Kompas.com - 16/01/2022, 12:00 WIB

KOMPAS.com - Keguguran merupakan pengalaman pahit yang menyedihkan bagi ibu hamil.

Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan seorang wanita mengalami keguguran berulang adalah sindrom ACA (anticardiolipin antibody).

Sindrom ACA adalah salah satu jenis penyakit autoimun yang menyebabkan darah mudah membeku atau mengalami pengentalan.

Baca juga: 4 Tanda-tanda Darah Keguguran, Ibu Hamil Perlu Waspada

Penyakit yang juga disebut sindrom antifosfolipid (APS) atau sindrom Hughes ini terjadi ketika tubuh memproduksi antibodi yang menyerang fosfolipid (senyawa lemak).

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya pembekuan atau pengentalan darah pada pembuluh darah arteri, pembuluh darah vena,paru-paru, kaki, ginjal, dan otak.

Sumbatan pada pembuluh darah dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Pada ibu hamil, sindrom ACA dapat menyebabkan keguguran dan stillbirth.

Penyakit ini lebih sering dialami oleh wanita dan menjadi penyebab utama dari keguguran berulang atau komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia.

Gejala

Merangkum National Organization for Rare Disorders dan Mayo Clinic, sindrom ACA menyebabkan darah lebih kental atau mudah menggumpal.

Kondisi ini dapat memicu terjadinya sumbatan pada aliran darah di setiap pembuluh darah tubuh, yakni arteri dan vena.

Gumpalan darah yang terbentuk akibat sindrom ACA dapat menimbulkan gejala, seperti:

  • Deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena dalam
    Ditandai dengan gejala tungkai terasa nyeri dan mengalami pembengkakan
  • Emboli paru
    Menimbulkan gejala berupa sesak napas mendadak, nyeri dada yang berat dan tiba-tiba, serta kelelahan
  • Komplikasi kehamilan, seperti:
    1. Keguguran berulang
    2. Preeklamsia
    3. Kelahiran prematur
    4. Stillbirth atau bayi lahir meninggal
    5. Intrauterine growth restriction (IUGR), suatu kondisi yang menyebabkan janin kekurangan nutrisi sehingga tumbuh kembang janin terhambat
  • Serangan jantung dan stroke pada orang usia muda
  • Ruam atau luka pada kulit
  • Sirkulasi darah yang terganggu dapat menyebabkan jaringan tubuh mati.

Baca juga: 6 Penyebab Keguguran Berulang pada Ibu Hamil

Selain itu, sindrom ACA juga dapat menyebabkan gangguan katup jantung, gangguan sistem saraf, dan trombositopenia yang dapat menimbulkan gejala, seperti:

  • Sakit kepala berkepanjangan (kronis)
  • Sensasi mati rasa atau kesemutan
  • Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda
  • Sulit berjalan
  • Tubuh mudah lebam atau memar
  • Mimisan
  • Gusi berdarah
  • Gangguan ingatan, seperti demensia
  • Hilangnya kontrol atas gerakan tubuh
  • Tremor
  • Kejang.

Penyebab

Dirangkum dari Mayo Clinic dan National Health Service, sindrom ACA merupakan penyakit autoimun yang berarti bahwa sistem imun secara keliru menyerang jaringan sehat.

Pada sindrom ACA, sistem kekebalan tubuh justru menghasilkan antibodi yang menyerang fosfolipid.

Kondisi ini menyebabkan darah lebih mudah membeku atau menggumpal. Hingga kini, penyebab terbentuknya antibodi tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat sistem imun mengalami mutasi genetik, infeksi virus atau bakteri tertentu, atau efek samping pengobatan tertentu.

Baca juga: 5 Penyebab Keguguran yang Sering Terjadi

Faktor risiko

Menurut Mayo Clinic, beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami sindrom ACA:

  1. Berjenis kelamin wanita
  2. Menderita penyakit autoimun, seperti lupus atau sindrom Sjogren
  3. Mengidap penyakit infeksi, seperti sifilis, HIV/AIDS, hepatitis C, atau penyakit Lyme
  4. Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat antihipertensi hidralazin, obat golongan antiaritmia kinidin, obat antikonvulsan fenitoin, dan antibiotik amoksisilin
  5. Memiliki anggota keluarga dengan riwayat sindrom ACA.

Meskipun demikian, sindrom ACA juga dapat bersifat asimptomatik atau tidak menimbulkan gejala apa pun.

Namun, beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan risiko seseorang merasakan gejala ketika menderita sindrom ACA:

  1. Sedang hamil
  2. Tidak bergerak pada jangka waktu yang lama, seperti berbaring setelah operasi atau duduk selama penerbangan jarak jauh
  3. Melakukan prosedur operasi, seperti penggantian sendi
  4. Kebiasaan merokok
  5. Menggunakan kontrasepsi oral (pil KB) atau menjalani terapi estrogen saat menopause
  6. Memiliki kadar kolesterol darah dan trigliserida yang tinggi.

Diagnosis

Dirangkum dari laman Mayo Clinic dan DermNet NZ, sindrom ACA kerap dicurigai ketika seseorang mengalami keguguran berulang.

Baca juga: Keguguran: Penyebab, Tanda, Pengobatan, dan Cara Mencegah

Seseorang yang mengalami penyumbatan pembuluh darah tanpa penyebab yang jelas juga menyebabkan dokter curiga bahwa orang tersebut menderita sindrom ACA.

Guna memastikan diagnosis sindrom ACA, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya pembekuan darah dan antibodi terhadap fosfolipid

Beberapa tes laboratorium yang harus dilakukan, meliputi:

  • Anticardiolipin antibody (ACA)
  • Anti-beta-2 glycoprotein I
  • Lupus anticoagulant (LA)
  • Pemeriksaan sifilis
  • Pemeriksaan darah lengkap.

Pasien yang positif mengalami sindrom ACA ditandai dengan munculnya antibodi pada dua kali pemeriksaan yang dilakukan dalam rentang waktu 12 minggu atau lebih.

Perawatan

Melansir WebMD, bagi penderita sindrom ACA yang mengalami penggumpalan darah dapat diatasi dengan obat antikoagulan dalam bentuk tablet atau suntikan.

Bagi wanita hamil yang menderita sindrom ACA, dokter mungkin akan memberikan kombinasi obat heparin suntik dan aspirin dosis rendah selama kehamilan hingga melahirkan.

Selain itu, penderita sindrom ACA juga harus mengatasi atau menghindari kondisi yang memicu pengentalan darah, seperti:

  1. Hipertensi
  2. Kolesterol tinggi
  3. Obesitas
  4. Diabetes
  5. Kontrasepsi hormonal
  6. Merokok
  7. Terapi penggantian hormon (TPH) atau terapi hormon estrogen.

Baca juga: 4 Penyebab Umum Keguguran yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

Komplikasi

Dirangkum dari situs National Health Service dan Versus Arthritis, sindrom ACA dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  • Penyakit jantung, seperti gangguan katup jantung, angin duduk (angina), dan serangan jantung
  • Gagal ginjal kronis akibat penyempitan pembuluh darah di ginjal
  • Keguguran berulang dan sulit hamil karena pengentalan darah dapat menyebabkan infertilitas
  • Komplikasi kehamilan, seperti stillbirth, kelahiran prematur, preeklamsia, dan bayi terlahir kecil
  • Stroke
  • Kelumpuhan.

Selain itu, sindrom ACA juga dapat menimbulkan komplikasi serius yang disebut catastrophic antiphospholipid syndrome (CAPS).

Meskipun hanya terjadi pada satu persen penderita sindrom ACA, tetapi kondisi ini harus tetap diwaspadai karena dapat membahayakan nyawa.

Seseorang yang mengalami CAPS, mengalami gumpalan darah yang terbentuk secara tiba-tiba di seluruh tubuh sehingga organ-organ tubuh gagal berfungsi.

Masih belum diketahui secara pasti bagaimana CAPS terjadi, tetapi kondisi ini diduga terjadi akibat infeksi, cedera, atau prosedur operasi.

CAPS dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut:

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Hamil Lagi Setelah Keguguran?

  • Ujung jari membiru atau menghitam karena kehilangan suplai darah
  • Pembengkakan pada pergelangan kaki atau tangan
  • Sesak napas
  • Nyeri perut
  • Buang air kecil berdarah
  • Penurunan kesadaran atau linglung
  • Kejang
  • Koma.

Pencegahan

Menurut Healthdirect, sindrom ACA merupakan penyakit autoimun yang masih belum diketahui secara pasti penyebabnya sehingga sulit untuk dicegah.

Namun, beberapa tindakan berikut dapat dilakukan jika seseorang berisiko mengalami pengentalan darah atau mengonsumsi obat pengencer darah:

  • Hindari kondisi yang dapat menyebabkan tubuh terluka atau berdarah, seperti:
    1. Berhati-hati saat menggunakan pisau, gunting, alat cukur, atau peralatan tajam lainnya
    2. Hindari melakukan olahraga berat atau aktivitas yang dapat menyebabkan tubuh terluka atau terjatuh
    3. Gunakan sikat gigi yang lembut guna mencegah gusi berdarah.
  • Hindari kondisi yang dapat menyebabkan pengentalan darah, seperti:
    1. Tidak merokok dan hindari paparan asap rokok
    2. Jaga berat badan tetap ideal dan sehat
    3. Aktif secara fisik.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.