Minggu, 21 Desember 2014 05:20

Dokter Keluarga "Jemput Bola", Pasien Tak Perlu ke RS

Penulis : Indra Akuntono | Kamis, 4 April 2013 | 17:25 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Program dokter keluarga diyakini mampu mengurangi jumlah kunjungan pasien di rumah sakit. Dengan program ini, warga yang sakit tak perlu berobat ke puskesmas atau rumah sakit karena cukup dilayani oleh dokter keluarga.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, dokter yang tergabung dalam program dokter keluarga akan melakukan "jemput bola" untuk melayani warga secara langsung. Dengan cara ini, jumlah warga yang masuk ke puskesmas atau dirujuk ke rumah sakit secara bertahap akan berkurang dengan signifikan.

"Dokter keluarga ini di bawahnya puskesmas. Jadi nanti yang ke puskesmas atau rumah sakit akan 'dihambat' oleh dokter keluarga ini," kata Jokowi di Balaikota Jakarta, Kamis (4/4/2013).

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emmawati mengklaim bahwa jumlah dokter di Jakarta lebih dari sekadar cukup untuk menopang program dokter keluarga. Dokter-dokter yang dilibatkan dilihat berdasarkan kompetensinya dan bukan berdasarkan dokter baru atau dokter berpengalaman.

"Enggak mesti dokter senior, dokter yunior kalau kompetensinya mencukupi ya bisa," ujarnya,

Program dokter keluarga dicanangkan untuk memperkuat pelayanan primer. Dokter keluarga bertugas mempromosikan pola hidup sehat, pencegahan dan pengendalian penyakit kronis, deteksi dini, dan pelaporan penyakit menular. Melalui program ini, angka orang sakit diharapkan dapat dikendalikan sehingga jumlah kunjungan ke rumah sakit jadi berkurang.

Dokter keluarga lebih banyak bertugas mencegah orang agar tidak sakit atau tidak sakit lebih parah. Penunjukan dokter keluarga ini akan ditentukan bersama antara Pemprov DKI dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta akan menyediakan anggaran pada awal bulan untuk para dokter keluarga itu dengan sistem kapitasi. Ada atau tidak ada orang sakit, dana itu bisa dipakai dokter. Alokasi anggaran yang disediakan untuk dokter keluarga masih dalam penggodokan dengan perkiraan Rp 5.000, Rp 7.000, atau Rp 10.000 per orang per bulan.

Setiap dokter keluarga diharapkan mampu melayani kesehatan untuk 2.000 sampai 2.500 warga di tempat tugasnya dalam sebulan. Model pelayanan seperti ini diyakini menguntungkan pasien Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan dokter. Pasien tidak perlu datang ke puskesmas karena sudah ada dokter keluarga di lingkungannya.

Sementara itu, dokter keluarga mendapat keuntungan jika warga yang menjadi tanggung jawabnya sehat. Hal itu dikarenakan sistem pembayaran dihitung berdasarkan jumlah warga yang sehat (kapitasi). Model pelayanan ini ditargetkan bisa diterapkan dalam waktu dekat. Untuk sementara, Pemprov DKI juga tidak akan memberikan syarat terlalu ketat bagi calon pasien.







Editor :
Laksono Hari W

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui