Sabtu, 23 September 2017

Health

Sindrom "Baby Blues" Juga Bisa Menyerang Ayah

Ilustrasi.

KOMPAS.com - Tak hanya ibu, sindrom baby blues nyatanya juga bisa dialami oleh para ayah dan berpengaruh pada perkembangan bayi.

Sebuah studi menemukan, sebanyak 23 dari 1.000 ayah akan menderita stres tinggi di trimester pertama kehamilan pasangan mereka.

Sekitar 43 dari 1.000 ayah juga dilaporkan merasa depresi dalam kurun waktu setidaknya sembilan bulan setelah bayi lahir.

Sama dengan baby blues yang dialami oleh ibu, ayah juga perlu mendapatkan penanganan depresi.

Studi yang sama menunjukkan, kebanyakan ayah cenderung lebih banyak diam. Padahal, efek dari daddy blues yang tak ditangani ini dapat menurunkan suasana hati, emosi yang mudah meledak, hingga hubungan emosi yang renggang dengan bayi mereka.

Anak yang lahir dari ayah dengan depresi juga lebih mungkin menderita masalah emosional dan perilaku.

Akademisi dari Universitas Auckland, Selandia Baru, melibatkan 3.523 orang berusia 16-63 tahun dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry ini.

Baik ibu hamil dan ayah, keduanya mengalami perubahan kadar hormon dan struktur otak, tapi pihak wanita dinilai lebih mungkin untuk menderita depresi.

Pemimpin studi Dr Lisa Underwood mengungkapkan, bahwa pengaruh ayah pada anak-anak telah diakui sangat penting bagi perkembangan psikososial dan kognitif.

“Mengingat bahwa depresi ayah dapat memiliki efek langsung atau tidak langsung pada anak-anak, penting untuk mengenali dan mengobati gejala depresi yang dialami ayah sejak dini. Screening perlu ditargetkan pada semua calon ayah dan ayah baru.”

Abigail Wood, dari National Childbirth Trust, menambahkan, banyak ayah baru yang merasakan stres dan kecemasan sebelum dan setelah kelahiran bayi mereka, beberapa akan menderita depresi antenatal dan postnatal.

Walau bagi ibu dan ayah, kehamilan seringkali merupakan salah satu momen paling bahagia dalam hidup mereka, tetapi perubahan besar dan transformasi total dapat menyebabkan stres, kecemasan dan depresi prenatal.

Jadi, jika ada ayah yang khawatir tentang kesehatan mental mereka, sangat penting untuk diketahui bahwa mereka tidak sendirian.

“Hal ini wajar dan ayah perlu berbicara dengan dokter atau spesialis kesehatan mental agar tak berdampak pada kehidupan dirinya maupun anak-anak,” tutur Wood.

 

Penulis: Ayunda Pininta
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber: The Sun,
TAG: