Selasa, 24 Oktober 2017

Health

Makin Lengkap Imunisasi, Tumbuh Kembang Lebih Optimal

shutterstock
KOMPAS.com - Perhatikan jadwal imunisasi si kecil, apakah ada yang terlewati, baik imunisasi dasar maupun imunisasi lainnya. Atau adakah saran dokter terkait pemberian vaksin untuk mencegah penyakit tertentu yang masih menjadi pertimbangan sehingga imunisasi tertunda?

Imunisasi merupakan bagian dari pemantauan kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang optimal. WHO mengungkapkan, imunisasi mencegah 2-3 juta kematian tiap tahunnya. Imunisasi bukan hanya melindungi seseorang terhadap penyakit tertentu, namun juga bisa menurunkan angka kejadian (prevalensi) penyakit. Bahkan mengubah epidemi penyakit dan menghilangkan penyakit.

Dengan menjalankan jadwal imunisasi secara lengkap, tumbuh kembang anak juga lebih optimal karena kesehatannya terpelihara dengan baik.

Anggota Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Hartono Gunardi, Sp.A(K), mengutip data WHO, mengatakan prevalensi penyakit menular pada 2009 rata-rata turun 99,58 persen, berkat imunisasi.

"Risiko sakit, cacat, dan kematian tinggi jika tidak melakukan imunisasi," ungkap Hartono di sela peluncuran www.myvaccination.com, portal web mengenai informasi penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi, di Jakarta, Kamis (21/11/2013).

Hartono menerangkan, vaksin juga lebih aman dari antibiotik. Artinya mengobati penyakit justru lebih berisiko dibandingkan tindakan mencegah tertular penyakit dengan vaksinasi.

Vaksin memang punya efek samping, namun umumnya ringan dan sementara, seperti pegal atau demam. Kalau pun ada efek berat, hanya terjadi satu dari 100.000 hingga satu juta kasus.

Sebagai contoh, penyakit campak yang bisa menyebabkan pneumonia (radang paru), terjadi pada satu dari 20 anak.  Namun reaksi alergi dari imunisasi campak hanya terjadi pada satu dari 2.000 anak. Vaksin MMR juga bisa menimbulkan reaksi alergi, namun hanya terjadi pada satu dari satu juta kasus.

Besarnya dampak vaksinasi semestinya menjadi catatan bagi orangtua untuk tidak melewati jadwal imunisasi. Setidaknya anak mendapatkan lima imunisasi dasar di  antaranya:
* Hepatitis B setelah bayi lahir.
* BCG, Polio 1 saat usia bayi satu bulan.
* DPT Hepatitis  B-1, Polio 2 (Hib) saat usia bayi dua bulan.
* DPT Hepatitis B-2, Polio 3 saat usia bayi tiga bulan.
* DPT Hepatitis B-3, Polio 4 (Hib) saat usia bayi empat bulan.
* Campak di usia bayi sembilan bulan.

Vaksinasi lainnya di antaranya:
* Vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) di usia bayi 15 bulan, diulang pada usia 5-6 tahun.

* Vaksin Hib pada usia 2,4,6 bulan dengan pengulangan imunisasi pada usia 15-18 bulan. Vaksin PCV usia 2,4,6 bulan dengan pengulangan imunisasi pada usia 12-15 bulan. Kedua vaksin ini untuk mencegah risiko penyakit radang paru dan radang selaput otak yang disebabkan Haemophillus Influenzae tipe B dan Streptococcus pneumonia (Pneumococcus).

* Vaksin Rotavirus untuk mencegah risiko diare. Vaksin Rotavirus Monovalen diberikan pada usia 2 dan 4 bulan, sedangkan Pentavalen pada usia 2, 4, dan 6 bulan. WHO mengungkapkan rotavirus merupakan penyebab diare, dengan kasus 527.000 kematian per tahun, dan 85 persennya terjadi di negara berkembang.

* Vaksin tifoid untuk mencegah deman tifoid atau tifus. Vaksin diberikan pada anak di atas usia dua tahun dan vaksinasi diulang setiap tiga tahun.

* Vaksin Varisela atau cacar air, diberikan mulai usia satu tahun. Varisela bisa menyebabkan komplikasi radang paru dan radang otak.

* Vaksin Influenza, diberikan di bawah usia sembilan tahun sebanyak dua kali. Imunisasi ulangan satu kali setiap tahun.

* Vaksin HPV atau Human Papillomavirus.
"Ini vaksin terbaru untuk mencegah kanker leher rahim dan kutil kelamin," ungkap Hartono, menambahkan vaksinasi ini utamanya menyasar anak perempuan saat berusia 10 tahun.

Menurut Hartono, meski pemberian vaksin pada anak sebaiknya mengikuti jadwal yang disarankan, tak pernah ada kata terlambat jika imunisasi terlewati.

"Jika terlewat imunisasi masih bisa diberikan. Namun untuk Rotavirus ada batas waktunya yakni 15 bulan," jelasnya.

Sementara untuk vaksin PCV-Hib misalnya, masih bisa dilakukan meski lewat dari usia yang disarankan. Pada usia sembilan bulan misalnya, vaksinasi bisa dilakukan tiga kali dengan jarak antar imunisasi 4-8 minggu. Vaksin ini juga masih bisa diberikan saat anak berusia satu tahun dan dua tahun.

"Kalau satu tahun belum melakukan vaksinasi PCV, vaksin masih bisa diberikan dua kali. Sedangkan pada usia dua tahun vaksinasi dilakukan sekali. Namun risiko penyakit lebih tinggi pada anak di bawah usia satu tahun. Imunisasi lebih dini bisa mencegah penyakit," ungkapnya.

Imunisasi terbilang kompleks, dengan waktu berkala bahkan berulang. Melihat kondisi ini, dan minimnya informasi mengenai penyakit yang bisa dicegah dengan pemberian vaksin, GlaxoSmithKline (GSK) merilis prital web berisi informasi penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi.

Dewi Melani, Marketing Director Vaccines GSK mengatakan situs ini berisi info penyakit, aplikasi pengingat jadwal imunisasi, serta memberikan informasi lokasi klinik untuk imunisasi baik di dekat tempat tinggal dan di berbagai kota di Indonesia. Selain website, berbagai informasi terkait vaksinasi juga bisa didapatkan melalui Twitter dan Facebook. Namun, portal web ini belum melibatkan ahli untuk bisa interaksi langsung.










Penulis: Wardah Fajri
Editor : Wardah Fajri