Senin, 27 Maret 2017

Health

Apakah Celana Kompresor Bikin Lari Lebih Kencang?

Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Reputasi celana kompresor makin naik ketika olahraga lari marathon semakin digemari. Celana ini dipilih pelari karena membantu kinerja saat lari. Harganya dalam rupiah hampir mencapai dua juta. Benarkah para pehobi lari yang ingin menjajal rute full marathon sejauh 42 km membutuhkan celana ini?

Baju kompresor sebenarnya sudah lama digunakan untuk meningkatkan aliran darah dan mengurangi pembengkakan. Pembengkakan itu disebut edema dan merupakan efek samping dari berbagai kondisi, dari kehamilan sampai pengobatan kanker.

Orang yang mengalami edema sering diminta dokter mengenakan stoking kompresor. Bahan kompresor tradisional seperti kaos kaki dan penutup lengan ini menurut Mayo Clinic bekerja dengan menekan organ tangan dan kaki untuk mencegah cairan (darah) berkumpul di jaringan.

Bahan kompresor itu sangat ketat di pergelangan kaki atau tangan dan kadar tekanan itu berkurang di daerah torso. Pakaian itu bekerja dengan memandu darah menuju jantung dan meningkatkan kecepatan dan volume di tempatnya mengalir.

Untuk urusan olahraga, aparel kompresor dibuat untuk membantu meningkatkan kinerja dan pemulihan lewat metode yang sama.

"Di dunia atletik, pemikiran di balik pakaian kompresor adalah untuk meningkatkan aliran darah atau oksigen ke otot," kata James Borchers, MD, direktur divisi kedokteran olahraga di Ohio State University Wexner Medical Center.

Pakaian ketat itu bakal mengurangi kejadian kram, meningkatkan kinerja dan memaksimalkan pemulihan (antara lain dengan mengurangi nyeri otot setelah olahraga). Masalahnya, studi-studi di bidang ini masih sedikit dan belum ada kesimpulan nyata bahwa baju kompresor ini bekerja seperti yang diiklankan.

"Studi yang pernah dilakukan hanya melibatkan jumlah orang yang sangat sedikit seperti 10 orang," kata Reed Ferber, peneliti dari University of Calgary dan direktur the Running Injury Clinic. Dan apa pun hasil penelitian itu, studi lainnya membuktikan kebalikannya," tambahnya. Ini tentu menyulitkan kita mengambil kesimpulan untuk populasi atlet yang lebih besar.

Berdasarkan hasil riset yang ada dan testimoni pemakainya, peneliti menyebutkan pakaian kompresor tampaknya bermanfaat untuk pemulihan dan celana khusus lari itu tak bakal menjadikan kita atlet yang lebih baik.

"Sebagian besar studi mengatakan celana itu tak akan menolong kinerja saat lari. Tak bakal membantu memperbaiki waktu tempuh saat half marathon, trail run, 5 km atau bahkan lari sprint," kata Ferber.

Satu-satunya manfaat nyata adalah waktu pemulihan yang sedikit lebih cepat. Alasan mengapa bahan kompresi bermanfaat demikian mungkin sebenarnya lebih bersifat psikologis daripada fisiologis.

"Perbaikan kinerja yang dialami pelari kemungkinan lebih bersifat persepsi apa yang dirasakan pemakainya ketika lari daripada perbaikan fisiologis sesungguhnya," kata Borchers.

"Ketika kita merasakan pengerahan tenaga lebih rendah, kita jadi mampu lari lebih lama tanpa kelelahan," kata Ferber.

Tak ada salahnya dengan hal itu. Faktanya, kinerja saat olahraga, khususnya lari adalah perkara mental, jadi apa pun yang membuat lari jadi lebih enteng akan dipilih dan dilakukan.

"Ini jelas manfaat psikologis ketika orang mengenakan celana kompresor mereka merasa lebih enak, pulih lebih cepat," kata Borcher.

Apakah mekanisme itu fisiologis atau psikologis, Licameli mengatakan pakaian kompresor dapat menjadi bagian yang membantu dalam teka teki pemulihan. "Sebagai bagian dari strategi pemulihan, memakai celana kompresor di daerah yang terkena selama 12 hingga 24 jam setelah olahraga tampaknya sangat efektif," katanya.

Kendati merek pakaian kompresor satu dengan yang lain memiliki "tingkat" kompresi yang berbeda, studi belum membuktikan jika satu level kompresi lebih bermanfaat dari pada yang lain.

Penulis: Kontributor Health, Dhorothea
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: SELF,