Sabtu, 25 Maret 2017

Health

Tiga Ciri Nyeri Pinggang karena Saraf Kejepit

Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Setiap orang dewasa umumnya pernah merasakan nyeri pinggang. Namun, tidak semua nyeri pinggang disebabkan karena saraf kejepit. Nyeri pinggang biasa umumnya disebabkan karena kekakuan otot dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Menurut dokter Muki Partono, Sp. OT dari Rumah Sakit Pondok Indah Group, untuk mengetahui adanya indikasi saraf kejepit atau herniated nucleus pulposus (HNP) dibutuhkan pemeriksaan dan evaluasi mendalam. Tapi, setidaknya ada tiga ciri yang bisa menjadi pertanda saraf kejepit.

“Orang dengan HNP biasanya punya ciri khas,merasakan nyeri pinggang saat melakukan aktivitas tertentu, rasa nyeri juga menjalar dari pinggang ke kaki, ataupun rasa nyeri pada lutut. Kalau nyeri pinggang biasa cepat sembuhnya, tapi kalau HNP nyerinya akan bertahan lama,” jelasnya dalam diskusi media Percutaneous Laser Disc Decompression, di Tesate, Jakarta (7/3).

Dokter Muki menekankan, ketika mulai merasakan tanda-tanda tersebut, ada baiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Karena jika tak segera mendapat pengobatan yang tepat, tentu akan mengganggu aktivitas dan bisa menyebabkan kelumpuhan.

Saraf kejepit terjadi akibat tekanan di bagian saraf, terutama di bagian pinggang atau leher. Tekanan inilah menyebabkan penonjolan inti dari diskus yang menjadi bantalan tulang sehingga menekan saraf.

Pengobatan saraf kejepit tidak selalu dengan operasi. Bisa dilakukan terapi konservatif (tidur di atas matras keras, fisioterapi, olahraga), pemberian obat nyeri, pemberian obat melalui suntikan, radiofrekuensi, dan teknologi laser.

“Harus diakui, orang Indonesia itu takut sekali operasi. Kalau masih ada pilihan lain, pasti akan memilih yang lain. Sekarang sudah ada percutaneous laser disc decompression yang menurut saya pribadi lebih efektif dari radiofrekuensi,” ungkap dokter Muki.

Ia pun mengatakan, terapi laser tersebut bisa dilakukan bila nyeri pinggang sudah menjalar ke kaki, refleks tendon menurun, gagal terapi konservatif selama 6 minggu, ataupun pada pasien HNP di atas usia 50 tahun.

 

Editor : Bestari Kumala Dewi
TAG: