Kompas.com - 17/11/2021, 09:00 WIB

KOMPAS.com - Ginekomastia adalah peningkatan jumlah jaringan kelenjar payudara pada laki-laki yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dan testosteron.

Ginekomastia dapat memengaruhi satu atau kedua payudara, terkadang tidak merata.

Pria dan anak laki-laki dengan ginekomastia terkadang mengalami nyeri di payudara mereka dan mungkin merasa malu.

Baca juga: Kanker Payudara pada Pria: Gejala dan Penyebabnya

Ginekomastia dapat hilang dengan sendirinya. Jika terus berlanjut, pengobatan atau operasi dapat membantu.

Penyebab

Penyebab utama ginekomastia adalah perubahan hormon.

Paling sering ginekomastia terjadi saat lahir, pubertas, atau sebagai bagian dari penuaan. 

Fase tersebut adalah saat-saat alami ketika hormon dalam tubuh berubah level.

Pada pria dewasa, keseimbangan hormon dipengaruhi oleh penuaan.

Ginekomastia lebih sering terjadi pada pria yang berusia 50 tahun atau lebih. Penyebab lainnya antara lain:

Kondisi kesehatan

  • Tumor kelenjar adrenal, kelenjar pituitari, atau testis
  • Hipertiroidisme (tiroid yang terlalu aktif)
  • Hipogonadisme (testosteron rendah)
  • Penyakit ginjal
  • Penyakit hati.

Obat-obatan

  • Obat HIV/AIDS
  • Kemoterapi dan radiasi
  • Antibiotik
  • Obat untuk penyakit jantung
  • Obat anti kecemasan
  • Antidepresan trisiklik
  • Obat maag dan mulas, seperti penghambat pompa proton (PPI)
  • Opioid
  • Steroid anabolik
  • Amfetamin
  • Heroin
  • Ganja.

Baca juga: 4 Gejala Kanker Payudara pada Pria yang Perlu Diwaspadai

Faktor gaya hidup lainnya

  • Kegemukan
  • Alkohol
  • Konsumsi estrogen dalam obat-obatan atau dalam makanan yang mengandung kedelai.

Gejala

Kebanyakan pria dewasa dengan ginekomastia tidak bergejala. Adapun tanda dan gejala ginekomastia adalah:

  • Nyeri, terutama pada remaja
  • Jaringan payudara bengkak
  • Nyeri payudara
  • Sensitivitas puting saat bergesekan dengan pakaian.

Diagnosis

Diagnosis ginekomastia didasarkan pada tinjauan gejala dan pemeriksaan medis yang mencakup evaluasi terhadap jaringan payudara, perut, dan alat kelamin.

Dokter biasanya melakukan tes untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab ginekomastia.

Hal ini dilakukan untuk menyaring kemungkinan kanker payudara dan untuk menyingkirkan kondisi penyakit lain. Tes tersebut antara lain:

  • Tes darah
  • Mammogram
  • Pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT)
  • Pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI)
  • USG testis
  • Biopsi jaringan.

Baca juga: Hati-Hati, 4 Hal Ini Bisa Memicu Kanker Payudara Pada Pria

Temui dokter segera jika:

  • Mengalami pembengkakan
  • Nyeri atau nyeri tekan
  • Keluarnya cairan dari puting pada satu atau kedua payudara.

Perawatan

Dalam kebanyakan kasus, perawatan untuk ginekomastia tidak diperlukan.

Dokter sendiri akan memeriksa ukuran jaringan payudara setiap beberapa bulan. Jika perawatan diperlukan, pilihan bervariasi berdasarkan penyebab kondisi.

Bicaralah dengan dokter sebelum menghentikan obat resep apa pun untuk mengobati kondisi medis lainnya.

Berhenti mengonsumsi obat-obatan terlarang dan dianjurkan melakukan perubahan gaya hidup.

Jika disebabkan oleh penyakit atau tumor, pasien perlu mengobati penyakit tersebut.

Perawatan ginekomastia secara umum dilakukan dengan obat-obatan atau operasi.

Obat-obatan dapat membantu menyeimbangkan hormon.

Dalam kasus yang jarang terjadi, dokter menyarankan operasi plastik untuk mengangkat jaringan payudara ekstra.

Komplikasi

Ginekomastia memiliki sedikit komplikasi fisik, tetapi dapat menyebabkan masalah psikologis atau emosional yang disebabkan oleh penampilan.

Baca juga: 10 Faktor Risiko Kanker Payudara pada Pria

Pencegahan

Ada beberapa faktor yang dapat dikendalikan untuk mengurangi risiko ginekomastia, yakni:

  • Jangan menggunakan obat-obatan jika bukan untuk kepentingan medis, seperti steroid anabolik, amfetamin, heroin, dan ganja
  • Hindari alkohol.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.