,pasien dengan gangguan medis kronik bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Salam Sehat Jiwa

Glossary :

Antidepresan SSRI : Antidepresan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor, pada beberapa kasus merupakan terapi lini pertama untuk depresi dan atau gangguan kecemasan

Benzodiazepine : Obat anticemas, dikenal masyarakat dengan sebutan obat penenang. Merk terkenal adalah valium (diazepam),xanax (alprazolam)

Kateterisasi : istilah lainnya "balonisasi", proses pembukaan jalan darah atau pembuluh darah di jantung yang terhambat karena proses aterosklerosis (penebalan dinding pembuluh darah oleh plak)

Pemasangan ring : pemasangan stent untuk membuka jalan pembuluh darah lebih besar pada beberapa kasus yang gagal dikateterisasi

Farmakodinamik : mekanisme kerja obat pada tubuh manusia

Farmakokinetik : apa yang terjadi pada obat di tubuh manusia (termasuk membahas masalah efek samping obat dan interaksi obat)


Sumber :
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui