Minggu, 26 Maret 2017

Health

dr Andri, SpKJ, FAPM

Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Jangan Maklum dengan Pikun

Thinkstockphotos Ilustrasi

Demensia yang oleh awam mungkin lebih dikenal sebagai pikun bukanlah suatu hal yang maklum di usia tua. Orang sering mengidentikan penuaan dengan penurunan kogntif. Pikun sering kali dianggap hal yang wajar terjadi pada orang tua.

Sebenarnya ada hal yang berbeda antara pikun dengan penurunan kognitif biasa pada orang tua. Tidak heran para aktivis demensia Alzheimer mengatakan Jangan Maklum Dengan Pikun. Hari ini 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia.

Penyakit Alzheimer adalah penyakit pikun/demensia yang banyak ditakuti oleh orang tua. Saya selalu ingat Presiden USA Ronald Reagen jika bicara tentang Alzheimer. Walaupun meninggal di usia di atas 90 tahun, saya yakin beliau sudah tidak ingat siapa-siapa lagi sebelum meninggal dunia.

Kondisi yang parah dari Alzheimer bisa membuat orang seperti hilang ingatan semua memori yang ada di kepalanya dan hidup seperti di dunianya sendiri. Kesempatan kali ini saya ingin sedikit memberikan gambaran tentang bagaimana mengenali masalah pikun sejak dini dan bagaimana mengatasinya.

Bukan lupa biasa

Fungsi daya pikir/kognitif adalah suatu fokus gangguan pada pasien demensia. Beberapa fungsi kognitif berkaitan dengan fungsi di bawah ini :
1. Memori
2. Berkomunikasi dan Bahasa
3. Kemampuan untuk fokus dan memperhatikan sesuatu
4. Fungsi untuk menilai dan mempunyai alasan akan aktifitas yang dilakukan
5. Persepsi penglihatan

Pada pasien demensia, setidaknya dua fungsi kognitif utama tersebut di atas terganggu. Pasien dengan demensia biasanya memliki masalah dengan memori jangka pendek. Biasanya mereka memiliki masalah untuk hal-hal seperti lupa menaruh dompet, membayar tagihan, merencanakan dan mempersiapkan makan, lupa janji ketemu atau sekedar keluar bersama tetangga.

Fungsi memori jangka panjangnya sendiri kebanyakan tidak bermasalah, sehingga jangan salah jika mereka masih bisa menceritakan hal-hal di masa lalu dengan baik, tapi malah lupa jika ditanya makan apa saja sejam yang lalu. Ini yang sering dilupakan oleh keluarga pasien demensia. Keluarga biasanya masih menganggap ingatan pasien demensia cukup bagus karena masih mampu mengingat hal-hal yang lama.

Gejala perasaan dan perilaku

Kebanyakan pasien demensia yang berkonsultasi dengan saya di praktek lebih banyak mengalami gangguan dalam perasaan dan perilaku. Pasien biasanya dibawa oleh keluarga karena sering marah-marah dan mencurigai adanya orang yang mau berbuat jahat kepada pasien.

Pasien demensia juga sering mengatakan melihat sesuatu misalnya orang-orang yang sudah meninggal yang datang kembali. Gejala paranoid mirip pasien gangguan skizofrenia ini yang lebih sering dikenali keluarga dan akhirnya membawa pasien menemui psikiater.

Biasanya gejala lupa lebih dianggap hal yang biasa oleh keluarga sehingga pada fase awal ini tidak banyak orang yang menyadarinya. Gejala yang dikenal dengan Behavioral and Psychological Symptoms of Demensia (BPSD) ini biasanya meliputi adanya suasana perasaan depresif atau juga kekacauan dalam proses berpikirnya.

Kondisi sangat mengganggu pasien dan terutama keluarga karena sering kali pasien berperilaku tidak bertujuan dan membuat masalah. Ada yang bisa keluar malam-malam dari rumah karena merasa dia tidak tinggal di rumahnya atau berperilaku aneh. Itulah yang membuat pasien demensia yang mengalami BPSD juga sering hilang dari rumah dan ditemukan bahkan dalam jarak yang jauh dari rumahnya.

Bisa diperlambat

Walaupun demensia berjalan progresif, biasanya kondisi ini bisa dicegah perburukannya bila diketahui secara dini. Beberapa penelitian membuktikan bahwa terapi dengan obat demensia golongan kolinesterase inhibitor (contoh Donepezil) pada demensia ringan sampai sedang mampu memperbaiki fungsi kognitif , berpikir dan proses bertujuan dalam pemikiran.

Sayangnya belum banyak terbukti baik pada demensia yang berat. Itulah mengapa deteksi dini demensia sangat penting. Selain obat kolinesterase inhibitor, vitamin E juga dianggap mempunyai peranan untuk memperlambat progresifitas demensia. Terapi hormonal dengan estrogen tidak disarankan.

Gangguan perasaan dan perilaku seperti BPSD juga perlu mendapatkan penanganan yang baik dan tepat. Terapi dengan obat antipsikotik dan antidepresan SSRI bisa disarankan pada kasus-kasus gangguan psikotik dan depresif pada pasien demensia. Inilah yang menjadi fokus utama psikiater yang menangani kasus-kasus demensia dengan BPSD.

Tetap berolahraga, melakukan modifikasi perilaku dan menjadwalkan kegiatan termasuk toilet training adalah hal yang sangat diperlukan. Caregiver dalam hal ini keluarga atau pengasuh perlu untuk memahami hal ini. Berjalan di sekitar rumah di pagi hari yang cerah sangat baik dan terbukti secara penelitian.
Mendengarkan musik terutama saat makan dan mandi terbukti secara ilmiah juga mengurangi masalah berkaitan dengan perilaku. Tentunya perlu mendengarkan musik yang menenangkan.

Demensia memang masih menjadi masalah saat ini karena lebih dari 10 persen populasi di atas 65 tahun dan lebih dari 50 persen populasi di atas 85 tahun rentan mengalami hal ini. Dengan usia harapan hidup yang semakin baik, maka problem demensia ini akan semakin besar.

Cegah sebelum terlambat dan Jangan Maklum Dengan Pikun. Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam Sehat Jiwa.

Penulis: dr Andri, SpKJ, FAPM
Editor : Lusia Kus Anna