Selasa, 22 Mei 2018

Health

Media Berperan pada Trauma Masyarakat Pasca Teror Bom Surabaya

Ilustrasi traumaake1150sb Ilustrasi trauma

KOMPAS.com - Pasca kasus teror bom di Surabaya yang terjadi pada Minggu (14/05/2018) dan Senin (15/05/2018), banyak warga masyarakat yang kemudian takut untuk melakukan beberapa aktivitas di luar rumah.

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pemberitaan di media massa dan sosial media.

Tri Hadi, psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) JAYA memberikan pendapatnya terkait hal ini.

"Ini bisa digolongkan secondary trauma/vicarious trauma," ungkap Tri kepada Kompas.com melalui pesan singkat pada Senin (15/05/2018).

Vicarous trauma sendiri terjadi secara tidak langsung. Dengan kata lain, masyarakat menjadi korban tidak langsung dari teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu.

Selain bisa menyebabkan trauma, media juga dapat berperan besar dalam pulihnya trauma yang dialami masyarakat.

Media dalam hal ini bukan hanya media massa tapi juga media sosial.

Banyak Hoaks

Ratih Ibrahim, seorang pikolog sekaligu penggiat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengimbau kepada siapa saja untuk tidak menyebarkan berita yang belum diverifikasi.

"Supaya kita tidak menyebarkan hoaks. Karena hoaks itu sendiri menjadi paparan trauma yang lebih besar," katanya.

Selain itu, menurutnya ketika seorang menyebarkan berita, kita harus bertanggung jawab atas berita yang disebarkan.

Baca juga: Kemenkes Akan Beri Penyembuhan Trauma bagi Korban Bom Surabaya

"Dampaknya seperti apa, kan ada orang yang justru secara sengaja menyebarkan kengerian-kengerian lantaran impact dari sensasinya itu awarding buat dia," kata Ratih.

"Jadi kalau orang takut, orang ngeri, orang kuatir menjadi materi dia untuk kasak kusuk. Belum lagi respons baliknya ke dia membuat dia lebih senang," tambahnya.

Menurut Ratih, hal ini berkaitan dengan pribadi orang yang menyebarkan berita.

Pendapat serupa juga diungkapkan Tri.

"Oleh karena perlu hati-hati dalam memberitakan atau menyebarkan informasi," kata Tri.

Pemberitaan Media Massa

Sedangkan untuk menjaga agar trauma masyarakat tidak menjadi lebih berat, media juga perlu memperhatikan porsi pemberitaan.

Ratih mengatakan, cara pemberitaan, obyektivitas, kalimat, dan framing yang digunakan bisa membantu pemulihan trauma masyarakat.

Media juga perlu memunculkan harapan untuk membantu masyarakat merasa lebih aman.

"Kita menggelontorkan gerak anti-teroris, bahwa semua bangsa bersatu melawan teroris itu memberikan harapan. Ini lho kita sama-sama nih," kata Ratih

"Apresiasi terhadap korban dihargai sebagai martir. Itu kan ada empati di situ. Itu membantu (masyarakat) untuk sembuh (dari trauma)," tambahnya.

Baca juga: Pelaku Teror Bisa Kembali ke Masyarakat

Selain itu, menumbuhkan harapan bahwa keadaan akan segera aman. Bukti dari harapan tersebut juga membantu masyarakat untuk lebih tenang.

"Penanganan-penanganan sesuai dengan hukum yang dilakukan dan secara cepat, tanggap, dan tegas. Itu juga membantu masyarakat pulih kembali," kata Ratih.

"Karena ada jaminan rasa aman tadi, dan harapan rasa aman," tambahnya.

Bentengi Diri

Selain dari orang yang menyebarkan berita dan media, benteng diri sendiri juga diperlukan dalam mengatasi trauma pada masyarakat.

"Pertama penting untuk tetap bersikap hati-hati dan waspada, serta mengikuti pengumuman atau informasi dari pihak-pihak resmi dan kredibel seperti pemerintah," ungkap Tri.\

"Jangan bergantung pada sumber informasi dari media atau jejaring sosial," tegas Tri.

Selain itu, Tri juga mengingatkan untuk selalu mengkonfirmasi sumber berita.

Tidak langsung percaya pada berita yang beredar juga penting untuk menjaga kita tidak mudah panik atau paranoid.

"Kedua, penting juga untuk membatasi akses informasi negatif. Jangan terlalu ingin tahu dan terus menerus melihat berita atau tayangan terorisme," ujar Tri.

"Itu akan memicu kecemasan berlebih dan menciptakan distorsi penghayatan realita (menganggap keadaan lebih buruk dari realita sebenarnya karena dibanjiri informasi negatif)," sambungnya.

Tri menekankan untuk memfokuskan diri pada aktivitas sehar-hari yang biasa dilakukan untuk mengurangi ketegangan.

"Jika tidak ada pengumuman resmi maka silakan tetap mengunjungi tempat-tempat keramaian dan melakukan aktivitas normal," imbuhnya.

Baca juga: Menalar Peran Teroris Perempuan di Balik Bom Bunuh Diri Surabaya

Penulis: Resa Eka Ayu Sartika
Editor : Yunanto Wiji Utomo
TAG: