Empat Juta Orang Menderita GERD

Kompas.com - 05/05/2009, 04:55 WIB
Editor

 

Jakarta, Kompas - Belum banyak orang Indonesia yang mengetahui tentang GERD atau gastroesophageal reflux disease. Umumnya penyakit yang berkaitan dengan asam lambung selalu dikira sebagai dispepsia atau mag. Padahal, GERD adalah penyakit kronik yang bisa mengakibatkan kanker kerongkongan atau kanker lambung. Di Indonesia diperkirakan ada empat juta orang menderita GERD.

”Asam lambung bisa naik dan mengakibatkan perlukaan di kerongkongan. Lama-lama bisa menjadi kanker kerongkongan,” kata dokter ahli penyakit dalam dan konsultan penyakit lambung dan pencernaan Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr H Ari Fahrial Syam SpPD di Jakarta, Senin (4/5).

GERD merupakan kondisi adanya aliran balik dari isi lambung ke kerongkongan yang menyebabkan gejala yang mengganggu hingga terjadinya komplikasi.

Aliran balik asam lambung ke kerongkongan tidak hanya menjadi pemicu sindrom GERD (seperti naiknya aliran isi lambung ke kerongkongan atau regurgitasi ataupun nyeri dada seperti terbakar, heartburn) tetapi juga menyebabkan luka pada kerongkongan atau esofagitis. Alir balik isi lambung ini juga dilaporkan bisa menyebabkan atypical syndrome (seperti asthma reflux) yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan sulit diobati.

Komplikasi lain

GERD yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan terjadinya komplikasi, antara lain penyempitan kerongkongan, pendarahan kerongkongan dan kondisi yang disebut Barrett’s esophagus (terjadi pembentukan jaringan pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus). Jika hal ini terjadi, perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan.

”Saat ini di Indonesia belum ada angka yang pasti mengenai jumlah penderita GERD, tetapi dari hospital base yang dapat ditelusuri ada sekitar 20 persen dari total pasien yang datang ke Departemen Ilmu Penyakit Dalam menyampaikan keluhan gejala GERD dari ringan hingga parah,” kata dr Ari.

Faktor risiko penyakit GERD ini antara lain obesitas, tidur telentang seusai makan, merokok, alkohol, kopi, dan stres.

”Kopi meningkatkan asam lambung, begitu juga stres. Jika ada sesuatu yang tidak beres di otak, otak memerintah lambung untuk memproduksi asam lambung,” kata dr Ari.

Dokter Mary Josephine dari PT AstraZeneca Indonesia mengatakan, dibandingkan dengan negara lain di Asia, Filipina 17 persen dan Taiwan 13 persen, maka hanya sekitar 1 persen penduduk Indonesia yang mengenal apa itu GERD walaupun mereka sebenarnya telah menderita GERD selama bertahun-tahun.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai GERD, masyarakat bisa mengakses situs web http://www.asamlambung. com di mana ada konsultasi secara online. (LOK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.