Selasa, 21 Februari 2017

Health

Risiko Penyakit akibat Seks Bebas di Usia Remaja

Shutterstock Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengetahuan yang salah akan kesehatan reproduksi dan kesulitan menyesuaikan diri di masa remaja dapat membuat remaja rentan melakukan seks pranikah. Perilaku tersebut beresiko, mulai dari masalah fisik hingga mental.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari RS Siloam Kebon Jeruk Jakarta, Ferdhy Suryadi Suwandinata menjelaskan, seks bebas mengundang risiko infeksi menular seksual, seperti terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus) dan HPV (human papilloma virus). Apalagi jika sering bergonta-ganti pasangan.

"HPV bisa menyebabkan kutil kelamin hingga kanker," kata Ferdhy.

Risiko seks bebas pada remaja bisa berlanjut jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Ferdhy mengatakan, secara fisik, organ reproduksi remaja berusia di bawah 20 tahun belum siap untuk mengandung.

"Dari segi hormonal juga belum matang, lalu secara psikis juga belum matang," ujarnya.

Akibatnya, remaja yang hamil berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, hingga meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi. Secara psikologis, kehamilan yang tidak diinginkan bisa membuat calon ibu tidak peduli dengan kehamilannya.

Ibu yang stres, bahkan depresi, akan sangat mengganggu pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang dibutuhkan bayi pun menjadi tidak seimbang.

Kehamilan yang tidak diinginkan pada akhirnya bisa membuat remaja rentan melakukan aborsi yang tidak aman. Pilihan tersebut akan berakibat fatal, mulai dari pendarahan, infeksi, hingga kematian ibu.

Untuk itu, pendidikan seks sejak dini, termasuk bagaimana menjaga kesehatan reproduksi sangat penting diberikan sejak dini. Orangtua juga seharusnya bisa mendampingi anak-anaknya melalui masa remaja sehingga anak tidak mudah mengikuti pengaruh negatif dari lingkungan.

Penulis: Dian Maharani
Editor : Lusia Kus Anna