Jumat, 28 Juli 2017

Health

Mungkinkah Infeksi Saluran Kemih Sembuh Tanpa Antibiotik?

Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Beberapa wanita dengan gejala infeksi saluran kemih, mungkin bisa sembuh tanpa harus meminum antibiotik, kata sebuah penelitian di Belanda.

"Pada orang yang sehat, banyak jenis infeksi ringan bisa sembuh dengan sendirinya secara spontan," kata pemimpin studi Dr Bart Knottnerus, seorang peneliti di Academic Medical Center dari University of Amsterdam.

Untuk penelitian yang diterbitkan di jurnal BMC Family Practice ini, Knottnerus merekrut sejumlah wanita dari 20 klinik umum di Belanda dan sekitarnya dari tahun 2006 sampai 2008.

Wanita-wanita ini adalah pasien infeksi saluran/kandung kemih dengan keluhan sering buang air kecil atau sakit saat buang air kecil (BAK).

Mereka juga bersedia menunda pengobatan dengan antibiotik jika gejala yang mereka rasakan tidak lebih dari tujuh hari.

Wanita yang kedapatan hamil atau menyusui dan yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu, dikeluarkan dari penelitian.

Dari 176 wanita yang berpartisipasi, 137 orang diminta untuk menunda antibiotik dan ada 51 yang setuju.

Semua wanita memberikan sampel urin yang akan dianalisis dan dibudayakan. Para wanita melaporkan gejala yang mereka alami selama seminggu ke depan.

Setelah seminggu, 28 dari 51 wanita yang bersedia untuk menunda antibiotik, masih belum menggunakan antibiotik.

Duapuluh dari wanita-wanita itu (71 persen) melaporkan gejala mereka membaik. Ada juga yang melaporkan, gejala mereka hilang sama sekali. Lebih dari sepertiga dari 20 wanita ini, menunjukkan hasil pemeriksaan urin positif infeksi.

Sebagian besar wanita yang tidak bersedia menunda antibiotik, memiliki hasil budaya urin yang juga positif infeksi.

Para wanita yang setuju untuk menunda, mungkin sadar bahwa jika mereka terlalu tergantung pada antibiotik, risiko resistensi antibiotik akan meningkat.

"Lebih jauh lagi, di Belanda, infeksi ringan lainnya seperti mata, telinga, tenggorokan dan infeksi pernapasan, biasanya tidak diobati dengan antibiotik. Karena itu, orang-orang lebih mudah mengiyakan ketika diminta menunda penggunaan antibiotik untuk infeksi mereka," kata Knottnerus.

Antibiotik untuk infeksi saluran kemih biasanya bekerja dalam waktu dua atau tiga hari. Pada wanita yang sehat, infeksi bisa sembuh dengan sendirinya.

"Pertahanan tubuh yang kuat seringkali tidak memerlukan bantuan antibiotik untuk menyembuhkan infeksi, terutama infeksi ringan," kata Knottnerus lagi.

Dr Jennifer Leighdon Wu, ginekolog di Lenox Hill Hospital di New York City, sangat berhati-hati menanggapi temuan ini.

"Jumlah wanita yang setuju untuk menunda adalah 51," katanya. "Saya ingin melihat jumlah wanita yang lebih besar."

Menurut Wu, wanita dengan infeksi saluran kemih sebaiknya tetap memeriksakan diri ke dokter, karena mungkin saja ada beberapa masalah lain yang Anda derita.

"Saya menemukan banyak orang yang memeriksakan diri dan awalnya mereka berpikir itu infeksi saluran kemih. Ternyata, mereka menderita infeksi jamur," katanya.

Selama masa praktiknya, Wu kadang-kadang meresepkan antibiotik dengan segera, terutama jika yang dihadapinya adalah seorang wanita yang sakit. Bagi orang lain, dia mungkin akan menunggu pemeriksaan lab, yang biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari.

"Jika memang bisa menunggu, pasien mungkin akan menerima jenis antibiotik yang lebih tepat," katanya. Dokter dapat menargetkan antibiotik yang paling baik untuk organisme yang ditemukan dalam budaya.

"Anda harus berhati-hati menentukan siapa yang bisa menunda atau tidak perlu pengobatan antibiotik," kata Wu.

Penundaan bisa menjadi sangat berbahaya pada pasien usia tua. Para wanita dalam penelitian di atas, rata-rata berusia di awal 40-an.

Antibiotik dibutuhkan jika seorang wanita memiliki gejala seperti demam, menggigil dan nyeri pinggang, jelas Knottnerus, karena hal ini dapat mengindikasikan infeksi telah berkembang ke ginjal.

Adapun jus cranberry, yang dipercaya bisa mengobati infeksi kandung kemih, menurut Knottnerus, tidak ada bukti kuat bahwa itu ampuh untuk mengobati infeksi, tetapi mungkin dapat membantu mencegahnya.

Penulis: Lily Turangan
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber: WebMD,
TAG: