Kenali Gejala Alergi Susu Sapi

Kompas.com - 14/01/2009, 19:22 WIB
Editor

JAKARTA, RABU - Kasus alergi dalam satu dekade terakhir ini diperkirakan para ahli telah mengalami peningkatan. Alergi susu sapi merupakan bentuk alergi makanan yang paling sering ditemukan pada anak berusia kurang dari dua tahun, dan diperkirakan 2-7,5 persen anak pada kelompok umur ini mengalami alergi protein susu sapi.

Karena itu workshop bagi para dokter anak mengenai tata laksana alergi susu sapi akan diadakan di empat kota yaitu Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya sepanjang bulan Januari 2009 dan akan diikuti oleh 325 dokter spesialis anak bekerja sama dengan IDAI di masing-masing daerah.

"Kami menyadari, tenaga medis memegang peran sangat penting bagi kesehatan bayi dan anak, termasuk dokter anak. Oleh karena itu, kami selalu ikut berpartisipasi aktif dalam meningkatkan pengetahuan, wawasan serta kualitas para dokter anak dalam memberi pelayanan kesehatan prima bagi bayi dan anak," ujar Presiden Direktur Mead Johnson Indonesia Martin Ibarreche.

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto A D Pasaribu menyatakan, kasus alergi terhadap anak perlu tata laksana yang standar. Melalui workshop itu, diharapkan para tenaga medis, terutama dokter anak, dapat memberi penanganan yang cepat, tepat dan komprehensif. Penatalaksanaan alergi pada anak, khususnya alergi susu sapi, perlu ada standarisasi, ujarnya.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr Badriul Hegar alergi susu sapi sering ditemukan pada anak usia di bawah tiga tahun, terutama di bawah usia 12 bulan. Hal ini dihubungkan dengan pematangan sistem saluran cerna. Gejala klinis paling sering terlihat adalah gangguan saluran cerna (50-80 persen), mulai dari muntah , diare berlanjut yang kadang-kadang disertai darah, konstipasi atau sembelit, bahkan bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

Karena gejalanya bisa beragam atau tidak terlalu spesifik, maka banyak orangtua maupun tenaga kesehatan sulit mendiagnosis terjadinya alergi susu sapi. Cara paling mudah adalah, dengan melakukan tes alergi dan memantau adanya penyimpangan dibanding anak normal. Sebagai contoh, bila seorang anak terus menderita diare meski telah diobati selama lebih dari seminggu, maka harus dicurigai apakah anak tersebut alergi, kata Badriul.

Penanganan dasar dan efektif untuk alergi protein susu sapi adalah dengan menghindari protein susu sapi atau produk turunannya, ujarnya menambahkan. Selama penanganan alergi susu sapi, pemberian air susu ibu atau ASI kepada bayi yang menderita alergi tersebut tidak boleh dihentikan terutama selama masa pemberian ASI eksklusif pada saat bayi berusia 0-6 bulan.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.