Kompas.com - 07/09/2021, 12:00 WIB

KOMPAS.com - Rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan menjadi tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat.

Hal ini memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan bagi semua orang dalam rumah sakit, baik tenaga medis hingga pengunjung.

Salah satu infeksi yang dapat terjadi di lingkungan kesehatan terutama rumah sakit, adalah infeksi nosokomial.

Baca juga: 13 Cara Mengurangi Risiko Terkena Infeksi yang Baik Dilakukan

Infeksi nosokomial adalah salah satu penyakit menular yang didapatkan dari fasilitas pelayanan kesehatan atau ketika menjalani perawatan di rumah sakit.

Infeksi nosokomial tidak dapat langsung disadari ketika masuk, melainkan memerlukan waktu setidaknya 48 jam untuk berkembang dan memunculkan gejala.

Beberapa bentuk penyakit akibat infeksi nosokomial diantaranya adalah:

  1. infeksi aliran darah
  2. pneumonia
  3. infeksi saluran kemih (ISK)
  4. infeksi luka operasi (ILO)

Infeksi nosokomial juga dapat menimbulkan komplikasi penyakit serius seperti sepsis bahkan kematian.

Infeksi nosokomial merupakan tantangan serius bagi para tenaga medis di seluruh dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Penyebab

Infeksi nosokomial paling sering terjadi akibat bakteri. Namun, jamur, virus, dan parasit juga dapat menyebabkan manusia mengalami penyakit ini.

Infeksi akibat bakteri jauh lebih berbahaya karena umumnya disebabkan oleh bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik.

Baca juga: 3 Penyakit Akibat Infeksi Virus yang Sering Dialami Anak

Merangkum dari Healthline, beberapa bakteri berikut ini dapat menyebabkan infeksi nosokomial:

  1. Staphylococcus aureus (S. aureus), menyebabkan infeksi pada aliran darah
  2. Escherichia coli (E.coli), menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK)
  3. Enterococcus, infeksi dapat terjadi di darah, ISK, dan luka
  4. Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) , infeksi dapat terjadi di ginjal, ISK, dan pernapasan

Infeksi nosokomial akibat bakteri dapat terjadi pada pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit atau pasien dengan imunitas tubuh yang lemah.

Penularan infeksi nosokomial dapat terjadi melalui udara, air, atau kontak langsung dengan pasien rumah sakit.

Bakteri, jamur, virus, dan parasit dapat menyebar melalui sentuhan tangan dan peralatan medis yang menyentuh bagian tubuh.

Gejala

Infeksi akibat efek perawatan medis dapat terjadi dalam beberapa waktu berikut:

  • sejak awal masuk rumah sakit hingga 48 jam setelahnya
  • sejak keluar dari rumah sakit hingga 3 hari setelahnya
  • sejak selesai operasi hingga 30 sampai 90 hari setelahnya
  • mengunjungi rumah sakit untuk menjalani perawatan selain infeksi

Gejala yang dirasakan penderita infeksi nosokomial dapat bervariasi karena menyesuaikan dengan penyakit infeksi yang terjadi.

Baca juga: Terlihat Sama, Ini Beda Infeksi Virus dan Bakteri

Berikut beberapa jenis infeksi nosokomial yang sering terjadi disertai gejala:

  1. infeksi aliran darah, dengan gejala:
    - demam
    - menggigil
    - tekanan darah menurun
    - infeksi akibat pemasangan infus menyebabkan nyeri atau mengalami pembengkakan di sekitar tempat pemasangan
  2. pneumonia, dengan gejala:
    - demam
    - sesak napas
    - batuk berdahak
  3. infeksi luka operasi, dengan gejala:
    - demam
    - kemerahan pada luka
    - luka terasa nyeri
    - luka mengeluarkan nanah
  4. infeksi saluran kemih, dengan gejala
    - demam
    - sakit saat buang air kecil
    - sulit buang air kecil
    - perut bagian bawah atau punggung terasa sakit
    - muncul darah pada urine

Di samping itu, terdapat beberapa gejala umum yang dirasakan penderita infeksi nosokomial, yakni:

Baca juga: 6 Gejala Infeksi Setelah Operasi yang Perlu Diwaspadai

  • demam
  • muncul ruam di kulit
  • sesak napas
  • denyut nadi cepat
  • lemas
  • sakit kepala
  • mual atau muntah

Diagnosis

Infeksi nosokomial dapat didiganosis dengan melakukan konsultasi kepada dokter. Nantinya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Selain pemeriksaan fisik, dapat juga dilakukan beberapa tes berikut untuk memastikan diagnosis:

  1. tes darah, untuk melihat gejala infeksi dari kadar sel darah
  2. tes urine, untuk mengetahui adanya infeksi pada saluran kemih
  3. tes dahak, untuk mengetahui jenis bakteri pada saluran pernapasan
  4. kultur darah, dahak, atau cairan luka operasi, untuk memastikan keberadaan dan mengetahui penyebab infeksi
  5. melakukan rontgen, USG, CT scan, atau MRI, untuk mengetahui kondisi dan adanya infeksi pada organ tertentu

Perawatan

Pengobatan infeksi nosokomial disesuaikan dengan jenis infeksi yang menyertainya.

Baca juga: Membedakan Sinusitis Akibat Infeksi Virus dan Bakteri

Pada infeksi akibat bakteri, di awal dugaan dokter akan memberikan terapi antibiotik secara empiris karena bakteri penyebab infeksi masih belum diketahui secara pasti.

Setelah hasil pemeriksaan keluar dokter akan menyesuaikan antibiotik dan obat lain dengan jenis bakteri atau kuman penyebab infeksi nosokomial.

Pada infeksi nosokomial akibat infeksi luka operasi, dokter akan melakukan operasi debridement untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi dan rusak agar tidak menyebar.

Selain itu, juga terdapat terapi suportif yakni dengan memberikan cairan, oksigen, atau obat untuk meredakan gejala sehingga kondisi pasien tetap stabil.

Komplikasi

Apabila infeksi nosokomial tidak segera mendapat penanganan akan berisiko memunculkan berbagai komplikasi, diantaranya:

  1. endokarditis, infeksi pada lapisan bagian dalam jantung
  2. osteomielitis, peradangan di dalam tulang
  3. peritonitis, peradangan pada selaput pembatas dinding perut bagian dalam dengan organ-organ perut
  4. meningitis, peradangan pada lapisan pelindung otak dan saraf tulang belakang
  5. sepsis, kerusakan pada banyak organ
  6. abses paru, muncul nanah di jaringan paru-paru
  7. gagal organ
  8. gangren, matinya sebagian jaringan tubuh
  9. kerusakan permanen pada ginjal

Baca juga: 9 Tanda-tanda Infeksi pada Luka di Kulit

Pencegahan

Pencegahan infeksi nosokomial adalah tanggung jawab seluruh orang yang berada di rumah sakit, meliputi tenaga medis, pasien, dan pengunjung.

Beberapa langkah berikut dapat mencegah penyebaran infeksi nosokomial, diantaranya:

  1. Mencuci tangan dengan benar sesuai anjuran WHO ketika:
    - sebelum memegang pasien
    - melakukan tindakan kepada pasien
    - setelah terpapar cairan tubuh (urine, feses, darah)
    - setelah menyentuh pasien
    - setelah menyentuh barang-barang di sekitar pasien
  2. Menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit misalnya dengan cairan disinfektan
  3. Memastikan sirkulasi udara dalam ruangan rumah sakit
  4. Menggunakan alat medis sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP)
  5. Menempatkan pasien berisiko di ruang isolasi
  6. Mengidentifikasi jenis isolasi yang diperlukan pasien
  7. Mengenakan alat pelindung diri (APD) sesuai SOP, seperti sarung tangan dan masker ketika melayani pasien
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.