Kamis, 21 September 2017

Health

Ini Dia, Alat Deteksi Diabetes Pertama di Indonesia

KOMPAS.com/Yatimul Ainun Alat Pendeteksi Diabetes ciptaan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, pertama di Indonesia.Rabu (26/2/2014).


MALANG, KOMPAS.com
— Laboratorium Bio Sains Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, menciptakan alat pendeteksi dini atau diagnostic kit dini penyakit diabetes mellitus (DM).

Alat yang diberi nama KIT GAD65 itu adalah alat pendeteksi pertama di Indonesia yang berhasil diciptakan para peneliti kedokteran yang mengajar di Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Ketua tim peneliti, Aulan Ni'am, menyebutkan, KIT GAD65 ini merupakan alat paling sederhana yang memiliki tingkat sensitivitas (akurasi) 100 persen dan tingkat supersitivitas sebesar 90 persen.

"Tim sudah melakukan uji pada 130 orang. Hasilnya 100 persen akurat. Tim berhasil menemukan alat tergolong susah. Saya dan tiga orang lainnya harus berjuang melahirkan alat ini," jelas Aulan, ditemui seusai acara peluncuran di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (26/2/2014).

Penelitian untuk melahirkan alat tersebut dilakukan selama 20 tahun, yang dimulai sejak 1998 dengan menghabiskan dana sekitar Rp 3,5 miliar. "Awalnya kami menggunakan hewan kelinci, tikus, setelah itu kita buat sel manusia melalui bakteri E-coli," bebernya.

Adapun cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Pertama, mengambil sampel darah pasien yang akan dites sebanyak 20 mikro. Darah tersebut lalu diteteskan pada sebuah alat pendeteksi bernama rapid test.

"Setelah diteteskan baru dikasih buffer agar darahnya bergerak di rapid test. Selanjutnya diberi signal reagent agar alat ini bekerja," ungkapnya.

Setelah diberi signal reagent, rapid test ditutup dan menunggu hasil selama 30 menit. "Pasien yang positif DM akan ditandai dengan dua garis, sedangkan yang negatif akan ditandai dengan satu garis," katanya.

Jika satu garis di bawah sendiri, kata Aulan, artinya invalid atau masih belum bisa terdeteksi. "Tak hanya untuk orang dewasa, alat ini juga bisa digunakan pada bayi yang baru lahir. Tes pada bayi ini untuk mengetahui potensi penyakit DM pada bayi akibat riwayat gen dari orangtuanya," katanya.

Kalau diambil darahnya langsung harus di atas dua tahun atau bisa juga diambil darahnya dari tali pusarnya.

Rencananya, KIT GAD65 ini akan diproduksi secara massal bekerja sama dengan PT Biofarma Tbk. Alat deteksi itu akan dibanderol dengan harga Rp 150.000 per alat.

"Karena untuk tes DM di laboratorium membutuhkan biaya minimal 150 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 juta," katanya.

Rektor UB, Yogi Sugito, menambahkan bahwa riset tersebut merupakan kontribusi yang telah dilakukan oleh pihaknya kepada masyarakat.

"UB berhasil menciptakan teknologi baru di bidang kesehatan dan ini adalah awal kebangkitan pelopor PTN di Indonesia," katanya.

Penulis: Kontributor Malang, Yatimul Ainun
Editor : Asep Candra