Kamis, 27 November 2014 22:58

LIFESTYLE / FOOD - ARTIKEL

Berani Coba "Raw Food" ala Sophie Navita?

Penulis : Unoviana Kartika | Jumat, 30 Agustus 2013 | 10:27 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
RODERICK ADRIAN MOZES
Aktris Sophie Navita berpose di sela-sela sesi pemotretan bersama sebuah majalah di Beezy Caffe, Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis (29/8/2013). KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES


KOMPAS.com -
Makanan yang diasup sehari-hari mencerminkan kesehatan tubuh kita. Sehingga bisa dikatakan, mengasup makanan sehat merupakan kunci dari tubuh yang sehat.

Di tengah mudahnya akses mendapatkan makanan cepat saji dan tinggi lemak, memilih untuk tetap mengasup makanan sehat merupakan sebuah tantangan tersendiri. Namun itu tidak membuat Sophie Navita (37) gentar untuk melanjutkan program hidup sehat yang sudah dijalani sejak lama. Bahkan istri penyanyi Pongki Barata ini justru semakin gencar menyebarluaskan apa yang dia lakukan dalam sebuah gerakan normal yang dinamakan "Indonesia Makan Sayur".

Indonesia Makan Sayur merupakan upaya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya sayur dan buah dalam diet sehari-hari. Salah satu yang kerap dikampanyekan Sophie dalam Indonesia Makan Sayur adalah makan sayuran mentah (raw food) tanpa ada proses pemasakan yang menghilangkan enzim "hidup" darinya. Sebaliknya, konsumsi sayur dilakukan dengan dicacah atau diblender menjadi smoothies.

Penasaran dengan hidup sehat yang dijalani Sophie? Yuk ketahui lebih jauh dari kutipan wawancara Kompas.com dengan wanita yang dijuluki sebagai Chef "Raw Food" Indonesia ini, saat ditemui Kamis (29/8/2013) di Jakarta.

Apa yang menarik Anda untuk mendalami makanan raw food?

Saya sudah lama saya terbiasa hidup sehat. Saya biasa makan makanan utuh yang tidak diproses terlalu banyak. Seperti saat mau makan singkong, ya hanya dicuci, dikupas, lalu direbus. Bukan dibuat keripik dengan banyak campuran bahan-bahan yang tidak alami. Makanan utuh merupakan makanan yang seharusnya lebih mudah dicerna oleh manusia. Kemudian saya ingin sehat, maka saya banyak membaca, menggali informasi soal pengaturan makan.

Segala macam diet saya pelajari, diet golongan darah, food combining, dan diet-diet lainnya. Namun metode-metode diet yang berbeda-beda itu membingungkan, metode ini bilang boleh, metode lainnya tidak. Sehingga saya tetap mencari metode yang terbaik hingga akhirnya sampailah saya pada raw food.

Saya pikir awalnya, raw food itu semacam sashimi, makanan ikan mentah dari Jepang. Ternyata raw food adalah gerakan yang sudah besar di inggris, makan makanan yang sama seperti aslinya tanpa banyak pengawetan dan proses lainnya. Metode mengolahnya paling hanya sebatas memotong atau memblender.

Darimana Anda dapat informasi tersebut?

Awalnya dari internet, kemudian setelah dicari-cari lagi, ternyata ada beberapa pakar di sini yang sudah tahu. Lama-lama saya unduh buku elektronik, dan beli buku-buku dari luar. Semakin membaca, saya jadi semakin tertarik. Akhirnya saya memutuskan untuk lebih mendalami lagi dengan cara sekolah langsung di Amerika, supaya lebih mengerti cara membuatnya juga.

Tepatnya tahun lalu, saya pergi ke California, Amerika. Saya bertekad untuk bisa ahli untuk hal ini. Sepulangnya saya dari sana, banyak yang menanyakan, kenapa tidak bikin restoran? Tapi saya pikir itu cukup sulit untuk dilakukan karena raw food belum populer di Indonesia. Jadi kalau segmen belum terbangun, siapa yang mau makan?

Maka saya memutuskan untuk memulai pada keluarga saya dulu, kemudian menyebarkan di media-media yang saya miliki, seperti twitter, blog, bahkan diunggah dalam bentuk video di Youtube.

Karena mengkonsumsi raw food Anda nilai baik, apakah semua orang harus makan raw food?

Saya bukan ektrimis, tidak memaksa semua orang harus makan raw food. Bahkan saya lebih menyarankan untuk diseimbangkan raw food dengan makanan lainnya.

Orang Sunda biasa makan lalap, orang Jawa makan terancam. Itu sudah bagus, karena ada kombinasi dengan makanan lainnya. Dan harusnya itu aman karena tidak dicampur produk-produk yang tidak alami.

Saya juga menyarankan untuk makan gula hanya dari gula buah aja. Semuanya natural! Intinya, makan berkesadaran.

Kemudian Anda membangun kesadaran tersebut dengan Indonesia Makan Sayur?

Saya menemukan cara-cara dan manfaat yang dahsyat dari raw food saat sekolah di Amerika. Dan saya pikir, kalau saya dan keluarga saya bisa, masyarakat juga harus bisa. Alasannya sederhana, Indonesia adalah negara agraris yang sangat subur. Lempar biji mangga saja bisa tumbuh pohon mangga.

Sayangnya, buah-buahan masih banyak yang impor. Padahal negera kita sangat kaya dengan jenis buah-buahan. Pisang saja ada banyak jenis, ada pisang ambon, emas, raja sereh, dan masih banyak lagi. Tapi kenapa harus impor?

Menurut saya, soal kualitas buah-buah Indonesia tidak kalah dengan buah impor, lebih bagus bahkan. Selain itu, buah-buah impor tidak terjamin terbebas dari kemungkinan rekayasa genetika.

Inilah salah satu faktor juga yang membuat saya tergerak untuk mengagas Indonesia Makan Sayur. Agar masyarakat lebih sadar, makanan utuh itu baik, dan lebih baik lagi yang berjenis organik produksi lokal.

Awalnya cuma sharing gaya makan saya dengan keluarga saya, tapi ternyata dapat respon yang luar biasa. Banyak orang yang mengupload green smoothies buatan mereka, sarapan sayur, tumis buncis, kacang hijau juga diupload. Jadi intinya mereka sudah sadar yang dimaksud dengan makanan utuh.

Kebanyakan orang masih berpikir makanan organik mahal, pendapat Anda?

Nah orang yang masih berpikir begitu tapi ternyata bisa membeli smartphone, atau rela antre panjang untuk barang-barang merk terkenal, saya harus katakan mereka miskin. Miskin mental. Seharusnya mereka lebih rela mengeluarkan uang untuk kesehatan daripada untuk urusan gengsi.

Beberapa kali Anda mengunggah resep yang Anda ciptakan untuk green smoothies, kenapa tidak ada lagi?

Awalnya saya mengunggah resep hanya sebagai informasi awal tentang adanya green smoothies. Selanjutnya saya biarkan masyarakat untuk berpikir, menciptakan kreasinya sendiri. Karena selera orang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan.

Daripada berpikir yang bukan urusannya, lebih baik berpikir untuk kesehatannya. Dan yang mampu berpikir untuk kesehatan mereka ya mereka sendiri, bukan saya. Jadi buatlah kreasi green smoothies sendiri, tentu hasilnya akan lebih memuaskan.

Apakah serat sayuran akan hilang begitu di-blender?

Tidak akan hilang dengan hanya diblender, baru hilang saat hanya diambil sarinya dengan juicer.

Apakah Anda hanya mengkonsumsi sayur dan buah saja? Darimana Anda dapat karbohidrat dan protein?

Sayuran itu sebenarnya sudah lengkap, mengandung semua yang kita butuhkan. Sayuran juga mengandung protein, pilihlah sayuran yang berdaun hijau gelap, karena cukup tinggi kandungan proteinnya. Selain itu saya peroleh protein dari kacang-kacangan. Kacang merah, kacang hijau, kenari, almond, dan kacang-kacang lainnya mengandung protein. Tapi saya tidak makan kacang kulit karena mengandung alfatoksin yang memicu sel tumor.

Karbo? Saya tetap makan kentang rebus, nasi cokelat, dan jenis-jenis karbohidrat kompleks lainnya. Ingat, saya tidak 100 persen makan raw food, saya juga makan makanan lain. Dan saya juga tidak menyarankan semua orang untuk 100 persen raw food, intinya dikombinasikan.

Ada jenis-jenis makanan tertentu yang jika dimasak kandungan gizinya meningkat, tomat misalnya. Bagaimana pendapat Anda?

Ya, memang tomat mengandung likopen yang meningkat kadarnya setelah dimasak. Tapi ingat, memanaskan makanan akan mematikan enzim di dalamnya. Jadi, itu kembali pada pilihan orangnya. Mau dapat likopennya atau enzimnya? Maka saya sarankan untuk kombinasikan keduanya.

Bagaimana menurut Anda tentang program diet untuk menurunkan berat badan?

Saya orang yang tidak mau sering-sering menyentuh timbangan, apalagi untuk diet yang menurunkan berat badan. Menurut saya, diet atau pembatasan dalam makan tidak perlu kecuali Anda sakit. Enggak mungkin 'kan orang sakit diabetes masih nekad minum sirup?

Lagipula, tubuh kita mampu mengatur metabolismenya sendiri. Kalau di negara panas, makan apapun pasti cenderung untuk minum banyak. Itu karena tubuh butuh air lebih banyak. Sementara itu, di daerah dingin, tubuh butuh membentuk lemak lebih banyak, sehingga cenderung kita konsumsi makanan-makanan tinggi lemak. Hanya saja, kita harus cari lemak yang sehat, seperti dari alpukat, bukan gorengan.

Jadi intinya, tubuh bisa mengatur sendiri kebutuhannya. Tugas kita adalah makan berkesadaran sehingga dengan sendirinya tubuh akan membentuk berat badan yang optimal.






Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui