Kompas.com - 08/01/2022, 19:00 WIB

KOMPAS.com - Salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan bagian atas dengan gejala khas, yakni batuk keras seperti menggonggong adalah croup.

Croup merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan laring, trakea, dan bronkus membengkak.

Pembengkakan ini menyebabkan saluran napas menyempit sehingga penderita sulit bernapas dan mengeluarkan suara batuk yang keras, seperti gonggongan atau barking cough.

Baca juga: Croup Atau Infeksi Saluran Napas Pada Anak, Bagaimana Mengatasinya?

Suara penderita mungkin juga akan terdengar serak, terutama ketika mereka menangis.

Croup atau yang juga disebut laryngotracheobronchitis, adalah penyakit yang kerap menyerang anak-anak berusia antara enam bulan hingga lima tahun.

Namun, penyakit ini juga dapat dialami oleh anak-anak dari segala usia, termasuk bayi berumur tiga bulan dan anak-anak berusia lebih dari 15 tahun.

Croup juga merupakan penyakit yang dapat menular, terutama pada beberapa hari pertama atau selama penderita mengalami demam.

Pada kasus yang parah, croup menyebabkan kulit penderita menjadi pucat atau bibir yang menghitam atau tampak kebiruan akibat kurangnya oksigen dalam darah.

Gejala

Dikutip dari Drugs.com, gejala croup dapat bervariasi tergantung pada jenis yang diderita. Berikut penjelasannya:

  • Croup yang ditularkan (infectious croup)

Anak-anak yang terkena croup sering mengalami gejala seperti pilek biasa, yakni demam rendah dan batuk.

Pada kasus yang lebih parah, anak-anak mungkin mengalami beberapa gejala berikut:

  1. Bernapas lebih cepat dari biasanya
  2. Mengalami kesulitan bernapas
  3. Lubang hidung melebar
  4. Cekungan di dada yang hilang muncul saat bernapas
  5. Lebih gelisah atau mudah marah
  6. Perubahan warna kulit menjadi tampak kebiruan, terutama pada area sekitar mulut atau kuku akibat kekurangan oksigen.

Baca juga: Tak Bisa Disepelekan, Kenali Penyebab Batuk Kering pada Anak

  • Spasmodic croup

Seorang anak yang mengalami croup spasmodik biasanya tampak sehat karena tidak mengalami demam.

Gejala yang mungkin muncul adalah batu yang disertai bunyi napas keras dan serak yang sering kali muncul begitu saja saat tengah malam.

Gejala-gejala tersebut kerap mereda ketika anak menghirup udara malam yang sejuk atau berada di ruangan beruap.

Gejala croup spasmodik biasanya akan membaik dalam beberapa jam. Namun, kondisi ini dapat muncul kembali pada malam berikutnya secara berturut-turut.

Penyebab

Merangkum laman Healthline dan Drugs.com, croup dapat terjadi dengan penyebab yang berbeda tergantung pada jenisnya, seperti:

  • Infectious croup

Kondisi ini disebabkan oleh virus yang biasanya menyebabkan pilek atau flu, seperti virus parainfluenza.

Selain itu, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh infeksi virus lain, seperti adenovirus, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus campak.

Virus tersebut dapat menyebar dengan mudah melalui percikan air liur (droplet) ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin.

Baca juga: 6 Penyebab Batuk Malam Hari pada Anak dan Cara Mengobatinya

Virus penyebab croup ini juga dapat menempel pada benda-benda seperti tisu bekas, mainan, gelas minum, dan peralatan makan, yang terkena droplet orang yang terinfeksi.

Setelah virus berhasil masuk ke dalam tubuh, virus akan menyerang saluran pernapasan bagian atas.

Kondisi ini akan menimbulkan gejala, seperti pilek dan hidung tersumbat. Selanjutnya, virus akan turun ke tenggorokan dan menyebabkan tenggorokan membengkak.

Pembengkakan ini menyebabkan saluran napas menyempit sehingga menimbulkan gejala-gejala croup, seperti batuk keras atau barking cough, suara serak, dan stridor.

Stridor atau bising napas, merupakan suara kasar atau serak bernada tinggi atau rendah yang muncul ketika penderita menarik atau menghembuskan napas.

Meskipun sangat jarang terjadi, croup juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri.

  • Spasmodic croup

Spasmodic croup dapat dipicu oleh infeksi, tetapi tidak disebabkan oleh infeksi. Kondisi ini diduga terjadi akibat faktor keturunan dari keluarga.

Selain karena faktor keturunan, spasmodic croup juga dapat dipicu oleh reaksi alergi. Spasmodic croup kerap muncul secara tiba-tiba tanpa menimbulkan demam.

Spasmodic croup umumnya menyerang balita berusia antara tiga bulan hingga tiga tahun, sedangkan infectious croup lebih sering dialami anak-anak berusia di bawah enam tahun.

Faktor risiko

Menurut WebMD, croup lebih sering terjadi pada anak-anak, terutama yang berusia 3 bulan hingga 5 tahun.

Baca juga: 8 Anjuran yang Benar bagi Orangtua Saat Anak Sakit Batuk Pilek

Kondisi ini juga cenderung lebih sering menyerang anak laki-laki daripada anak perempuan.

Diagnosis

Dirangkum dari situs Mayo Clinic dan Kids Health, diganosis croup biasanya diawali dengan anamnesis mengenai gejala yang dialami anak, seperti batuk dan stridor.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan apakah anak pernah melakukan kontak langsung dengan seseorang yang sedang batuk atau pilek beberapa hari terakhir.

Selanjutnya, dokter akan mengamati cara napas anak, mendengarkan suara napas di dada dengan stetoskop, serta memeriksa tenggorokan anak.

Jika diperlukan, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan foto rontgen untuk mendeteksi penyakit lain yang menimbulkan gejala serupa dengan croup.

Perawatan

Merangkum dari Cleveland Clinic dan Mayo Clinic, beberapa penanganan yang dapat diberikan untuk mengatasi croup adalah:

Perawatan mandiri

Pada kasus yang ringan, kondisi ini dapat diatasi dengan perawatan yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah, seperti:

  1. Pastikan anak selalu merasa nyaman dan tenang karena menangis dapat menyebabkan anak menjadi sulit bernapas
  2. Posisikan anak pada posisi duduk tegak di pangkuan atau di kursi balita agar anak dapat lebih mudah bernapas
  3. Penuhi asupan cairan dengan memberikan ASI atau susu formula bagi anak yang masih menyusu, atau air putih bagi anak yang lebih besar
  4. Gunakan alat penguap kabut dingin atau cool mist vaporizer untuk membantu menenangkan dan membasahi saluran udara yang meradang
  5. Pastikan anak lebih banyak beristirahat karena tidur dapat membantu anak melawan infeksi
  6. Tidak memberikan obat batuk pilek yang dijual bebas karena tidak dapat menyembuhkan croup
  7. Gunakan humidifier untuk menjaga kelembapan udara
  8. Pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik agar anak dapat menghirup udara yang segar dan sejuk
  9. Berikan obat penurun panas, seperti parasetamol untuk menurunkan demam
  10. Pastikan rumah terbebas dari asap rokok, terutama ruangan tempat anak berada.

Baca juga: Benarkah Sering Minum Es Sebabkan Batuk dan Pilek?

Perawatan medis

Apabila gejala croup semakin parah atau tidak mereda dalam tiga hingga lima hari, maka anak memerlukan penanganan lebih lanjut.

Perawatan medis yang dapat diberikan oleh dokter, di antaranya:

  • Kortikosteroid

Dokter akan meresepkan obat golongan kortikosteroid, seperti deksametason, untuk meredakan pembengkakan pada saluran pernapasan.

Obat ini tersedia dalam bentuk injeksi atau suntikan dan dalam bentuk oral, seperti tablet dan sirop.

  • Epinefrin

Epinefrin dapat membantu meredakan peradangan atau pembengkakan pada saluran pernapasan.

Obat ini dapat diberikan dalam bentuk terapi inhalasi (dihirup) menggunakan nebulizer untuk mengatasi gejala yang lebih parah, seperti sesak napas.

Dokter mungkin akan menyarankan rawat inap di rumah sakit jika pasien mengalami gejala yang parah sehingga memerlukan observasi atau pemantauan secara berkala.

Komplikasi

Menurut NHS inform, croup jarang menyebabkan komplikasi. Namun, croup dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

Baca juga: 5 Bahan Alami ala Dapur untuk Cegah Batuk, Pilek, dan Flu

  • Sesak napas hebat yang ditandai dengan upaya ekstra saat penderita menarik napas, seperti mengangkat dada atau menaikkan dagu
  • Gagal napas
  • Infeksi sekunder atau infeksi baru yang muncul setelah croup, seperti pneumonia dan trakeitis bakteri
  • Infeksi telinga tengah
  • Limfadenitis, yaitu pembesaran pada satu atau lebih kelenjar getah bening akibat infeksi.

Pencegahan

Merangkum NHS inform dan Drugs.com, dikarenakan croup kerap disebabkan oleh virus penyebab influenza maka tindakan pencegahannya serupa dengan mencegah influenza, yakni:

  1. Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah melakukan kontak fisik dengan seseorang yang sedang batuk atau pilek
  2. Jika terdapat anggota keluarga yang menderita flu, bersihkan permukaan benda yang digunakan, seperti gelas dan peralatan makan dengan air panas
  3. Jaga jarak anak dengan orang yang sedang sakit
  4. Bersihkan atau desinfeksi permukaan benda yang sering disentuh anak, seperti mainan
  5. Ajarkan anak untuk menutup mulut saat bersin atau batuk
  6. Buang tisu bekas ingus atau droplet ke sampah.

Selain itu, pemberian beberapa vaksin berikut juga dapat membantu melindungi anak dari beberapa infeksi yang dapat menyebabkan croup:

  1. Vaksin MMR, yaitu vaksin untuk mencegah penyakit campak, rubella, dan gondongan
  2. Vaksin DTaP/IPV/HIB, yaitu vaksin untuk mencegah difteri, tetanus, batuk rejan, polio, dan Haemophilus influenzae tipe B.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.