Kamis, 24 April 2014 05:05

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT *


Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Anak Ngorok Rentan Gangguan Perilaku dan Kesulitan Belajar

Penulis : Dr. Andreas Prasadja, RPSGT * | Rabu, 1 Mei 2013 | 09:28 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

KOMPAS.com - Mendengkur merupakan gejala utama sleep apnea. Sebuah penyakit tidur yang amat berbahaya karena pada orang dewasa menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, depresi hingga stroke. Tetapi bagaimana jika terjadi pada anak? Sebuah penelitian baru pada jurnal SLEEP tunjukkan bahwa, sleep apnea pada anak bisa mengarah pada gangguan perilaku yang mirip dengan ADHD, atention deficit hyperactivity disorder.

Ngorok dan sleep apnea

Sleep apnea artinya henti nafas saat tidur. Gejala utamanya adalah mendengkur dan kantuk berlebihan yang biasa disebut dengan hipersomnia. Tetapi pada anak, tampilan mengantuk berbeda dengan orang dewasa. Untuk melawan rasa kantuk anak malah menjadi hiperaktif. Coba perhatikan anak-anak kita, ketika mengantuk malah menjadi rewel.

Mendengkur disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibat saluran nafas yang melemas saat tidur, aliran udara jadi terganggu. Bahkan, walau gerakan nafas tetap ada, tak ada udara yang dapat mengalir masuk maupun keluar. Seolah tercekik, penderita akan terbangun singkat, tanpa terjaga untuk menarik nafas.

Karena terbangun tanpa terjaga proses tidur jadi terpotong-potong. Gangguan pada proses tidur disertai penurunan kadar oksigen ini yang diduga berujung pada gangguan perilaku.

Penelitan

Penelitian yang dilakukan di University of Arizona, Tucson ini dilakukan dengan melihat data dari the Tucson Children's Assesment of Sleep Apnea Study (TuCASA) yang dilakukan dalam rentang 5 tahun, pada anak dengan usia 6-11 tahun. Penelitian pada 263 orang anak ini melihat pengaruh sleep apnea pada perilaku.

Sleep apnea didiagnosa dengan polisomnografi (laboratorium tidur), lalu orang tua dan anak diperiksa juga lewat sejumlah kuesioner dan alat pemeriksaan psikologis. Pemeriksaan dilakukan dalam dua rentang waktu, saat pertama penelitian dimulai dan lima tahun kemudian.

Dari pemeriksaan tidur didapati, ada 23 anak yang sebelumnya tak mendengkur, tapi setelah 5 tahun terdiagnosa dengan sleep apnea; 21 anak tetap menderita sleep apnea, sejak awal penelitian hingga akhir penelitian (selama 5 tahun); dan terakhir ada 41 anak yang awalnya menderita sleep apnea tetapi diakhir penelitian sudah sembuh.

Setelah dinilai perilaku pada anak-anak tersebut didapati bahwa anak yang baru menderita sleep apnea punya kemungkinan 4-5 kali lebih besar untuk alami gangguan perilaku. Sementara anak-anak yang menderita sleep apnea dari awal penelitian hingga akhir (selama 5 tahun) punya risiko alami gangguan perilaku sampai enam kali lipat.

Dibandingkan anak yang tak menderita sleep apnea sama sekali, anak dengan sleep apnea punya kemungkinan lebih besar untuk dilaporkan orang tuanya mangalami hiperaktivitas, gangguan konsentrasi, gangguan komunikasi, kemampuan sosial dan merawat diri yang kurang, serta gangguan perilaku.

Anak yang menderita sleep apnea dari awal hingga akhir penelitian dilaporkan orang tuanya memiliki gangguan belajar hingga 7 kali lipat. Penelitian ini juga laporkan bahwa anak-anak ini punya kemungkinan tiga kali lipat untuk mendapat nilai C atau lebih rendah.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa mendengkur pada anak memiliki risiko yang tidak kecil. Akibat sleep apnea pada anak tak bisa diremehkan. Kita sudah lama mengetahui bahwa mendengkur dan sleep apnea menyebabkan gangguan proses tumbuh kembang. Kini kita juga tahu akibatnya pada perilaku dan kemampuan belajar anak.

Kebanyakan sleep apnea anak disebabkan oleh bengkaknya kelenjar adenoid dan amandel, hingga perawatan utama biasanya diarahkan pada pengangkatan kedua kelenjar ini. Strategi menunda-nunda dan berharap kedua kelenjar ini akan mengecil dengan sendirinya sudah harus ditinggalkan. Kita lihat sendiri dari hasil penelitian ini betapa merugikannya jika sleep apnea dibiarkan tidak dirawat selama lima tahun.

Ingat juga, bahwa pembedahan bukanlah satu-satunya perawatan sleep apnea bagi anak. Ada juga perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Namun patut diakui bahwa penggunaan CPAP pada anak tidaklah mudah.

Diagnosa yang tepat diperlukan untuk menyingkirkan segala keraguan. Untuk itu diperlukan pemeriksaan yang seksama. Disamping pemeriksaan THT, diperlukan juga pemeriksaan tidur untuk tegakkan diagnosa adanya sleep apnea. Pemeriksaan tidur dengan polisomnografi (PSG) dapat dilakukan di laboratorium tidur yang tentu telah dibuat bersahabat dengan anak.

 


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui