Senin, 27 Maret 2017

Health

BrandzView

Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dan Indonesia International institute For Life Sciences

Segera... Deteksi Kanker Cukup Pakai Air Liur

THINKSTOCK.COM Ilustrasi tes air liur


KOMPAS.com
– Anggapan kanker sebagai penyakit menakutkan memang terbukti adanya. Berbagai laporan dari organisasi kesehatan menunjukkan kalau penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.

Merujuk data situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diperbarui pada Februari 2017, kanker adalah penyebab kematian manusia terbesar kedua di dunia. Pada 2015, misalnya, sebanyak 8,8 juta orang meninggal akibat penyakit tersebut.

Padahal, seseorang yang berisiko terkena penyakit itu bisa terselamatkan bila terdeteksi sejak dini. Terlebih lagi, perkembangan ilmu kedokteran terbaru menyebutkan tes air liur sudah bisa mendeteksi risiko kanker.

“Satu kali tes air liur memungkinkan bisa mendeteksi dini lebih dari satu jenis kanker secara bersamaan,” papar David Wong, peneliti dari Universitas Los Angeles (UCLA), seperti dimuat dailymail, Minggu (14/2/2016).

Wong dan para peneliti dari UCLA telah meneliti bahwa di dalam air liur terdapat jejak asam ribonukleat (RNA) dari sel-sel kanker. RNA adalah molekul yang berperan penting dalam transkripsi asam deoksiribonukleat (DNA), yaitu asam nukleat yang mencatat semua informasi genetik dan biologis seseorang.

Hebatnya lagi, lanjut dia, hanya butuh waktu 10 menit untuk mengetahui hasil tes air liur ini, berbeda dengan tes darah di laboratorium yang kadang memakan waktu berhari-hari untuk tahu hasilnya.

Nantinya, lanjut Wong, tes dengan sebutan liquid biopsy itu dapat dengan mudah diakses banyak orang. Pasien bisa datang ke dokter gigi atau apotek, dan bahkan bisa melakukannya sendiri di rumah. Biaya yang dibutuhkan untuk sekali tes pun tak lebih dari 15 poundsterling, setara sekitar Rp 248.000.

Diperkirakan, layanan liquid biospy sudah akan tersedia untuk publik pada akhir dekade ini. Sebagai langkah awal, Wong menguji coba metode tersebut ke pasien kanker paru-paru di China.

Di Indonesia, muncul pula upaya untuk memunculkan metode pengujian kanker yang cepat tanpa harus tes darah. Delapan mahasiswa dari International Institute for Life Science (i3L) ada di dalam deretan kelompok perintisnya.

Adalah Austin, Josanda, Hillary, Sandar, Patricia, Azizah, Juan, dan Daniel, yang membuat rancangan bisnis untuk membuka layanan tes genetik dengan air liur. Mereka mengaku terinspirasi oleh artis Hollywood Angelina Jolie.

AFP PHOTO/SAFIN HAMED Aktris asal AS yang menjadi duta UNHCR, Angelina Jolie saat mengunjungi kamp pengungsi di Khanke, beberapa kilometres dari perbatasan Turki dan Irak di Provinsi Dohuk, Minggu (25/1/2015).

Jolie memiliki mutasi gen BRCA 1 yang bisa berkembang menjadi sel kanker. Menurut National Cancer Institute, wanita pemilik mutasi BRCA 1 berisiko terkena kanker payudara dan ovarium. Dari situ, Jolie memutuskan mengangkat kedua payudara dan ovariumnya untuk mencegah terkena kanker.

“Jadi sebenarnya ada beberapa penyakit terutama bawaan genetik, seperti kanker yang bisa di deteksi lebih dini, (termasuk) lewat air liur,” ucap Josanda, kepada Kompas.com, Rabu (8/2/2017).

Untuk sampel tes, Josanda dan kelompoknya mengambil air liur yang ada di dalam dinding pipi. Alasannya ludah di bagian tersebut mengandung sel-sel mati sehingga dapat lebih mudah mendeteksi dini penyakit di dalam tubuh manusia.

“Nanti layanan itu akan kami kemas dalam bentuk paket. Satu kali tes bisa mendeteksi lebih dari 20 penyakit,” papar Daniel, pada kesempatan yang sama.

Namun, ungkap Daniel, realisasi dari proyek ini butuh investasi sekitar Rp 4 miliar sampai Rp 5 miliar. Dana itu dibutuhkan untuk mendatangkan peranti dari luar negeri yang cocok untuk pengujian air liur.

Rancangan bisnis dari kedelapan mahasiswa tersebut merupakan bagian dari tugas kuliah sesuai kurikulum i3L. Kampus ini memang mendidik para mahasiswanya tak hanya ahli di bidang sains tetapi juga punya kemampuan bisnis.

“Sebagai syarat kelulusan semua mahasiswa diharuskan membuat business plan. Jadi saat lulus selain dapat gelar mereka juga dapat bisnis untuk memasarkan produk temuannya,” ujar Head of Study Program Entrepreneurship, Budi Santoso, kepada Kompas.com, Senin (16/1/2017).

Baik upaya tim Wong maupun kedelapan mahasiswa ini, pada akhirnya adalah bagian dari upaya tiada henti untuk menyelamatkan setiap nyawa dari risiko penyakit kanker.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Mikhael Gewati
Editor : Sri Noviyanti
TAG: