Tiap Tahun 40.000 Bayi Idap PJB

Kompas.com - 16/12/2008, 05:03 WIB
Editor

JAKARTA, SENIN -  Setiap tahun sekitar 40.000 bayi yang dilahirkan di Indonesia mengidap penyakit jantung bawaan dan lebih dari separuh dari jumlah itu memerlukan tindakan operasi.Dari jumlah bayi sebanyak itu baru sekitar 1.000 bayi yang bisa dioperasi tiap tahun karena berbagai keterbatasan.

Direktur Pelayanan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Anna Ulfah Rahayoe, yang ditemui Senin (16/12), menjelaskan, ribuan bayi dengan PJB meninggal di bawah usia satu bulan karena tidak tertangani. ”Saat ini di seluruh Indonesia baru ada 25 ahli jantung anak dan hanya empat orang ahli bedah jantung anak,” kata Anna.

Menurut Anna, empat jenis PJB anak usia 0-16 tahun yang paling banyak terjadi adalah Patent Ductus Arteriosus (PDA), Atrial Septal Defect (ASD), Ventricular Septal Defect (VSD), dan Tetralogi of Fallot (TOF). Sekitar 70 persen tindakan operasi dilakukan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

Banyak anak korban PJB meninggal, tetapi tidak terdeteksi dan dikira menderita penyakit gangguan pernapasan. Jumlah anak pengidap PJB mencapai 8 bayi dari setiap 1.000 kelahiran.

Meskipun demikian, Anna optimistis bahwa peningkatan penanganan PJB terus membaik.

Kasus sulit

Menyinggung pendarahan yang dialami Claudia Kristina Putranto (2) asal Cilacap, Jawa Tengah, Anna Ulfah Rahayoe menjelaskan, operasi yang dilakukan tergolong kasus TOF yang sulit. ”Posisi jantung pasien melintir sehingga pembuluh darah ke paru juga tidak tumbuh. Tindakan operasi yang diambil sangat sulit dan sudah mendapat persetujuan orang tua pasien,” kata Anna.

Menurut Anna, banyak jaringan pembuluh jantung Claudia yang melekat pascaoperasi pertama yang diadakan November 2007. Operasi yang diadakan pekan lalu sudah memenuhi semua prosedur medis. Namun, kondisi pasien memang lemah sehingga terjadi pendarahan.

Tim dokter, lanjut Anna, tengah memantau kondisi otak Claudia. Organ tubuh lain sudah distabilkan dan mulai berfungsi normal. Ditemui terpisah, Toto, ayah Claudia, mengatakan, dirinya masih bingung menghadapi nasib anak keduanya.

Secara terpisah, Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pusat Agus Purwadianto menyatakan, sampai saat ini pihaknya masih belum menerima pengaduan mengenai kasus dugaan malapraktik terhadap pasien Claudia. ”Secara kelembagaan, kami sifatnya menunggu jika ada pihak yang melaporkan kasus dugaan malapraktik,” kata Agus menjelaskan. (ONG/EVY)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.