Kompas.com - 03/12/2021, 17:00 WIB

KOMPAS.com - Gangguan depersonalisasi atau derealisasi (DPDR) adalah kondisi kesehatan mental yang menyebabkan seseorang mengalami perasaan berada di luar tubuh (depersonalisasi) secara terus-menerus atau berulang.

Kondisi itu menyebabkan adanya perasaan seolah apa yang terjadi di sekitar orang tersebut tidak nyata (derealisasi) atau keduanya.

Perasaan depersonalisasi dan derealisasi bisa sangat mengganggu dan hidup akan terasa seperti dalam mimpi.

Baca juga: Ini Penjelasan Kenapa Orang Bisa Mimpi Saat Tidur

Melansir Mayo Clinic, banyak orang memiliki pengalaman depersonalisasi atau derealisasi selama beberapa titik dalam hidup.

Namun, kondisi ini dianggap sebuah gangguan atau sindrom saat perasaan ini terus terjadi atau tidak pernah benar-benar hilang hingga memengaruhi keseharian.

Gangguan ini lebih sering terjadi pada orang yang pernah mengalami pengalaman traumatis.

Selain itu, gangguan depersonalisasi-derealisasi juga dapat bersifat parah dan mengganggu huubungan, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari lainnya.

Gejala

Gejala DPDR umumnya terbagi ke dalam dua kategori: depersonalisasi dan derealisasi.

Orang dengan DPDR dapat mengalami hanya satu dari kategori gejala atau keduanya di saat bersamaan.

Gejala depersonalisasi meliputi:

  • merasa seperti berada di luar tubuh, seolah-olah memandang diri sendiri dari atas
  • merasa terlepas dari diri sendiri, seolah tidak memiliki diri yang sebenarnya
  • mati rasa di pikiran atau tubuh, seolah indra dimatikan
  • merasa tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan atau dikatakan
  • merasa seolah tubuh berukuran salah
  • kesulitan mengaitkan emosi terhadap ingatan.

Baca juga: Bukan Sekadar Bunga Tidur, Mimpi Kegelisahan Bisa Pengaruhi Kesehatan

Sementara itu, gejala derealisasi mencakup:

  • mengalami kesulitan mengenali lingkungan atau menemukan lingkungan
  • merasa seperti di dalam mimpi, seolah ada dinding kaca yang memisahkan diri dengan dunia
  • merasa seperti lingkungan tidak nyata, tampak datar, buram, terlalu jauh, terlalu dekat, terlalu besar, atau terlalu kecil
  • mengalami perasaan waktu yang terdistorsi: masa lalu terasa sangat baru, sementara peristiwa yang baru terjadi seolah sudah lewat lama.

Penyebab

Belum diketahui pasti apa yang menyebabkan gangguan depersonalisasi-derealisasi.

Namun, faktor biologis, psikologis, dan psikologis dianggap berperan terhadap berkembangnya gangguan ini.

Selain gangguan depersonalisasi-derealsisasi, beberapa kondisi mental lainnya seperti gangguan disosiatif juga dapat dipicu oleh stres hebat atau peristiwa hebat.

Contoh peristiwa yang dimaksud dapat meliputi:

  • perang
  • pelecehan seksual
  • kecelakaan
  • bencana
  • kekerasan ekstrem yang dialami atau disaksikan.

Diagnosis

Penyedia layanan kesehatan akan melakukan pemeriksaan fisik dan bertanya terkait riwayat kesehatan.

Baca juga: Mimpi Buruk

Tes yang mungkin dilakukan dapat meliputi:

  • tes darah
  • tes pencitraan (X-Ray, CT Scan, atau MRI)

Tes di atas dapat mengesampingkan kemungkinan penyakit fisik atau efek samping pengobatan.

Selain itu, penyedia layanan kesehatan juga mungkin akan merujuk penderita ahli kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater.

Perawatan

Perawatan paling efektif untuk gangguan depersonalisasi-derealisasi biasanya melibatkan beberapa jenis terapi, terutama terapi psikodinamik atau terapi perilaku kognitif (CBT).

Terapi dapat membantu penderita agar dapat belajar tentang gangguannya itu sendiri, mengatasi trauma masa lalu dan faktor risiko, serta mengeksplorasi strategi pertahanan jika episode datang.

  • Jika merasa gejala akan timbul dan lingkungan atau diri terasa ‘kabur’, coba untuk menggunakan seluruh indra, seperti:
  • memegang beberapa es batu
  • membaui rempah atau minyak esensial
  • menghisap permen keras
  • mendengarkan lagu yang disukai atau yang diketahui.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.