Obesitas Ditentukan dari Ukuran Lingkar Pinggang

Kompas.com - 23/10/2009, 09:18 WIB
Editor

KOMPAS.com - Umumnya berat badan ideal seseorang tercapai di masa remaja, dan perlahan akan bertambah sejalan bertambahnya usia. Fakta lain yang agak menyebalkan, karena tubuh ternyata mampu menyimpan lemak dalam jumlah tidak terbatas. Jadi, seberapa banyak pun lemak yang masuk, tubuh siap menampung. Lemak yang berlebih, biasanya menumpuk di sekitar perut. So pasti, bukan pemandangan yang mengasyikkan.

"Kenaikan berat badan terjadi bila kita mengonsumsi lebih banyak kalori daripada jumlah yang dibutuhkan setiap hari. Kelebihan kalori inilah yang tersimpan dalam tubuh dan menjadi lemak," kata dr Samuel Oentoro, selaku ahli gizi klinik.

Menurutnya, faktor pemicu kegemukan adalah faktor genetik atau keturunan. Selain itu, faktor lingkungan pun memberi pengaruh bagi kegemukan, ini menyangkut perilaku dan pola gaya hidup. Dan faktor psikis juga ikut ambil bagian. "Misalnya orang yang sedang mengalami stres dan melampiaskan emosi dengan makan tanpa batas," tambahnya.

Cara mengukur
Jumlah lemak tubuh yang normal untuk pria dewasa berkisar 10-20% dari berat badannya, dan untuk perempuan dewasa sekitar 25%. Untuk mengetahui dengan cepat apakah Anda menyimpan lemak berlebih, cobalah mencubit daging di perut Anda tepat di atas pusar. Bila jarak antara ibu jari dengan telunjuk lebih dari 2,5 cm, maka Anda termasuk obesitas.

Atau, untuk menentukan apakah Anda mengalami besar di sekitar perut, ukur lingkar pinggang dengan mencari titik tertinggi di tulang pinggang, lalu ukur lebarnya. Seorang pria yang berlingkar pinggang lebih dari 102 cm (Indonesia 90 cm) dan perempuan lebih dari 88 cm (Indonesia 80 cm), menunjukkan faktor risiko tinggi kena penyakit. Apalagi, bila IMT-nya (Indeks Masa Tubuh) adalah 25 atau lebih.

Di sekitar perut inilah, lokasi dari sebagian besar lemak yang tersimpan pada tubuh. Orang yang besar di bagian pinggang dan perut sering disebut obesitas tipe "apel", sedangkan pada tipe "pir" lemak berkumpul di bawah pinggang, sekitar pinggul dan paha.

Dengan lemak berkumpul di sekitar pinggang, obesitas tipe "apel" berisiko lebih tinggi terkena hipertensi dan penyakit lainnya seperti diabetes, jantung koroner, dan stroke. Hal ini dimungkinkan karena lemak di rongga perut lebih mudah diuraikan, sehingga menumpuk di arteri.

Lemak yang menumpuk di rongga perut ternyata lebih berbahaya daripada lemak di bagian bokong atau paha. Pasalnya, lemak di perut memiliki sel-sel lemak yang lebih besar, sehingga terjadi penumpukan lemak yang berlebihan di jaringan adiposa, dan akhirnya menghasilkan protein berbahaya.

 

(Aryani/CHIC)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.