Senin, 27 Maret 2017

Health

Bunuh Diri dapat Dicegah Jika Masyarakat Peka dan Peduli

SHUTTERSTOCK Ilustrasi.

KOMPAS.com - Angka kejadian bunuh diri di Indonesia tergolong tinggi, dalam satu jam rata-rata satu orang melakukan bunuh diri. Tindakan ini sebenarnya dapat dicegah.

Orang yang ingin melakukan bunuh diri pada umumnya menunjukkan gejala. Sekitar 90 persen kasus bunuh diri dipicu oleh depresi yang memiliki gejala klinis murung, sedih, putus asa, tidak nafsu makan, susah konsentrasi, serta ada ide bunuh diri.

"Gejala depresi itu berlangsung setidaknya dua minggu dan membuat fungsi sosialnya terganggu," kata dr.Andri, Sp.KJ dari RS Omni Alam Sutera Tangerang.

Orang yang ingin bunuh diri biasanya juga menunjukkan tanda pesan kematian, seperti menulis keinginan mati, wasiat, menasihati tentang makna dan filosofi hidup, atau memberikan barang yang sangat disenangi.

Oleh karenanya, perubahan perilaku itu seharusnya dikenali oleh orang di sekitarnya. Dukungan keluarga dan juga bantuan profesional untuk konseling bisa membantu mengatasi depresi, bahkan menghilangkan keinginan bunuh diri.

Menurut Reza Indragiri Amriel, Kabid Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, riset pada orang-orang yang gagal bunuh diri menyebutkan, para survivor itu berharap jika sebelumnya ada orang yang mau hadir untuk mereka.

Kehadiran orang terdekat sebagai tempat mencurahkan perasaan dan mendengar sangat membantu. Hindari respon negatif seperti menekan, menghakimi, atau menghina, karena dapat membuat mereka semakin menutup diri.

Harus diakui sikap peka dan peduli pada sekitar memang semakin sulit didapat karena kurangnya waktu berinteraksi dan berkomunikasi. Padahal, dengan bersikap lebih peka dan berempati kematian sia-sia bisa dicegah.

Baca juga:
Waspadai Efek Menonton Tayangan Bunuh Diri di Media Sosial 
Kenali Gejala Depresi, Pemicu Utama Bunuh Diri 
Kominfo Imbau "Netizen" Tak Sebarkan Video Siaran Langsung Bunuh Diri 

Editor : Lusia Kus Anna
TAG: