Senin, 27 Maret 2017

Health

Wanita Lebih Rentan Kecanduan Obat Pereda Nyeri

Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Tahun lalu lebih dari 59 juta obat antinyeri diresepkan. Jumlah itu cukup untuk membuat setiap orang di Amerika punya sebotol obat antinyeri dan 2 juta orang kecanduan obat tersebut menurut laporan American Society of Addiction Medicine (ASAM).

Overdosis obat merupakan penyebab utama kematian mendadak dan peresepan obat antinyeri disebutkan laporan tersebut hampir separuh dari itu.

Kendati saat ini mungkin Anda mendapatkan resep antinyeri, itu tak berarti Anda bakal direhabilitasi di masa depan.

Ketika digunakan dengan benar, antinyeri merupakan bagian penting dari pengobatan nyeri.

Wanita sangat rentan terkena kecanduan antinyeri. Begitu penjelasan Erin Goodhart, seorang spesialias adiksi dan direktur women's services di Caron Treatment Centers.

Hormon wanita membuat kaum hawa jadi rentan terhadap efek antinyeri. Ditambah, wanita cenderung menyalahgunakan obat resep untuk menurunkan berat badan, mengatasi kelelahan, mengatasi nyeri dan mengobati sendiri masalah kesehtan mental. Begitu menurut statistik terakhir dari National Institutes of Health.

Sekitar 15,8 juta wanita mengakui menyalahgunakan obat tahun lalu dan 4,6 juta mengatakan menyalahgunakan obat resep dokter.

Setiap tiga menit seorang wanita di AS dibawa ke ruang gawat darurat. karena penyalahgunaan obat nyeri yang diresepkan dokter.

Bagaimana cara kita mengontrol agar tak menyalahgunakan obat tersebut? Berikut ini hal yang perlu diketahui soal wanita dan peresepan antinyeri.

1. Wanita cenderung mudah kecanduan obat antinyeri

Ada beberapa faktor yang unik pada tubuh dan situasi wanita. Pertama, wanita merasa nyeri lebih intensif karena memiliki lebih banyak reseptor saraf daripada pria, menurut studi yang dilakukan oleh American Society of Plastic Surgeon.

Kemudian, wanita cenderung membicarakan nyeri itu dengan petugas kesehatan dan lebih proaktif menginginkan manajemen stres, kecemasan dan nyeri. Begitu kata Goodhart.

Dokter sering memberi obat terhadap keluhan tersebut. Wanita cenderung diberi resep antinyeri dibanding pria, ketika mereka mengalami gejala yang sama.

Masalah lainnya adalah dokter sering lupa bahwa wanita secara biologis tak sama dengan pria.

Kendati ada fakta bahwa wanita lebih kecil dan lebih sensitif terhadap efek pengobatan nyeri, dokter meresepkan obat antinyeri pada wanita dengan dosis lebih tinggi dan periode lebih lama. Itu menurut studi yang dilakukan oleh Center for Disease Control.

Menambah masalah tersebut, wanita menjadi tergantung obat antinyeri secara biologis dan psikologis dalam jangka lebih pendek dan dosis lebih kecil daripada pria.

"Anda perlu berhati-hati dengan dokter yang meresepkan obat opioid sebagai solusi pertama nyeri," kata Goodhart.

2. Antinyeri merupakan pintu gerbang menuju kecanduan heroin

Empat dari lima wanita kecanduan heroin mengatakan memulainya dengan peresepan antinyeri opioid, menurut ASAM.

Tetap,i tentu saja tak semua wanita yang mengonsumsi obat resep setelah melahirkan atau mengonsumsi OxyContin setelah cedera bakal menjadi pecandu.

Namun, hal ini menunjukkan kebutuhan untuk kesadaran dan kewaspadaan lebih besar terhadap hubungan pereda nyeri dan kecanduan obat terlarang.

3. Kita tak bisa begitu saja berhenti memakai pereda nyeri

Ketika mengonsumsi pereda nyeri seperti arahan resep dokter, kita masih dapat mengalami ketergantungan terhadap obat tersebut.

Ini berarti, ketika tak lagi mengonsumsinya karena obat habis atau ingin berhenti mengonsumsinya, kita bakal mengalami efek ketagihan.

"Di tahap rendah efek itu terasa seperti mengalami flu, kelelahan, pening, nyeri tubuh dan demam," jelas Goodhart.

Semakin lama kita mengonsumsi obat tersebut, semakin parah reaksi tubuh ketika tak mengonsumsi obat tersebut.

Gejala itu bisa berarti muntah, diare, insomnia atau nyeri parah. Jangan berhenti begitu saja minum obat. Buatlah rencana dengan dokter untuk mengatasi kecanduan tersebut.

4. Cari dokter yang punya program manajemen nyeri jangka panjang

Ketika punya masalah kesehatan yang berakibat nyeri kronis, carilah dokter yang berspesialisasi manajemen nyeri, jangan hanya mencari dokter umum saja.

Ketika tak menemukan dokter dengan keahlian ini, pastikan banyak bertanya mengenai jenis pengobatan yang bakal diterima.

Pastikan Anda puas dengan jawaban dokter sebelum menerima peresepan obat antinyeri itu.

5. Ada pilihan lain untuk manajemen nyeri

"Di pusat pengobatan, kami menggunakan banyak pilihan non obat untuk membantu wanita mengatasi nyeri tanpa efek samping," kata Goodhart.

"Apa yang bekerja paling baik untuk mereka yang menderita nyeri kronis itu meliputi program komprehensif yang memasukkan unsur psikiatri, psikologi, medis, pengobatan nyeri alternatif dan perawatan spiritual," lanjutnya.

Meditasi, pijat, yoga, akupuntur, terapi fisik, dan olahraga dapat membantu mengurangi nyeri sekaligus membantu kita menghadapi sumber nyeri.

Anda dapat menggunakan cara itu bersamaan dengan pengobatan dan menurut Goodhart ada banyak obat-obatan non adiktif yang bisa digunakan untuk mengatasi nyeri.

6. Ketahui faktor-faktor risiko sendiri

Ada sejumlah hal yang dapat meningkatkan risiko kecanduan obat. Minum pereda nyeri di usia muda ketika otak masih berkembang membuat tubuh berisiko tinggi untuk penyalahgunaan obat.

"Atau jika ada riwayat keluarga penyalahgunaan obat, mungkin ada paparan genetik untuk mengalami penyalahgunaan obat," katanya.

7. Sedikit nyeri itu baik

"Tak semua nyeri itu buruk dan kadang nyeri memberi tahu kita sesuatu yang penting tentang diri kita sendiri," kata Goodhart.

Kita dikondisikan untuk berpikir bahwa nyeri secara otomatis merupakan masalah ketika seharusnya kita memandangnya sebagai informasi.

Sering kita mulai menggunakan pereda nyeri sebagai usaha mengatasi nyeri yang berhubungan dengan cedera atau stres di tubuh.

Kemudian masyarakat menyadari obat opiate dapat digunakan mengatasi nyeri stres dan tekanan hidup sehari-hari.

"Mereka pun mulai menikmati perasaan menyenangkan yang dihasilkan pereda nyeri karena obat tersebut secara simultan mengatasi nyeri fisik dan emosi," jelas Goodhart.

Namun menutupi rasa nyeri dengan obat, alkohol, seks, judi atau kecanduan yang lain tak akan mengatasi akar masalah nyeri dan membuat masalah jadi makin kompleks dengan masalah baru.

Penulis: Kontributor Health, Dhorothea
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber: SHAPE,
TAG: