Waspadai Alergi Susu Sapi

Kompas.com - 15/01/2009, 00:59 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Para orangtua perlu mewaspadai adanya alergi susu sapi pada anak, terutama di bawah usia 12 bulan. Bila tidak ditangani sejak dini, hal itu akan mengganggu tumbuh kembang anak.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Badriul Hegar dalam diskusi, Rabu (14/1) di Jakarta, angka kasus alergi dalam satu dekade terakhir ini diperkirakan meningkat.

Penyebabnya antara lain makanan dan susu sapi. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko alergi adalah riwayat keluarga alergi, paparan terhadap tungau dan debu rumah, serta pemberian makanan padat atau susu sapi sebelum bayi berusia 6 bulan.

Alergi susu sapi paling sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 2 tahun dengan prevalensi 2-7,5 persen dari anak kelompok umur ini. ”Alergi susu sapi sering ditemukan pada anak di bawah usia tiga tahun, terutama kurang dari 12 bulan. Ini terkait pematangan sistem saluran cerna,” kata Hegar.

Gejala klinis paling sering terlihat adalah gangguan saluran cerna (50-80 persen), mulai dari muntah, diare berlanjut—kadang disertai darah, sembelit, bahkan mengganggu pertumbuhan badan anak. Gejala lain, dermatitis atopik seperti bintik-bintik merah dan gatal, serta saluran napas—batuk berulang dan asma.

Dokter spesialis anak dari RSUP Angkatan Darat Gatot Subroto AD Pasaribu menambahkan, gejala alergi susu sapi bervariasi sehingga awalnya kerap didiagnosis sebagai infeksi. ”Karena itu, kemampuan penanganan alergi susu sapi di kalangan petugas kesehatan perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Sumber alergen

Penanganan dasar dan efektif alergi protein susu sapi adalah menghindari protein susu sapi atau produk turunannya. Untuk itu, perlu makanan pengganti mengandung protein, tetap memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi tidak menimbulkan reaksi alergi. Salah satunya adalah memberi protein susu sapi yang dihidrolisis secara penuh.

Kecurigaan alergi protein susu sapi bukan alasan menghentikan pemberian ASI pada bayi. Bila dicurigai ada alergi, sang ibu harus memerhatikan asupan makanannya—menghindari susu sapi dan produk turunannya.

Beberapa laporan menunjukkan reaksi silang antara protein susu sapi dan makanan lain, seperti telur, soya, atau kacang kedelai. ”Setelah beberapa waktu, orangtua perlu memperkenalkan kembali susu sapi secara bertahap,” kata Hegar. (EVY)

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.