Dokter dan Pasien Itu Sejajar

Kompas.com - 13/08/2009, 22:07 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Hal yang kerap dikeluhkan pasien saat berobat adalah sikap dokter yang enggan berkomunikasi secara intens. Setelah mendengarkan keluhan pasien, lalu tanya sekadarnya, dokter langsung memberikan resep. Kondisi ini semakin parah ketika perawat mengambil sikap cuek. Senyumnya disembunyikan, membuat pasien yang datang untuk dapat perhatian lebih, malah pulang dengan jengkel.

"Pasa saat itu terjadi maka usaha untuk menjalin komunikasi yang terjalin, antara dokter dan pasien, gagal total," kata Dr M Nasser SpKK.D.Law, dalam seminar bertajuk "Hukum Medik" di RS Gading Pluit, Jakarta, Kamis (13/8). Sikap tenaga medis yang demikian, menurut Nasser, mengindikasikan bahwa mereka masih melihat pasien sebagai subordinatnya. Hal seperti ini harus ditinggalkan.

"Dokter dan pasien adalah mitra, ekual. Kalau merasa lebih tinggi maka yang akan terjadi tidak hanya tak mau bicara tapi bisa melanggar hak asasi," tutur dokter yang juga Ketua Pusat Studi Bioetik dan Hukum Kesehatan ini.

Lebih jauh, dalam seminar yang banyak dihadiri dokter dan praktisi hukum itu, Nasser juga mengangkat tanggung jawab rumah sakit di saat pasien bertambah parah oleh karena reaksi obat. Dalam kasus ini, baik pasien, dokter, maupun rumah sakit tidak ada yang salah. Namun yang sering terjadi, kata Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia ini, baik dokter maupun rumah sakit diam saja. Akibatnya, pasien tinggal lebih lama di rumah sakit dan biaya perawatannya membengkak.

"Mereka tidak boleh diam saja. Dokter dan rumah sakit harus jujur. Ini tidak boleh ditimpakan ke pasien," tuturnya. Untuk itulah, Nasser menekankan, untuk ke depan rumah sakit mesti membenahi tata kelolanya. Posisi pasien sejajar dengan dokter dan rumah sakit sehingga komunikasi terjalin baik. Maka hal-hal di atas bisa diminimalisasi. "Karena sebetulnya, kita eksis karena pasien. Kita ada karena pasien ada," tandasnya secara terbuka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.