Banyak Remaja Putri Idap Anemia

Kompas.com - 13/08/2008, 14:30 WIB
Editor

Surabaya, Kompas - Sebanyak 50-60 persen remaja putri di Jawa Timur mengidap anemia atau kekurangan darah merah. Penyakit ini dapat mengakibatkan gangguan dalam tumbuh kembang remaja putri, khususnya saat beranjak dewasa.

Demikian diutarakan Kepala Seksi Anak, Remaja, dan Usia Lanjut Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jatim Dian Islami pada seminar bertajuk "Remaja Sehat, Saatnya Beraksi" di Gedung Balai Pemuda, Selasa (12/8).

"Anemia merupakan penyakit yang tidak dirasakan remaja, baik putra maupun putri. Namun, pengidapnya lebih banyak perempuan karena perempuan jarang menjaga asupan makanannya dengan baik," kata Dian. Pada penelitian yang dilakukan di beberapa SMA dan SMK di tiga kabupaten, yaitu Probolinggo, Situbondo, dan Tulungagung, setidaknya enam dari 10 siswa yang dites mengidap anemia. Sementara di seluruh Indonesia, tingginya tingkat remaja putri mengidap anemia mencapai 60- 70 persen.

Dian mengatakan, anemia atau rendahnya kadar darah merah (hemoglobin) disebabkan kekurangan gizi atau ketimpangan gizi yang sering disebabkan kecerobohan remaja dan orangtua. "Perempuan begitu menginjak usia remaja cenderung ingin kurus, akhirnya mengadakan diet sendiri tanpa pengawasan, akibatnya mengidap anemia," tutur Dian.

Akibat mengidap anemia, konsentrasi dan aktivitas remaja putri akan terganggu. "Anemia menyebabkan remaja tidak bisa segar, tidak ceria, mudah merasa lemah, letih, dan lesu," kata Dian.

Oleh karena itu, agar terhindar dari penyakit anemia, remaja putri hendaknya mengatur pola makan dengan gizi yang baik dan terawasi apabila berdiet. Sel darah merah mudah didapatkan dari makanan berprotein tinggi, seperti daging merah, ikan, dan telur. Penyakit menular

Dian juga mengatakan, penyakit yang membayangi remaja tidak hanya terbatas pada anemia, tetapi juga penyakit menular seksual seperti AIDS, sifilis, hingga kanker serviks.

"Remaja dengan emosi yang cenderung meledak-ledak memiliki rasa ingin tahu begitu besar dan cenderung mencoba-coba, terutama dalam hal hormonal seksual," kata Dian. Itu sebabnya penyakit seksual rentan menjangkiti remaja.

Ia mencontohkan, sebanyak 30 persen pengidap HIV di Jatim berusia 24-30 tahun. Dengan masa inkubasi virus HIV 10 tahun, itu berarti setidaknya warga Jatim pada usia 14-20 tahun sudah mulai memiliki kontak dengan virus HIV.

Ahli kesehatan anak dan remaja dari Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, Azimatul Karim, mengatakan, untuk menanggapi perilaku remaja dan membekali pengetahuan baik dari segi kesehatan maupun segi pendidikan, perlu dilakukan komunikasi yang efektif. (DEE)

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.