Selasa, 22 Mei 2018

Health

Bagaimana Menghadapi Trauma Pasca Teror Bom Surabaya?

Ilustrasi traumaake1150sb Ilustrasi trauma

KOMPAS.com - Pasca bom bunuh diri di Surabaya pada Minggu (13/05/2018), banyak masyarakat yang menjadi takut untuk ke luar rumah dan menghindari keramaian.

Ini membuktikan bahwa tanpa menjadi korban langsung, masyarakat bisa mengalami trauma akibat aksi terorisme.

Ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (14/05/2018) melalui sambungan telepon, Ratih Ibrahim, S.Psi menjelaskan tentang trauma yang mungkin dihadapi masyarakat.

"Jadi, yang namanya trauma itu luka. Luka itu selalu memberikan kesakitan," ungkapnya.

"Trauma adalah luka yang sifatnya psikologis, baik itu masalah psikis, emosi, atau perasaan," imbuhnya.

Menurut dia, masyarakat juga mengalami trauma atas insiden kerusuhan di Mako Brimob dan bom bunuh diri di Surabaya.

Namun yang jadi pertanyaan, kenapa masyarakat bisa mengalami trauma walaupun tidak menjadi korban langsung dari peristiwa tersebut?

"Kita tetap mengalami trauma karena kita adalah korban secara tidak langsung (vicarious victims) dan juga korban yang akan datang (potential victims)," ujarnya

Pasca bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, kini masyarakat menjadi korban dan mungkin saja menderita trauma.

Efek yang paling terlihat adalah ketakutan banyak warga sehingga tidak berpergian ke luar rumah atau tempat-tempat yang ramai.

Oleh karena itu, cara menghadapi trauma masyarakat terhadap kejadian teror menjadi penting.

Jaminan Rasa Aman

Menurut Ratih, jaminan rasa aman adalah hal yang perlu diperhatikan.

"Kita butuh jaminan bahwa kita bisa kembali aman. We need a hero (Kita butuh pahlawan). Hero-nya siapa di sini," ujar Ratih.

Ratih menegaskan, kepastian atau jaminan rasa aman itu membuat masyarakat lebih tenang.

Baca juga: Semangat Mengampuni Pelaku Terorisme, Bagaimana Sains Menjelaskannya?

"Nah, itu siapa? Hero-nya tentu balik lagi dengan keluarga yang paling dekat," katanya.

"Keluarga itu bisa kepala keluarga, bisa ibu, pokoknya ketika bersama keluarga kita merasa aman," tambahnya.

Di luar keluarga, Ratih menyebut, rasa aman bisa diberikan di lingkungan.
"Pamong-pamong juga perlu memberikan jaminan rasa aman." ujarnya.

"Kalau di gereja, itu kan ada pendeta, imam, atau pastor," sambungnya.

Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut perlu memberikan peneduhan atau jaminan rasa aman.

"Yang paling signifikan memberikan jaminan rasa aman adalah pemerintah," kata Ratih.

"Pemerintah di sini kita kan melihatnya pada presiden dan aparat. Bagaimana polisi bergerak sigap menangani teroris dan relawan-relawan yang membantu memberikan jaminan rasa aman," sambungnya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Tri Hadi, psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) JAYA.

"Kontak sosial yang baik (keluarga, teman, rekan kerja) sangat membantu mengurangi kecemasan (dalam trauma)," kata Tri.

Tetap Ibadah

Selain itu, menurut Tri, melakukan aktivitas fisik dan kegiatan ibadah atau spiritual juga baik untuk menenangkan diri.

"Tips yang bisa membantu juga, jangan terfokus pada diri sendiri dan menyendiri. Berbagi dan bergaul dengan orang-orang yang tetap tenang dan optimis," ujarnya.

"Tidak terfokus pada diri sendiri juga artinya jika keluar beraktivitas sadari motivasinya, misalnya penting saya bekerja untuk keluarga saya, saya perlu keluar karena ada orang yang bergantung kepada saya dan lain sebagainya," tambahnya.

Baca juga: Kemenkes Akan Beri Penyembuhan Trauma bagi Korban Bom Surabaya

Tri juga menjelaskan, penelitian menunjukkan motivasi yang tidak internal semata, seperti dorongan altruis atau demi kebaikan orang banyak akan meningkatkan keberanian, ketenangan dan mengurangi ketakutan atau kecemasan.

Media

Di samping itu semua, Ratih mengingatkan bahwa media juga berperan besar dalam trauma yang dialami masyarakat.

"Bagaimana media memaparkan pemberitaannya juga membantu kita mengerti situasi dan kondisi tapi tidak terpapar dalam trauma yang lebih berat," kata Ratih.

Pola Tidur dan Makan

Tri menyebutkan bahwa selain semua yang telah disebutkan, pola tidur juga berpengaruh penting dalam menghadapi trauma yang dirasakan masyarakat.

"Penting juga untuk tidur dan beristirahat secara teratur, mekanisme tidur vital untuk regulasi emosi dan fisik," kata Tri.

"Demikian juga pola makan. Semua hal tersebut akan meregulasi tingkat stress," imbuhnya.

Tri mengingatkan, jika merasa sangat ketakutan dan ada keluhan-keluhan seperti sulit tidur, sulit konsentrasi, gampang tegang atau marah, gelisah, terbayang terus hal mengerikan, maka bisa jadi Anda mengalami respons traumatik.

Jika mengalami keluhan tersebut, Tri menyarankan untuk segera menghubungi psikolog klinis atau ahli trauma untuk membantu.

Baca juga: Main Tetris Setelah Kecelakaan Cegah Trauma

Penulis: Resa Eka Ayu Sartika
Editor : Yunanto Wiji Utomo
TAG: