Kamis, 21 September 2017

Health

Memahami Dunia Anak Autistik Lewat Lukisan

Shutterstock Ilustrasi


KOMPAS.com — Seni merupakan salah satu sarana untuk berekspresi. Melalui gambar, sederet kata, gerak tubuh, alunan musik, atau kreasi rupa, seseorang bisa mengeluarkan apa yang dipikirkan atau dirasakan dalam hati dan pikirannya. Melalui seni pula, seseorang dapat berkomunikasi dengan lingkungannya.

Hal ini pula yang dilakukan Nadhifandra Naladira (14), seorang anak penyandang autisme. Andra, sapaan akrabnya, mengalami autisme saat berusia 4 tahun. Lukisan menjadi media komunikasi antara Andra dengan lingkungannya, terutama keluarga. Melalui lukisan, Andra yang memiliki keterbatasan dalam berkata-kata, mengomunikasikan apa yang dilihat, dirasa, dan dipikirkannya. Hasil lukisan inilah yang kemudian coba dimengerti oleh sang ibu Meidy Fatmilianti (35) dan keluarganya.

“Andra memiliki daya visual yang sangat baik. Cara Andra melihat obyek berbeda sekali dengan orang kebanyakan,” kata Meidy.

Meidy mencontohkan, lukisan pasar yang dibuat Andra saat buah hatinya itu diajak ke Pasar Mayestik, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Saat itu, Meidy mengira lukisan yang dibuat Andra sesuai dengan apa yang dilihatnya. Apalagi saat itu Andra hanya melihat dari satu sudut pandang, layaknya orang kebanyakan. Namun, hasilnya sangat mengejutkan. Andra melukis gedung tinggi yang terdapat di kawasan Mayestik, dan membuat pasar tersebut terimpit di antara deretan bangunan pencakar langit.

Sudut pandang ini sungguh mengejutkan, apalagi Meidy tak pernah mengira angle inilah yang dipilih Andra. Meidy menceritakan, selama di perjalanan Andra bertingkah seperti anak umumnya. Andra yang memang tak banyak bicara, seolah memiliki dunia sendiri dan tampak asyik dengan pemandangan sekitar pasar. Andra juga tak banyak bertanya tentang apa yang dilihatnya.

“Pasar ini bukan yang pertama. Dulu pernah saat melihat pertunjukan musik, Andra melukis dari sudut pandang atas, samping, dan saat artisnya sedang perform. Padahal saat itu kita sedang duduk di kursi penonton,” kata Andra.

Melalui berbagai lukisan yang ada, kata Meidy, Andra seperti ingin mengungkapkan apa yang dipikirkan. Aneka hal yang dipikirkan terungkap dalam beragamnya lukisan yang dibuat dari satu obyek. “Andra itu seperti ingin terbebas dari apa yang mengungkungnya. Sangat ambisius dan antusias pada berbagai hal. Andra sangat suka melukis keadaan sekeliling,” kata Meidy.

Menanggapi kelebihan yang dimiliki Andra, spesialis kesehatan jiwa dr Melly Budhiman, SpKJ, mengatakan, penyandang autisme memang memiliki beragam respons. Berbagai respons ini tidak sama pada semua anak.

“Tanggapan ini sangat beragam. Ada yang lebih dominan musik, melukis, dan lainnya. Tidak ada yang sama antara anak autis,” kata Melly.

Oleh karena itu, Melly berharap, lingkungan di sekitar autis bisa membuka diri dan memberi perhatian. Dengan saling pengertian di antara keduanya akan tercipta jalur komunikasi. Selanjutnya lingkungan lebih mudah menerima penderita autis, sebaliknya penderita autis juga belajar lingkungan di balik alam pikirannya.

Penulis: Rosmha Widiyani
Editor : Asep Candra
TAG: