Selasa, 28 Februari 2017

Health

Menemukan Kanker Sedini Mungkin, Memperpanjang Usia

Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Pengobatan kanker di Indonesia sebenarnya tak banyak tertinggal dari negara lain. Untuk meningkatkan peluang kesembuhan, yang harus diupayakan adalah menemukan kanker sewaktu masih dini.

Sejak berusia 40 tahun, Sri Suharti yang kini berusia 63 tahun selalu melakukan pemeriksaan mamografi secara rutin, atas dasar dokter langganannya. Sebelumnya ia setiap tahun melakukan pap smear atau deteksi dini kanker serviks.

"Selama tiga tahun berturut-turut mamografi hasilnya selalu negatif, sehingga saya baru memeriksakan payudara lagi di usia 48 tahun. Pada saat itulah dicurigai ada sesuatu sehingga saya dirujuk ke dokter spesialis kanker atau onkologi," kata ibu tiga anak ini.

Hasil pemeriksaan lebih lanjut memang menemukan adanya sel kanker berupa benjolan kecil, hanya sekitar 1,8 cm. "Waktu benjolannya bahkan belum teraba. Dokter lalu menganjurkan saya minum obat selama setahun. Tapi ternyata benjolannya tetap ada sehingga saya disarankan biopsi, lalu operasi," katanya.

Di tahun 2002, Sri menjalani operasi kanker payudara stadium 1B di payudara kirinya. Operasinya dilakukan dengan melakukan sayatan kecil untuk mengangkat tumornya. Setelah itu ia pun menjalani radioterapi dan hingga kini tubuhnya dinyatakan bersih dari sel kanker.

"Saya beruntung karena kankernya ditemukan pada stadium awal berkat saran dokter yang selalu mengingatkan pentingnya deteksi dini. Semoga setiap dokter juga melakukannya, rajin menyarankan pasien untuk memeriksakan diri," katanya.

Kurang

Meski sosialisasi informasi kanker payudara digalakkan sejak lama, kesadaran kaum perempuan melakukan deteksi dini penyakit itu masih rendah. Sebanyak 70 persen pasien yang datang ke Rumah Sakit Kanker Nasional Dharmais dalam kondisi lanjut, stadium III dan IV. Akibatnya, risiko kematian penderita tinggi.

Menurut Dr.Niken Palupi, MKM, Kasubdit Pengendalian Penyakit Kanker –Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, saat ini baru 3,4 persen atau 1,5 juta cakupan deteksi dini pada kelompok perempuan usia 30-40 tahun.

"Padahal, targetnya adalah 37 juta perempuan. Program deteksi dini sudah dimulai sejak 2009. Rendahkanya cakupan deteksi dini ini salah satunya karena kesadaran yang rendah," katanya dalam acara diskusi Mari Bersama Kalahkan Kanker Payudara yang diadakan oleh Yayasan Kusuma Buana dan Roche Indonesia di Jakarta (20/10/2016).

Salah satu deteksi dini yang bisa dilakukan perempuan adalah memeriksa payudara sendiri (sadari) untuk menemukan ada tidaknya benjolan. Namun, gerakan itu jarang dilakukan perempuan. Padahal, mayoritas benjolan di payudara adalah tumor, bukan kanker. Untuk memastikannya, mereka harus diperiksa dokter onkologi.

Niken menambahkan, saat ini masyarakat juga didorong untuk melakukan Sadanis (pemeriksaan payudara klinis), yakni deteksi kanker payudara oleh tenaga terlatih. Cukup dengan perabaan saja untuk mencari adanya benjolan.

"Dalam Sadanis juga sekalian dilakukan pemeriksaan pemeriksaan IVA untuk deteksi kanker serviks," ujarnya.

Menurut Dr.Aru Sudoyo, Sp.PD-KHOM, kurangnya kesadaran melakukan Sadari atau Sadanis bukan hanya pada masyarakat awam, tapi juga para dokternya.

Oleh karena itu, saat ini Perhimpunan Onkologi Indonesia memiliki program pemberdayaan dokter, terutama dokter umum untuk menangani kanker. "Perlu juga perubahan paradigma pendekatan penyakit kanker, dari perspektif menyembuhkan menuju pencegahan," katanya.

Upaya promosi pencegahan penyakit, termasuk deteksi dini, menurut Prof.Hasbullah Thabrany, sebenarnya bisa didukung oleh dana cukai rokok. "Menurut aturan sebenarnya 50 persen dari dana cukai rokok untuk biaya pencegahan penyakit, tapi saat ini baru 10 persen saja," katanya.  


Editor : Lusia Kus Anna