Sabtu, 25 Maret 2017

Health

Setiap Jam, Satu Orang Bunuh Diri

TOTO SIHONO Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS — Meski rata-rata dalam satu jam satu orang bunuh diri di Indonesia, bunuh diri belum dianggap masalah serius. Sebagian besar di antara mereka penduduk usia produktif, 15-29 tahun. Jika tak segera ditangani, bunuh diri akan jadi masalah besar seiring melonjaknya penduduk usia produktif dan ketatnya persaingan hidup.

”Bunuh diri belum dianggap sebagai kegawatan medis dan kesehatan mental serius,” kata Perwakilan Indonesia untuk Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Internasional (IASP), yang juga psikiater di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo-Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Nalini Muhdi, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (7/9).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 menyebut prevalensi bunuh diri di Indonesia mencapai 3,7 per 100.000 penduduk. Dibandingkan negara-negara Asia lain, prevalensi itu lebih rendah. Namun dengan 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam.

Di dunia, 800.000 orang bunuh diri tiap tahun. Prevalensi bunuh diri tertinggi ada di Korea Selatan, Sri Lanka, Jepang, India, Guyana, Suriname, dan negara- negara bekas Uni Soviet.

Namun, Nalini mengingatkan, angka itu hanya puncak gunung es fenomena bunuh diri. Jumlah tak tercatat mencoba bunuh diri tetapi gagal dan yang berpikiran bunuh diri jauh lebih besar.

Pendataan bunuh diri pun sulit karena sebagian kasus dikelompokkan sebagai kecelakaan lalu lintas. Hal itu misalnya, kasus kecelakaan mobil menabrak pohon atau tersambar kereta api bisa murni kecelakaan ataupun sengaja menabrakkan diri.

Meski tak ada data pasti, bunuh diri mudah ditemukan. Maret-Agustus 2016 di Jakarta, ada beberapa kasus bunuh diri. Caranya biasanya gantung diri dan menjatuhkan diri dari gedung bertingkat atau jembatan layang. Pemicunya antara lain sakit kronik, lupa ingatan, terjerat utang, dan putus hubungan asmara.

Kompleks

Secara umum, bunuh diri lebih banyak dilakukan pria, tak mengenal kelas ekonomi, pekerjaan, tingkat kecerdasan, ataupun kelompok umur. Bunuh diri bisa dilakukan anak, remaja, dewasa muda, dan lanjut usia.

Setiap kasus bunuh diri bersifat unik. Penyebabnya tak diketahui pasti, tetapi biasanya gabungan berbagai faktor risiko kompleks. ”Bunuh diri tidak bisa disederhanakan menjadi soal keimanan atau pola asuh saja,” kata Benny Prawira, Koordinator Into The Light, komunitas pencegahan bunuh diri, di Jakarta.

Faktor risiko yang memicu bunuh diri bisa berasal dari faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Dari faktor biologis, bunuh diri bisa dipicu soal genetika, gangguan keseimbangan neurotransmiter di otak yang membuat rentan depresi, ataupun efek samping obat tertentu. ”Seseorang yang punya riwayat keluarga pernah bunuh diri berisiko lebih besar bunuh diri,” kata Benny.

Dari aspek psikologis, bunuh diri bisa dipicu gangguan kepribadian ambang; memiliki gangguan psikotik berat, seperti skizofrenia dan bipolar; kepribadian suka menyalahkan diri. Pemicu lain adalah pemahaman diri atas penyakit kronik yang diderita.

Sementara faktor sosial pemicu bunuh diri antara lain tak punya ikatan kuat keluarga atau teman dan akses ke layanan kesehatan jiwa terbatas. Faktor lain ialah sistem lingkungan tak mendukung, seperti tak ada pagar di jalan layang yang memungkinkan seseorang melompat bunuh diri.

Meski demikian, bunuh diri bisa ditekan karena faktor pelindung, seperti tak kecanduan alkohol, tak memakai obat terlarang, dan agama, sehingga otak melepas lebih banyak hormon kebahagiaan. Semua pihak perlu mengambil upaya penyelamatan agar bunuh diri tak terus bertambah. (WAD/MZW)

 

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 8 September 2016, di halaman 1 dengan judul "Setiap Jam, Satu Orang Bunuh Diri".

Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: Harian Kompas,