Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Diminta Dukung Pengembangan Obat Herbal

Kompas.com - 10/09/2009, 20:39 WIB
Editor

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPJI) minta pemerintah mendukung pengembangan obat herbal berbahan baku sumber daya hayati yang banyak terdapat di Indonesia.
     
"Kami minta ada dukungan nyata dari pemerintah dalam pengembangan obat herbal, terutama yang berbahan baku lima tanaman unggulan seperti jahe, temulawak, kencur, pegagan, dan sambiloto," kata Ketua GPJI, Dr Charles Saerang di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, dukungan tersebut dapat berupa pengujian klinis agar tanaman itu diakui di dunia sebagaimana gingseng dari Korea.

"Upaya ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak hanya sekedar punya tanaman obat, namun tanaman itu menjadi komoditi unggulan dan terkenal," katanya.

Ia mengatakan selain itu pemerintah pusat dan daerah dapat mendukung dengan memasukkan obat herbal dalam pengobatan di klinik-klinik kesehatan terutama milik pemerintah.

"Jika pemerintah melalui Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan bersedia memasukkan obat herbal dalam pengobatan, kami yakin ini akan mendorong pengembangan obat herbal," katanya.

Charles mengatakan saat ini baru Dinas Kesehatan Jawa Tengah yang telah memasukkan obat herbal dalam pengobatan di puskesmas, dan ini merupakan terobosan yang positif.

Selain itu, menurut dia, pemerintah pusat dan daerah sebenarnya bisa mengambil kebijakan dengan mewajibkan setiap instansi mengganti minuman pegawai dengan minuman berbahan baku tanaman obat tersebut.

"Jika pemerintah mewajibkan setiap Jumat para pegawai harus mengenakan pakaian batik, tentunya pemerintah dapat mewajibkan mengganti minuman teh maupun kopi dengan minuman jahe, asem Jawa atau beras kencur yang memiliki khasiat bagi kesehatan," katanya.
     
Jika kebijakan tersebut dapat terwujud, tentu petani tanaman obat tidak lagi kesulitan dalam memasarkan produk tanamannya.

Ia mengatakan selain itu pemerintah juga dapat mendorong perlu dibuka program pendidikan pengobatan yang menggunakan bahan baku alami di perguruan tinggi, untuk lebih mengembangkan tanaman obat secara ilmiah.

"Saat ini baru satu perguruan tinggi yang telah membuka program pendidikan pengembangan tanaman obat yakni UGM (Universitas Gadjah Mada), meskipun baru tingkat diploma tiga," katanya.

Sedangkan di Taiwan saat ini sudah ada 21 perguruan tinggi yang mengembangkannya, begitu pula Malaysia telah melakukan hal yang sama," katanya.
     
Ia mengatakan dengan langkah seperti itu nantinya tidak ada lagi benturan antara pengobatan modern dan pengobatan yang menggunakan tanaman obat, karena masing-masing memiliki disiplin ilmu sendiri.

"Diharapkan nantinya dapat berjalan beriringan antara klinik kesehatan modern dan klinik kesehatan yang menggunakan tanaman obat, dan tentunya dengan tenaga medis yang telah menggeluti disiplin ilmu masing-masing," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+