Kompas.com - 05/10/2021, 10:00 WIB

KOMPAS.com - Rabun jauh atau miopi merupakan kondisi umum ketika mata kesulitan untuk fokus pada objek yang berada di kejauhan.

Jika memiliki kondisi ini, objek yang jauh akan terlihat kabur dan buram, sehingga penderitanya memerlukan alat bantu seperti kacamata.

Kondisi ini juga kerap dikenal dengan istilah mata minus. Itu karena lensa kacamata yang digunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah lensa cekung atau dilambangkan dengan minus (-).

Baca juga: 7 Tips Cegah Mata Minus pada Anak saat Belajar dari Rumah

Penyebab

Mengutip Healthline, rabun terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh pada retina. Hal ini dapat disebabkan oleh:

  • Bentuk bola mata yang lebih panjang dari bola mata normal
  • Kelainan pada kornea dan lensa mata

Faktor risiko

Berkaitan dengan penyebab yang mendasarinya, menurut Healthine, terdapat faktor tertentu yang meningkatkan risiko mata mengalami rabun jauh, seperti:

  • Genetika atau riwayat keluarga
  • Keadaan lingkungan
  • Perubahan bentuk mata di usia 8-12 tahun
  • Memiliki kondisi medis tertentu seperti diabetes
  • Stres visual atau kelelahan mata

Gejala

Selain penglihatan kabur saat melihat objek yang jauh, melansir Mayo Clinic, gejala rabun jauh mungkin termasuk:

  • Kebutuhan untuk menyipitkan mata atau menutup sebagian kelopak mata untuk melihat dengan jelas
  • Sakit kepala yang disebabkan oleh kelelahan mata
  • Kesulitan melihat saat mengemudikan kendaraan, terutama pada malam hari

Baca juga: 4 Gejala Mata Minus (Rabun Jauh) yang Baik Diketahui

Rabun jauh dapat terjadi selama masa kanak-kanak hingga remaja. Namun, seringkali anak-anak ragu untuk mengungkapkannya.

Oleh karena itu, perhatikan gejala rabun jauh pada anak sebagai berikut:

  • Terus-menerus menyipitkan mata
  • Perlu duduk lebih dekat ke televisi atau papan tulis
  • Berkedip berlebihan
  • Sering menggosok mata

Segera temui dokter jika mengalami gejala di atas agar mendapatkan perawatan yang tepat dan tidak memperburuk tingkat kerabunan.

Diagnosis

Berdasarkan Mayo Clinic, terdapat berbagai jenis dan prosedur untuk menentukan kondisi mata atau tingkat rabun jauh Anda, seperti:

  • Pemeriksaan mata keseluruhan
  • Penilaian refraksi, mendeteksi masalah pada penglihatan
  • Menguji penglihatan terhadap jarak

Komplikasi

Rabun jauh yang dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi termasuk glaukoma, katarak, dan kerusakan pada area retina seperti robekan atau pelepasan retina.

Baca juga: Benarkah Konsumsi Wortel Bisa Sembuhkan Mata Minus?

Perawatan

Tujuan standar perawatan rabun jauh adalah untuk meningkatkan penglihatan dengan membantu memfokuskan cahaya pada retina.

Berikut jenis-jenis perawatan rabun jauh yang dapat Anda dapatkan menurut Mayo Clinic, yaitu:

Lensa korektif

Mengenakan lensa korektif dapat mencegah peningkatan kelengkungan kornea atau peningkatan panjang mata Anda. Jenis lensa meliputi:

  • Kacamata, cara sederhana dan aman untuk mempertajam penglihatan yang disebabkan oleh rabun jauh
  • Lensa kontak,merupakan lensa yang dikenakan tepat di mata Anda

Operasi refraktif

Operasi ini mengurangi kebutuhan akan kacamata dan lensa kontak. Ahli bedah mata akan menggunakan sinar laser untuk membentuk kembali kornea.

  • Laser-assisted in situ keratomileusis (LASIK)
    Menggunakan laser untuk menghilangkan lapisan dalam kornea untuk meratakan bentuknya.
  • Laser-assisted subepithelial keratectomy (LASEK)
    Membentuk kembali lapisan luar kornea, meratakan lekukan, dan kemudian menggantikan epitel.
  • Photorefractive keratectomy (PRK)
    Prosedur ini mirip dengan LASEK, namun epitel akan dihilangkan dan membentuk kembali kornea. Epitel tidak diganti, tetapi akan tumbuh kembali secara alami, sesuai dengan bentuk baru kornea.

Baca juga: 6 Cara Jaga Kesehatan Mata Ketika Terlalu Lama Main Game di Gadget

Pencegahan

Menurut Healthline, beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat cara untuk memperlambat perkembangannya, seperti:

  • Periksakan penglihatan secara teratur
  • Kenakan lensa korektif yang diresepkan oleh dokter mata
  • Kenakan kacamata hitam dengan perlindungan radiasi ultraviolet (UV)
  • Gunakan kacamata pelindung saat melakukan aktivitas berisiko
  • Beristirahatlah secara teratur dari pekerjaan yang mendetail, seperti melihat layar perangkat digital
  • Kelola kondisi kesehatan kronis, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes
  • Konsumsi buah-buahan, sayuran, dan asam lemak omega-3
  • Hindari merokok
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Flu Tulang
Flu Tulang
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.