Kompas.com - 17/01/2022, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Normalnya, berat badan bayi yang lahir cukup bulan berada di kisaran 2.500 gram hingga 4.000 gram.

Namun, tidak semua bayi lahir dengan berat badan yang normal. Beberapa di antaranya merupakan bayi berat lahir rendah (BBLR).

Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram.

Baca juga: Awas, 5 Hal Ini Bisa Sebabkan Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah

Bayi dengan berat lahir yang rendah akan tampak lebih kecil, kurus, serta memiliki ukuran kepala yang tidak proporsional atau tampak lebih besar dari bayi lainnya.

Kondisi ini kerap terjadi pada bayi yang lahir secara prematur (sebelum usia kehamilan 37 minggu) atau mengalami gangguan perkembangan janin (IUGR).

Bayi dengan berat lahir yang rendah mungkin tetap sehat meskipun tampak lebih kecil. Namun, bayi BBLR juga dapat mengalami masalah kesehatan yang serius.

Bayi dengan berat lahir rendah mungkin saja kondisinya sehat meskipun ia berukuran lebih kecil.

Namun, pada sebagian kasus bayi dengan berat badan lahir rendah juga dapat memiliki berbagai masalah kesehatan yang serius.

Masalah kesehatan serius yang mungkin dialami, seperti sulit menyusu, sulit menambah berat badan, dan susah melawan infeksi.

Gejala

Mengutip University of Rochester Medical Center, berikut beberapa gejala bayi berat lahir rendah (BBLR):

  • Berat badan bayi kurang dari 2.500 gram
  • Bayi tampak lebih kecil dari bayi berat badan lahir yang normal
  • Kepala bayi tampak lebih besar dari tubuhnya
  • Bayi terlihat kurus dengan lemak tubuh yang sedikit.

Selain itu, bayi berat lahir rendah diklasifikasikan sebagai berikut:

Baca juga: 4 Komplikasi Medis yang Sering Dialami Bayi Prematur

  1. Bayi berat badan lahir rendah (BBLR), yakni bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram
  2. Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR), yakni bayi dengan berat lahir kurang dari 1.500 gram
  3. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), yakni bayi dengan berat lahir kurang dari 1.000 gram.

Penyebab

Dilansir dari Healthline, bayi berat lahir rendah paling sering disebabkan oleh kelahiran prematur.

Tahap akhir kehamilan atau trimester ketiga merupakan masa pertumbuhan janin yang paling pesat.

Maka dari itu, sebagian besar bayi yang lahir sebelum usia 37 minggu kehamilan akan berukuran kecil dan memiliki berat badan yang rendah.

Selain karena kelahiran prematur terdapat beberapa kondisi medis lain yang juga dapat menyebabkan BBLR, di antaranya:

  • Kelainan atau masalah pada plasenta
  • Komplikasi kehamilan
  • Intrauterine growth restriction (IUGR) atau gangguan perkembangan janin
  • Cacat janin.

Faktor risiko

Merangkum Boston Children's Hospital dan University of Rochester Medical Center, berikut beberapa kondisi yang meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah:

Baca juga: Penyebab dan Perawatan Bayi Prematur

  1. Menderita infeksi selama kehamilan
  2. Memiliki tubuh yang kurus saat hamil
  3. Memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah
  4. Merokok atau hidup di lingkungan yang banyak terpapar asap rokok
  5. Penggunaan NAPZA atau mengonsumsi minuman beralkohol
  6. Berusia di bawah 15 tahun atau lebih dari 35 tahun
  7. Menjalani kehamilan dengan bayi kembar
  8. Sulit mendapatkan nutrisi yang cukup sehingga mengalami malnutrisi selama kehamilan
  9. Pelayanan prenatal yang tidak memadai akibat status sosial ekonomi rendah yang dapat menimbulkan komplikasi kehamilan.

Diagnosis

Menurut University of Rochester Medical Center, salah satu alasan pentingnya menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin adalah untuk memastikan bayi tumbuh dengan baik.

Selama kehamilan ukuran janin akan dipantau melalui beberapa cara, seperti:

  • Pertambahan berat badan ibu hamil

Peningkatan berat badan secara bertahap dan stabil merupakan salah satu cara untuk memperkirakan pertumbuhan janin.

  • Mengukur tinggi fundus

Dokter akan mengukur bagian atas tulang kemaluan hingga bagian atas rahim dengan menggunakan satuan ukur sentimeter.

Tinggi fundus hampir sama dengan jumlah minggu kehamilan setelah minggu ke-20, misalnya pada usia kehamilan 24 minggu tinggi fundus yang normal sekitar 24 sentimeter.

Baca juga: Kenali 9 Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir

Apabila tinggi fundus kurang dari jumlah minggu kehamilan maka kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa janin tidak tumbuh dengan baik.

  • Ultrasonografi (USG)

Dokter mungkin akan menggunakan USG kehamilan untuk memeriksa pertumbuhan dan perkembangan janin.

Pemeriksaan USG kehamilan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran kondisi janin.

Dibandingkan dengan mengukur tinggi fundus, pemeriksaan USG kehamilan jauh lebih akurat karena dapat memperkirakan berat badan bayi.

Sementara itu, setelah bayi dilahirkan dokter akan menimbang berat bayi dalam beberapa jam pertamanya dan akan dibandingkan dengan usia kehamilan.

Perawatan

Dirangkum dari University of Rochester Medical Center dan Healthline, metode penanganan BBLR akan disesuaikan dengan kondisi bayi secara keseluruhan.

Bayi dengan berat badan lahir rendah umumnya perlu dirawat di rumah sakit hingga berat badannya naik dan diizinkan untuk pulang.

Beberapa penanganan yang akan diberikan, seperti:

  1. Perawatan di unit perawatan intensif neonatal (NICU)
  2. Menggunakan tempat tidur dengan suhu terkendali
  3. Pemberian makan khusus, terkadang perlu diberikan melalui selang ke perut atau melalui infus, apabila bayi tidak dapat menyusu.

Baca juga: Mengenal TTN, Gangguan Pernapasan pada Bayi Baru Lahir

Jika bayi BBLR menderita komplikasi lain, misalnya paru-paru yang belum berkembang atau masalah pencernaan maka mereka memerlukan penanganan lebih lanjut.

Bayi BBLR juga harus tetap diberi air susu ibu (ASI) karena dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi.

Apabila ibu kandung tidak dapat memberikan ASI maka ASI dari donor juga dapat diberikan.

Sementara itu, pemberian susu formula dianggap sebagai pilihan nutrisi terakhir untuk mengatasi BBLR.

Komplikasi

Menurut University of Rochester Medical Center, bayi berat lahir rendah dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Kadar oksigen yang rendah saat lahir
  2. Kesulitan untuk mempertahankan suhu tubuh tetap hangat sesuai temperatur yang normal
  3. Sulit menambah berat badan
  4. Sulit menyusui
  5. Infeksi
  6. Masalah pernapasan, seperti sindrom gangguan pernapasan bayi
  7. Gangguan perkembangan paru-paru
  8. Gangguan pada sistem saraf, seperti perdarahan di dalam otak
  9. Gangguan pada sistem pencernaan, seperti peradangan usus yang serius atau necrotizing enterocolitis
  10. Sudden infant death syndrome (SIDS) atau sindrom kematian bayi mendadak.

Baca juga: 3 Cara Menjaga Si Kecil yang Baru Lahir Dari Paparan Virus dan Bakteri

Pada sebagian kasus, BBLR juga dapat menyebabkan bayi mengalami keterlambatan tumbuh kembang, kebutaan, tuli, dan cerebral palsy.

Pencegahan

Dirangkum dari What to Expect dan Stanford Children's Health, mencegah kelahiran prematur merupakan cara terbaik untuk mencegah bayi berat lahir rendah.

Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kelahiran prematur.

Selain itu, terdapat beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu dan janin selama kehamilan, serta mengurangi risiko bayi mengalami BBLR:

  • Konsumsi makanan sehat dan bergizi agar kebutuhan nutrisi ibu dan janin terpenuhi
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, atau menggunakan NAPZA
  • Konsultasikan kepada dokter mengenai riwayat kesehatan secara keseluruhan, termasuk riwayat melahirkan BBLR
  • Hindari konsumsi obat-obatan atau suplemen yang tidak diresepkan oleh dokter
  • Kelola stres dengan metode yang tepat
  • Menjalani vaksin flu guna mengurangi risiko komplikasi akibat flu untuk mengurangi risiko komplikasi akibat flu, termasuk BBLR.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.