Sabtu, 25 Maret 2017

Health

Kebiasaan Anak Berkhayal Tingkatkan Risiko Obesitas

Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Saat berada di tengah kelas, pikiran anak-anak kadang terbawa hingga ke langit. Berkhayal. Sebelum hal itu menjadi kebiasaan dan berbahaya, para peneliti mengingatkan kita bahwa berkhayal meningkatkan risiko obesitas pada anak.

“Kami tahu bahwa otak memainkan peran besar pada obesitas di kalangan orang dewasa. Namun, belum tentu pada anak-anak. Untuk itu, penelitian ini ingin melihat lebih jauh fungsi otak mereka agar lebih memahami apa yang terjadi pada anak-anak obesitas,” kata pemimpin penelitian, Betty Ann Chodkowski, PhD.

Studi yang dipublikasikan pada jurnal Heliyon ini menganalisis data dari Enhanced Nathan Kline Institute - Rockland Sample. Informasinya berasal dari 38 anak-anak kelebihan berat badan berusia 8-13 tahun. Info berat badan, pola makan, dan scan otak dilakukan untuk mendukung penelitian tersebut.

Studi ini mengidentifikasi tiga bagian di otak yang berkaitan dengan berat badan dan pola makan. Lobus parietal inferior terkait dengan penghambatan dan kemampuan untuk mengesampingkan respons otomatis seperti makan.

Sementara itu, lobus frontal dikaitkan dengan sikap impulsif dan nucleus accumbens berhubungan dengan sistem imbalan.

Dari hasil studi, diketahui bahwa anak-anak yang makan lebih banyak, bagian otaknya yang mengatur sifat impulsif tadi lebih kuat dibanding bagian otak yang menghambat respons makan. Sebaliknya, anak-anak yang berupaya menghindari makanan, lobus parietal inferiornya lebih kuat dibanding lobus frontal.

Para peneliti mengatakan, otak pada orang yang kelebihan berat badan terkait dengan sesuatu yang membuat mereka rentan makan berlebihan. Ketika berkhayal, anak gagal mengingat apakah mereka sudah makan terlalu banyak atau belum.

Alhasil, mereka jadi terus-terusan mengonsumsi makanan. Untuk itu, para peneliti menyarankan agar anak-anak dilatih fokus sedari sekarang agar tidak obesitas.

Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber: Intisari Online,