Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/08/2013, 08:45 WIB

Ajang balap motor dunia pernah dikejutkan saat pebalap Valentino Rossi sembuh lebih cepat pasca-insiden patah kaki di Sirkuit Mugello, Italia, tiga tahun lalu. Dari rekomendasi dokter untuk rehat enam bulan setelah operasi, Rossi hanya butuh enam minggu untuk kembali ke arena.

Dua hingga tiga kali terapi hiperbarik per hari membuat kondisi saya cepat pulih. Selama terapi, saya duduk nyaman sembari melakukan latihan kecil fisik untuk memulihkan kebugaran fisik,” kata Rossi.

Rossi hingga kini masih berada di puncak kejayaannya. Keberhasilan metode pengobatannya menginspirasi pebalap motor dunia lainnya melakukan hal yang sama. Pebalap motor asal Inggris, Cal Crutchlow, hanya butuh tiga minggu untuk memulihkan cedera bahunya.

Hiperbarik adalah terapi pengobatan menggabungkan oksigen murni dan tekanan udara 1,3-6 atmosfer (ata) di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) alias Hyperbaric Chamber.

Berbeda dengan oksigen biasa yang diangkut darah, oksigen bertekanan udara tinggi mudah larut ke seluruh jaringan tubuh yang ada cairan, dari darah, sistem getah bening, saraf, hingga tulang. Semakin banyak oksigen terserap, akan semakin baik bagi kemandirian tubuh dalam memperbaiki jaringan yang rusak.

Sekretaris II Ikatan Dokter Hiperbarik Indonesia Erick Supondha mengatakan, terapi pengobatan ini awalnya populer sebagai bentuk pengobatan penyakit dekompresi akibat penyelaman tahun 1960-an. Gangguan itu disebabkan akumulasi nitrogen saat menyelam yang membentuk gelembung udara serta menyumbat aliran darah dan saraf. Gejalanya antara lain mati rasa, kelumpuhan, kehilangan kesadaran, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Seiring perkembangan ilmu kedokteran, terapi ini efektif mengobati beragam penyakit hingga menunjang gaya hidup sehat. Erick mencontohkan, kerusakan jaringan kulit dan darah akibat luka bakar atau diabetes bisa diminimalkan dengan terapi ini. Oksigen bertekanan tinggi efektif memicu sel dan jaringan rusak memperbaiki diri sendiri sehingga kerap digunakan untuk memperhalus kulit dan kebugaran tubuh.

Sebelum melakukan terapi hiperbarik biasanya orang akan diperiksa pembuluh darah menggunakan metode transcutaneous oxygen pressure (TcPo2) dan ultrasonografi doppler. Tujuannya melihat kondisi saraf dan pembuluh darah yang bisa diperbaiki sehingga target penyembuhan dan metode pengobatan bisa dilakukan lebih terencana. Hiperbarik tidak bisa menghidupkan jaringan pembuluh darah yang sudah mati. Pemeriksaan juga bermanfaat untuk melihat indikator keberhasilan terapi hiperbarik.

Calon pasien juga diperiksa kesehatannya. Jika terdeteksi ada gelembung udara dalam paru atau menggunakan alat pacu jantung, disarankan tidak mengikuti terapi. Penderita sinusitis dan asma biasanya mendapatkan pertimbangan klinis dokter.

Erick yang juga konsultan hiperbarik dari Rumah Sakit Bethsaida, Paramount Serpong, Tangerang, mengatakan, terapi ini dijamin tidak menggunakan obat dan operasi. Pasien hanya perlu duduk santai dalam RUBT sembari menonton film atau mendengarkan musik.

Rumah sakit tempat Erick bekerja memiliki RUBT berukuran 2,3 meter x 3,6 meter, terbuat dari baja dengan ketebalan 12-20 milimeter, dan toleransi tekanan udara hingga 6 ata.
Jenis RUBT

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 120/Menkes/SK II/2008 tentang Standar Pelayanan Medik Hiperbarik, ada lima RUBT yang diizinkan untuk terapi. RUBT Monoplace untuk pasien individu dengan kasus infeksi dan perawatan intensif.

RUBT Multiplace digunakan bersama 4-12 pasien. Ruangan ini dilengkapi dengan ruang perawatan intensif dan tempat bagi perawat. Masker udara wajib digunakan.

Selain itu, ada perangkat RUBT yang bisa dipindah-pindah (portable). RUBT ini berukuran kecil, kerap digunakan dalam operasi militer, penelitian, dan terapi khusus. Ada pula RUBT untuk latihan penyelaman serta RUBT untuk bayi baru lahir dan hewan. Meski berbeda bentuk dan ukuran, standarnya sama. Ada perawat dan operator hiperbarik yang memantau ketat proses terapi.

”Hiperbarik idealnya dilakukan 1 kali per hari selama 3 x 30 menit. Biaya satu kali terapi Rp 300.000-Rp 400.000. Terapi ini baik dilakukan semua orang dari semua kelompok usia,” katanya.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com