Minggu, 26 Maret 2017

Health

Lingkaran Setan Korban dan Predator Seksual

Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Lingkaran setan antara korban yang akan tumbuh menjadi seorang pelaku atau predator seksual sudah lama diketahui para ahli. Perlu strategi khusus untuk memutus rantai itu.

Wawan (27), salah seorang admin grup Facebook pedofil untuk bertukar foto dan video porno anak dan juga pelaku kekerasan seks pada dua anak perempuan, diketahui juga pernah menjadi korban kekerasan seksual ketika kecil.

Kisah serupa juga ditemukan pada beberapa kasus paedofil atau pelecehan seksual pada anak lainnya.

Penelitian terhadap pedofilia, orang dewasa atau remaja berusia di atas 16 tahun yang punya ketertarikan seksual pada anak-anak, menyebutkan bahwa risiko korban menjadi predator memang besar, dengan syarat tertentu.

Risiko itu lebih besar pada korban anak-anak yang memiliki difungsi keluarga. Misalnya, ada riwayat kekerasan, jadi korban kekerasan seks oleh perempuan, orangtua kurang memberi kasih sayang, dan kurang pengawasan.

"Korban kekerasan seksual belum tentu akan tumbuh jadi pelaku kekerasan, kecuali jika keluarga anak itu kurang memberi perhatian," kata psikiater dan peneliti Arnon Bentovim seperti dikutip dari WebMD.

Menurut Reza Indragiri Amriel, Kabid Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, siklus kekerasan seksual memang bisa terjadi demikian. "Korban memang bisa jadi predator," katanya.

Reza menjelaskan, hal itu terjadi jika proses rehabilitas korban kekerasan seksual gagal. Penyebab lainnya adalah ekspresi kebencian korban yang dilampiaskan kepada individu pengganti.

"Bisa pula sebagai wujud sexualization of behavior, perilakunya kadung menjadi pecandu seks," kata Reza.

Rehabilitasi korban, imbuh Reza, adalah hal yang sangat penting dan menjadi hak seperti diatur Undang-undang. "Karena itu kami mengusulkan basis data korban sebagai bagian dari instrumen penanganan atau rehabilitasi sepanjang hayat," paparnya.

Rehabilitasi bisa dilakukan secara terpadu oleh guru, dokter, psikolog, polisi, dan juga orangtua.

Di lain pihak, menurut Reza, orangtua korban juga perlu diberi edukasi khusus. Pada banyak kasus, seperti yang terjadi pada kasus paedofil di Sukabumi, terjadi pemahaman yang keliru dari orangtua terhadap integritas tubuh anak.

"Ada sebagian orangtua korban yang menganggap integritas tubuh anak bukan persoalan sama sekali asal ada keuntungan finansial dari si pelaku. Sangat merisaukan," katanya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Lusia Kus Anna
TAG: