Selasa, 2 September 2014 13:41

PSIKOLOGI - ARTIKEL

Cara Hadapi Anak yang Kedapatan Nonton Video Porno

Penulis : Rosmha Widiyani | Sabtu, 2 November 2013 | 11:40 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
SHUTTERSTOCK
Batasi akses gadget pada anak.
KOMPAS.com- Kaget dan tidak percaya mungkin menjadi ekspresi orangtua saat mengetahui anaknya menonton video porno. Ekspresi ini kemudian berlanjut menjadi sikap menyalahkan berupa omelan, larangan, atau bentakan dari orangtua. Meski merupakan hal yang wajar, sebaiknya reaksi ini tidak terjadi.

Menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM-UI), Dr Rita DAmayanti SPsi, MSPH, ada tiga cara lebih baik menyikapi anak yang kedapatan nonton video porno.

1. Jangan dimarahi.
Bila mendapati anak menonton video porno, Rita menyarankan, supaya perlahan mendekatinya. Teguran perlahan seperti, “Nonton apa sih ?” sudah cukup membuatnya bersalah. Sebaliknya omelan akan membuatnya bertahan dan menyerang balik. Selanjutnya orangtua bisa berbicara dengan anak mengenai apa yang ditontonnya dan kerugian bila terus menyaksikan.

“Katakan padanya tontonan porno hanya membuang waktu. Setelah itu berilah pendidikan seks yang cukup dan penuhi rasa keingintahuan anak. Orangtua mungkin bisa memberi aktivitas lain pada anak, sehingga keinginan menonton tidak timbul kembali,” kata Rita.

2. Batasi akses.
Tidak bisa dipungkiri saat ini akses informasi terbuka luas. Asal memiliki sarana yang cukup, segala lapisan umur bisa mengakses informasi sesuai keinginan. Dengan kenyataan ini, sangat sulit bila orangtua ingin mengetahui segala macam informasi yang diakses anaknya.

Untuk mengatasi hal ini, Rita menyarankan, pembatasan akses pada gadget. “Misalnya untuk komputer bisa diletakkan di ruang tengah, sehingga anak sungkan bila ingin mengakses hal yang porno. Maksimalkan juga kedekatan, sehingga anak tidak curiga bila tiba-tiba orangtua masuk ke kamar anak untuk mengakses gadget atau sekedar berbicara,” kata Rita.

3. Maksimalkan pengawasan.
Berkaca dari kasus video asusila pelajar SMP, Rita menyarankan pengawasan yang diperketat baik rumah maupun sekolah. Hal ini untuk mencegah pelajar melakukan hal yang sama seperti dalam video.

“Ingat, rumah menjadi tempat rawan terjadinya hubungan seks, karena seringkali tidak terpikirkan. Untuk pengawasan rumah sebetulnya cukup dengan kedekatan antara orangtua dan anak. Kedekatan meyakinkan anak memegang teguh nilai moral sehingga tidak melakukan hal yang kurang pantas,” kata Rita.

Sedangkan untuk ruang kelas, Rita menyarankan penggunaan CCTV. Hal ini merupakan antisipasi sekolah dan ruang kelas yang sesungguhnya tidak pernah sepi, meski pelajaran telah usai. Pengawasan 24 jam mencegah hal serupa terulang kembali.


Editor :
Wardah Fajri

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui